Tidak Ada Penggantian Prasasti SBY di Bandara LIA

Editor: Mahadeva WS

213
Gubernur NTB, Zainul Majdi/foto : Turmuzi

MATARAM – Gubernur Nusa Tenggara Barat, Zainul Majdi membantah, isu penggantian nama Bandar Udara (Bandara) Lombok Internasional Airpot (LIA), dengan nama pahlawan nasional asal NTB, Zainuddin Abdul Madjid, dibarengi dengan penggantian prasasti peresmian yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Berita penggantian prasasti bandara LIA yang ditandatangani bapak SBY itu hoax, tidak pernah terfikir sampai ke situ, bagaimanapun itu berkat jasa pak SBY,” terang Majdi, Kamis (13/9/2018).

Ada dua hal yang berbeda dalam persoalan tersebut. Prasasti yang ditandangani SBY, adalah tentang peresmian operasional bandara LIA. Sementara kalau nanti ada prasasti kedua, oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), itu menyangkut perubahan nama bandara, ini dua hal yang berbeda.

Mengenai adanya protes dan penolakan dari sebagian masyarakat, terkait pergantian nama Bandara LIA, dengan nama pahlawan nasional Zainuddin Abdul Madjid, prinsipnya kewenangan pemberian nama bandara merupakan kewenangan pemerintah pusat melalui Kemenhub. “Daerah hanya memiliki kewenangan mengusulkan, dan penggantian nama bandara LIA juga sebenarnya relatif tidak ada perdebatan panjang di pusat, karena NTB memang memiliki satu orang pahlamawan nasional,” jelasnya.

Pemberian gelar Pahlawan nasional telah dilakukan melalui proses verifikasi lengkap dan panjang. Baik menyangkut pribadi, kiprah dan perjuangan, sehingga ditetapkan dan diabadikan menjadi nama bandara. “Sebagai warga NTB, sikap kita harus mengapresiasi, karena putra NTB yang telah menjadi milik Indonesia diabadikan menjadi nama bandara sebagaimana juga dengan bandara di daerah lain,” tandasnya.

Madji menyebut, perlu diingat kalau bicara etnis, Zainuddin Abdul Madjid adalah putra suku Sasak. Walaupun ada pembagian kewilayahan menjadi kabupaten dan kota, semua warga Sasak, jangan bicara si Fulan bukan dari tanah, maka tidak boleh namanya diabadikan di tanah ini. “Beliau adalah milik Indonesia dan sudah pantas mendapatkan apresiasi tersebut,” tegas Majdi.

Sebelumnya sejumlah elit partai Demokrat juga termasuk Ketua Umum Partai Demokrat yang juga mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono menanggapi adanya perubahan nama bandara LIA, dengan nama pahlawan nasional Zainuddin Abdul Madjid yang merupakan kakek dari Gubernur NTB.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Syarif Hasan menyebut, Presiden Jokowi memiliki kewenangan merubah nama bandara LIA. Kendati demikian, diyakininya, perubahan nama tersebut tidak akan menghilangkan catatan sejarah, keberadaan Bandara LIA berkat jasa Presiden SBY, dan masyarakat NTB juga tidak akan melupakan itu.

Baca Juga
Lihat juga...