Tiga Persoalan Lingkungan Pemkab Pesisir Selatan

Editor: Satmoko Budi Santoso

207

PESISIR SELATAN – Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, melihat ada tiga persoalan lingkungan yang ada di daerah setempat, yang perlu menjadi perhatian khusus untuk dituntaskan, seperti persoalan banjir, pengelolaan sampah dan pencemaran permukaan perairan.

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni mengatakan, sejauh ini solusi yang ditemukan dari tiga persoalan tersebut perlu adanya upaya pengurangan dan pengelolaan sampah plastik. Upaya tersebut merupakan langkah nyata Pemkab yang harus diwujudkan, agar lingkungan di Pesisir Selatan benar-benar terbebas dari persoalan yang berkepanjangan.

“Untuk melakukan ini kita perlu melibatkan masyarakat yakni mengelola sampah seperti yang dilakukan di Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh. Masyarakat secara partisipatif mengumpulkan sampah, terutama sampah plastik yang dibuang ke laut,” katanya, Rabu (12/9/2018).

Ia mengaku, Pemkab Pesisir Selatan fokus untuk persoalan tersebut, apalagi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI akan memberikan penghargaan kepada kepala daerah yang mempunyai kepemimpinan kuat menjaga lingkungan demi kesejahteraan masyarakat. Direncanakan, penghargaan diserahkan langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo.

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni/Foto: M. Noli Hendra

Hendrajoni juga menyebutkan, Pemkab Pesisir Selatan untuk banjir, dirinya perlu menangani persoalan genangan air di kawasan pusat kota yang sering terjadi ketika hujan turun dengan intensitas lebat. Ada beberapa titik yang sudah dideteksi terjadinya penyebab genangan air di kawasan pusat Kota Painan.

“Di pusat kota Painan saja sering terjadi genangan air. Untuk mengatasi persoalan itu, dan agar terbebas dari genangan air ketika musim hujan tiba, maka beberapa titik lokasi yang drainasenya tersumbat mendapat perhatian untuk dilakukan penanganan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, meskipun Kota Painan merupakan kota yang kecil, karena merupakan ibu kota Kabupaten Pesisir Selatan, persoalan lingkungan perlu jadi perhatian juga. Hal demikian perlu dilakukan supaya kondisi aman dan nyaman tetap terjaga dari persoalan lingkungan.

“Kesemrawutan ini juga bisa ditimbulkan oleh penyumbatan drainase. Sebab bila hujan sedikit saja, jalanan akan dipenuhi dengan genangan air yang disertai dengan onggokan-onggokan sampah yang tidak karuan. Ini jelas akan menimbulkan ancaman penyakit bagi warga,” katanya, belum lama ini.

Untuk Hendrajoni meminta kepada dinas terkait untuk segera turun ke lapangan melakukan penanganan. Menurutnya, pusat kota perlu menjadi perhatian bersama. Apalagi Kota Painan telah meraih penghargaan Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup RI yang menandakan bahwa lingkungan di Kabupaten Pesisir Selatan benar-benar bersih.

Apalagi daerah Pesisir Selatan merupakan daerah kunjungan wisatawan. Maka dari itu keindahan ibu kota harus mendapat perhatian utama. Untuk itu Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan akan terus mempercantik lingkungan kota, supaya menjadi kota yang nyaman.

Ia menjelaskan sejauh ini salah satu upaya yang tengah dilakukan saat ini adalah melalui pembangunan alun-alun kota di depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Zein Painan. Sepeti halnya pada tahap awal ini, Pemkab setempat telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1 miliar untuk merelokasi pedagang yang berada di depan seberang jalan RSUD M Zein Painan.

“Hal itu kita lakukan, karena pada kawasan tersebut akan dibangun drainase yang sekaligus dilakukan pelebaran jalan. Cara itu dinilai tepat untuk mengatasi persoalan genangan air di pusat kota,” ungkapnya.

Begitu juga untuk memberikan kenyamanan bagi pengendara dalam mengantisipasi kemacetan, Pemkab Pesisir Selatan juga akan menambah keindahan kota. Sebut saja pada kawasan seluas 2 hektare antara Masjid Agung Baiturahman dengan RSUD M Zein Painan tersebut, akan dikembangkan menjadi kawasan alun-alun kota, lengkap dengan berbagai sarana penunjang.

Sementara, Kadis Lingkungan Hidup Pesisir Selatan, Nely Armida mengatakan, dalam rangka memerangi sampah, pihaknya telah melakukan berbagai langkah seperti pengurangan pemakaian kantong kresek yang diganti dengan pemakaian keranjang plastik di pasar tradisional setiap kecamatan.

Hal itu dilakukan, dengan cara membagikan sejumlah keranjang plastik kepada ibu-ibu yang berbelanja di sejumlah pasar tradisional. Disebutkan, kegiatan itu sesuai kebijakan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), untuk menjadikan Indonesia Bebas Sampah dalam waktu yang tidak terlalu lama yakni Tiga Bulan Bersih Sampah (TBBS).

Menurutnya, berbagai kebijakan telah dilakukan oleh pemerintah pusat. Antara lain dengan mengeluarkan UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah serta PP Nomor 81 Tahun 2013 tentang Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga.

Baca Juga
Lihat juga...