Terkendala Pakan, Peternak Lebah Kewalahan Penuhi Permintaan Pasar

Editor: Makmun Hidayat

369

BEKASI — Pondok Lebah, sebuah perusahaan yang bergerak dibidang peternakan madu di Kota Bekasi, mengaku kewalahan memenuhi permintaan pasar. Pasalnya, dalam setahun hanya mampu memproduksi madu 10 ton sementara permintaan pasar mencapai 15 ton.

“Dalam memenuhi permintaan pasar, maka kami mengambil ke peternak madu yang belum memiliki pasar. Inginnya, kebutuhan pasar bisa dipenuhi sendiri oleh Pondok Lebah, tetapi kendala pakan menjadikan produksi menurun derastis sejak beberapa tahun terakhir,” ujar peternak lebah Pondok Lebah, Setiyono, Selasa (11/9/2018).

Menurutnya, kekurangan pakan lebah, dikarenakan ketidakmampuan pelaku peternak dalam mengendalikan tanaman yang mengandung pestisida, lazim digunakan petani untuk menghalau hama terhadap berbagai jenis tanaman seperti kacang panjang, jagung, padi, dan lainnya. Hal itu imbuhnya, tentu tidak dapat dimanfaatkan bunganya oleh lebah.

“Seperti tanaman jagung, sebenarnya cukup bagus untuk madu lebah, tetapi oleh sebagian besar petani, selalu menggunakan pestisida untuk menghalau hama, maka tidak bisa dimanfaatkan untuk lebah. Jika lahan itu digunakan lokasi ternak lebah maka lebah akan mati,” ujar Setiyono.

Dikatakan, ternak lebah berbeda dengan ternak unggas lainnya, ternak lebah untuk mencarikan makan harus ke dialam bebas. Lebah memakan nektar dan bepollen yang terkandung di alam bebas. Oleh karenanya kehidupan lebah berpindah-pindah mengikuti musim bunga, mengingat tidak ada areal yang berbunga sepanjang hari. Artinya, imbuh dia, peternak secara tidak langsung sudah mengambil alih fungsi lebah, untuk melakukan survei lokasi yang dikira bagus untuk pakan lebah.

“Peternak akan melakukan survei ke berbagai lokasi yang dianggap bagus untuk pakan lebah, seperti survei ke wilayah Subang, Garut dan Jawa Tengah, untuk menemukan perkebunan buah untuk dijadikan pakan lebah seperti perkebunan rambutan atau karet. Maka lebah yang masih berada di Jawa akan dipindah ke lokasi yang masih berbunga untuk diternak, yang telah dibuatkan tempat khusus,” jelasnya.

Pemilik Pondok Lebah memperlihatkan lokasi produksi madu, cukup sederhana di salah satu ruamgan rumahnya – Foto: M. Amin

Artinya, lanjut dia, lebah meskipun diternak kehidupannya tetap liar. Karena lebah ini hidup berkoloni, saat dilepas, dia tidak akan salah masuk kedalam koloninya masing masing karena setiap ratu mempunyai aroma. kalau bukan warga koloni maka akan ada yang mengusir. Lebah dibagi menjadi tiga kasta, ada pekerja lapangan, satpam dan ratu yang kerjanya hanya bertelur.

“Lebah harus diternak karena usia lebah ini hanya 60 hari, dari waktu bertelur sampai bisa terbang waktunya satu bulan. Hal itu untuk menjaga kelestariannya, dari pemburuan liar yang disebut madu liar. Karena pola berburu madu liar itu, akan menghabiskan satu generasi, jika terus dilakukan maka populasi lebah terus berkurang dan habis,” tegas mantan develover ini.

Harus Ada Campur Tangan Pemerintah

Dalam menjaga populasi lebah di Indonesia, Setiyono mengatakan harus ada campur tangan pemerintah pusat dan daerah, terutama Perhutani. Dikatakan, selama ini, madu di Indonesia 60 persen masih di import dari luar, padahal alam agro Indonesia cukup mendukung. Pemerintah harus melakukan sosialisasi pentingnya menjaga populasi lebah dengan cara diternak bukan diburu secara liar.

Ia mencontohkan seperti Thailand, adanya campur tangan pemerintah melakukan pengelolaan perkebunan buah seperti kelengkeng. Dan oleh peternak lebah perkebunan itu dimanfaatkan hingga menghasilkan madu lebah luar biasa dan bisa diekspor ke Indonesia.

“Organisasi Perlebahan di Indonesia, sebenarnya sudah ada, anggota kebanyakan dari Perhutani sendiri. Tetapi sampai sekarang belum ada tindakan konkrit dalam mengelola perkebunan buah dan lainnya untuk bisa dimanfaatkan. Peternak Lebah, akan jaya jika ketersediaan pangan memadai dan pasti akan membuka peluang baru bagi masyarakat,” ujarnya seraya mengatakan selama ini pengusaha madu mencari cara gampang dengan impor dari luar.

Harusnya imbuh dia, ada langkah konkret dalam pengelolaan perkebunan seperti PTP yang selama ini konsen dengan perkebunan karet. Karena peternak lebah, panennya musiman dalam setahun hanya 5 bulan masa panen, dengan memanfaatkan bunga seperti dari perkebunan Karet di Sumedang, randu di Jawa Tengah. Lebah secara tidak langsung telah membantu penyerbukan.

Pondok Lebah Beri Edukasi

Pondok Lebah perusahaan yang menjadi pusat peternakan lebah di Komplek Perumahan Nasio , Kelurahan Jati Mekar, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, menyediakan ruang khusus untuk mengenalkan lebah kepada anak TK di lingkungan dan luar komplek Nasion. Tujuannya untuk mendidikasikan kelestarian lebah madu beserta tanaman yang merupakan sumber nektar (madu) dan tepung sari.

Setiyono, memperlihatkan madu dalam kemasa produk Pondok Lebah yang sudah dipasarkan – Foto: M. Amin

“Pondok Lebah, memberikan edukasi khusus kepada anak TK di Kota Bekasi, seperti bagaimana pola memanen madu yang benar, khasiat madu serta peran penting lebah terhadap kelestarian alam. Di sini mereka bisa melihat bahwa lebah tidak menyerang manusia. Dan kalau pun menyerang manusia itu karena kepencet atau karena aroma tubuh menyengat. Saya selalu sampaikan masuk mendekati lebah tidak boleh mengenakan parfum,” jelas Setiyono.

Ia juga mengaku, sistem pemasaran Pondok Lebah, saat ini memiliki empat kios berlokasi di Pinang Ranti Jakarta Timur, dan Komplek Nasio Kota Bekasi, dan dua lagi di Bojonegoro. Sisanya dipasarkan dengan sistem kerjasama dengan toko yang mau menjual madu Pondok Lebah melalui sistem konsinyasi, dan jual putus dan ada juga sitem penjualan secara online dikelola langsung dari Pusat Produksi Pondok Lebah.

Sistem beternak lebah madu di Pondok Lebah, sudah sesuai dengan standar nasional dengan dibantu peralatan modern, sehingga hasil produksi Lebah berkualitas dan higienis. Produk madu Pondok Lebah antara lain, madu bunga randu, madu bunga karet, bunga kelengkeng, madu multiflora dan madu super plus pollen.

“Alhamdulillah saat ini, omset pertahunnya bisa mencapai Rp1,5 miliar. Artinya sebulan omsetnya, Rp.130 juta hingga Rp.150 juta. Sistem ternak ternak hanya dilakukan kerjasama, hanya memberi komisi sukarela kepada pemilik lahan, Kerjasama saling menguntungkan perjanjian lokasi yang ditempati lebah, satu musim Rp500 ribu. Dan saat panen maka akan mengikutserta masyarakat sekitar,” pungkas Setiyono.

Baca Juga
Lihat juga...