hut

The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga

Ilustrasi/Foto: Dokumentasi CDN.

WASHINGTON – Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), kembali menaikkan suku bunga jangka pendeknya, menjadi seperempat persentase atau 25 basis poin. Kebijakan tersebut menjadi yang ketiga kalinya, yang dilakukan tahun ini.

Kebijakan tersebut juga menjadi langkah kedelapan yang telah diambil sejak akhir 2015. “Mengingat realisasi dan ekspektasi kondisi-kondisi pasar kerja dan inflasi, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan untuk menaikkan kisaran target untuk suku bunga federal fund (FFR) menjadi 2,00 persen hingga 2,25 persen,” kata bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut, dalam sebuah pernyataan setelah mengakhiri pertemuan dua hari, Kamis (27/9/2018).

The Fed mengatakan, pasar tenaga kerja AS terus menguat, dan kegiatan ekonomi telah meningkat pada tingkat yang kuat. Belanja rumah tangga dan investasi bisnis juga mengalami pertumbuhan tinggi. Inflasi maupun apa yang disebut inflasi inti untuk barang-barang selain makanan dan energi, mendekati target bank sentral sebesar 2,00 persen.

Diperkirakan, ekonomi AS akan tumbuh 3,1 persen di tahun ini, lebih tinggi dari 2,8 persen yang diperkirakan pada Juni. Kondisi tersebut menurut proyeksi ekonomi terbaru The Fed yang dirilis pada Rabu (26/9/2018). Pertumbuhan ekonomi yang solid, dan tingkat pengangguran yang menurun, cenderung menjaga The Fed pada jalur stabil, menuju pengetatan kebijakan moneter. “Hal itu dilakukan, untuk mencegah ekonomi AS dari overheating (terlalu panas),” kata para analis.

Pejabat-pejabat The Fed memperkirakan, akan ada satu kali lagi kenaikan suku bunga di tahun ini. Sementara sebagian besar pelaku pasar memperkirakan, bank sentral Amerika Serikat masih akan menaikkan suku bunga lagi pada pertemuan kebijakan Desember. Bank sentral AS, pada Rabu (26/9/2018) juga mengurangi penggunaan kalimat, sikap kebijakan moneter tetap akomodatif, dari pernyataannya. Tetapi Ketua The Fed, Jerome Powell, mengecilkan arti penting dari perubahan tersebut.

“Ini tidak menandakan perubahan dalam kebijakan. Sebaliknya, itu adalah tanda bahwa kebijakan berjalan sesuai dengan harapan kami. Kami masih berharap, sesuai pernyataan yang kami katakan, peningkatan lebih lanjut secara bertahap dalam kisaran target untuk suku bunga fed fund,” kata Powell.

Sementara itu, emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange, turun pada akhir perdagangan Rabu (26/9/2018) atau Kamis (27/9/2018) pagi Waktu Indonesia Barat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh nilai dolar AS yang menguat dan kebijakan The Fed menaikkan suku bunga jangka pendeknya tersebut.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember, turun 6,0 dolar AS atau 0,5 persen, menjadi ditutup pada 1.199,1 dolar AS per ounce. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama rivalnya, naik 0,08 persen menjadi 94,15 pada pukul 17.30 GMT. Emas biasanya bergerak di arah berlawanan dengan dolar AS, yang berarti jika dolar AS menguat, maka emas berjangka akan turun. Hal itu dikarenakan, emas yang dihargakan dalam dolar AS, menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya.

Sebelumnya, harga emas berjangka telah naik selama dua hari berturut-turut, ditopang dolar AS yang melemah, menjelang keputusan suku bunga The Fed. Adapun logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun 9,2 sen AS atau 0,63 persen, menjadi 14,401 dolar AS per ounce. Platinum untuk penyerahan Januari 2019 naik 2,9 dolar AS atau 0,35 persen, menjadi ditutup pada 829,1 dolar AS per ounce. (Ant)

Lihat juga...