Titiek Soeharto : FKPPI Harus Jaga Keutuhan Bangsa

Editor: Mahadeva WS

3.134

JAKARTA – Wakil Ketua Umum Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI dan Polri (FKPPI), Siti Hadiati Hariyadi atau akrab disapa Titiek Soeharto berharap, FKPPI terus mengawal dan menjaga keutuhan bangsa dan negara Indonesia.

“Ulang tahun yang ke 40, mudah-mudah FKPPI selalu bermanfaat untuk negara dan bangsa, dalam mewujudkan pembangunan nasional,” kata Titiek kepada Cendana News saat perayaan HUT ke-40 FKPPI, Rabu (12/9/2018).

Di tahun politik ini, Titiek menegaskan, organisasinya berada dalam semangat menjaga demokrasi. Meski sedang pemilu, seluruh anggota  senantiasa selalu kompak, menjaga persatuan dan kesatuan, meskipun berbeda-beda bendera partai. FKPPI berkomitmen menjaga marwah independensi organisasi pada tahun politik ini dengan menjunjung tinggi demokrasi. “Saya Berkarya, ada Golkar dan PDIP, tapi kita kompak dalam wadah FKPPI meneruskan perjuangan orang tua kita menciptakan pemilu damai, tanpa sikut-sikutan meskipun berbeda,” tegasnya.

Titiek Soeharto menghadiri HUT ke-40 FKPPI – Foto Sri Sugiarti

Titiek mengimbau, FKPPI memaknai usianya yang ke-40 sebagai spirit mengenang kembali ketauladan dan perjuangan, yang telah ditunjukkan pejuang dalam mencintai bangsa Indonesia. Harus mewarisinya, dan tidak boleh melupakan. Diharapkan, generasi milenia harus ikut dalam pesta demokrasi, tetapi jangan melupakan sejarah.

Sebagai elemen bangsa, anggota FKPPI harus senantiasa menjaga adat ketimuran. Demokrasi boleh dilakukan, hanya saja tidak boleh kebablasan, karena ada koridor ketimuran yang harus dijaga dalam mewujudkan Indonesia damai dan sejahtera. “Kita tidak bisa berbuat seenaknya, itu ada koridornya. Kita punya demokrasi. Di zaman Pak Harto ( Presiden Soeharto), demokrasi Pancasila,” ucapnya.

Sebagai putra-putri purnawirawan TNI, Titiek berharap semua anggota FKPPI memberi contoh yang baik kepada sesama. Salah satunya menciptakan pesta demokrasi pemilu yang damai. Selain itu, FKPPI harus menjaga setiap anak bangsa dari kemerosotan moral. Mengingat ancaman terbesar saat ini adalah bahaya narkoba, yang menjadi dampak bagi kehidupan masyarakat. Jika dulu Indonesia dijajah secara fisik, sekarang dijajah secara moral melalui narkoba. “Kita harus menumpas narkoba, tidak ada toleransi. Sehingga generasi muda tidak hancur karena narkoba,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...