TKI Ilegal Sering Alami Hilang Kontak

Editor: Satmoko Budi Santoso

136
Koordinator Jangkar Bumi (Jaringan Lingkar Buruh Migran Indonesia) Jawa Timur, Mohamad Rosul - Foto Ist

JEMBER –  Banyaknya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berangkat secara ilegal atau melalui calo sering menjadi korban penipuan. Bahkan TKI sering tidak mendapatkan haknya karena dirampas sang calo yang menguasainya dan sering terjadi hilang kontak.

Tidak jarang pula TKI menjadi korban penjualan manusia (human trafficking). Kasus ini, meski sering terjadi, namun nampaknya tidak membuat jera calon TKI yang masih menggunakan calo tenaga kerja.

Koordinator Jangkar Bumi (Jaringan Lingkar Buruh Migran Indonesia) Jawa Timur, Mohamad Rosul mengatakan, persoalan TKI itu dimulai dari sebelum berangkat. Karena semuanya berawal dari legalitas keberangkatan TKI yang bersangkutan.

“Kita akui, keberangkatan TKI itu, ada jalur legal, dan ilegal. Untuk kasus-kasus yang lost contact (hilang dan susah dihubungi) itu, melalui jalur ilegal. Biasanya, ketika TKI lewat ilegal, sampai di negara tujuannya, sudah pasti dijual oleh agen,” kata Mohammad Rosul, Minggu (9/9/2018).

Menurut Rosul, karena TKI yang ilegal itu dilarang menggunakan telepon seluler selama bekerja di majikannya. Biasanya, mereka dilarang menggunakan handphone dengan alasan agar fokus bekerja, bahkan sampai diambil majikan. Padahal menggunakan handphone tidak ada larangan, selama tahu batasan.

“Menggunakan handphone untuk menghubungi sanak saudara, itu hak TKI sebenarnya, jika melalui jalur legal berangkatnya,” terangnya.

Mohmamad Rosul menambahkan, pihaknya tidak ingin, para calon TKI itu terjerumus berangkat ke luar negeri, dengan melalui agen-agen tidak bertanggung jawab.

“Akan lebih baik lewat yang legal saja, lebih aman dan terpantau keberadaannya,” tandasnya.

Rosul juga mengimbau, agar tidak terjadi kasus hilang komunikasi, TKI yang bekerja di luar negeri disarankan untuk memanfaatkan dan memahami media sosial sebagai sarana komunikasi untuk menghindari hal-hal terkait kesulitan komunikasi.

“Karena melalui media sosial bisa lebih mudah berkomunikasi dengan dunia luar. Tidak perlu kita tahu nomor telepon keluarga, atau saudara. Selain itu juga bisa cepat terlacak,” tambahnya.

Pilihan tersebut bisa dilakukan, kata Rosul, karena saat TKI bekerja menjaga anak, atau orang tua. “Biasanya dibekali gadget (telepon pintar, red), dan terkoneksi dengan jaringan wifi di rumah. Jadi akses lebih gampang (untuk menggunakan sarana medsos tersebut),” jelasnya.

Rosul juga mengungkapkan hal itu efektif, agar bisa sambung komunikasi dengan keluarga yang di Indonesia dan petugas juga lebih mudah melacak.

“Karena memang, saat menjadi TKI ilegal, pembatasan itu sewenang-wenang, dan pastinya merugikan tenaga kerja tersebut,” pungkasnya.

Lihat juga...