TMII Terus Lestarikan Keindahan Budaya Gorontalo

Editor: Satmoko Budi Santoso

174

JAKARTA – Anjungan Gorontalo, salah satu provinsi termuda di Indonesia yang hadir di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), diresmikan oleh Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, pada 23 Maret 2011.

Pemandu Anjungan Gorontalo TMII, Rochyat menjelaskan, Provinsi Gorontalo merupakan pemekaran dari Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang dipertegas berdasarkan Undang-Undang No.38 Tahun 2001.

Dengan Kota Gorontalo sebagai Ibu Kota Provinsi, maka provinsi ke 32 di Indonesia ini diapit luasnya oleh Laut Sulawesi di sebelah utara, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) di timur, Teluk Tomini di selatan, dan Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) di sebelah barat. Yakni dengan luas wilayah 12.214,45 kilometer persegi.

Provinsi Gorontalo terbagi atas empat kabupaten dan satu kotamadya, yaitu kabupaten Boalemo, Bone Bolango, Gorontalo, Pohuwanto dan Kotamadya Gorontalo.

Pemandu Anjungan Gorontalo TMII, Rochyat. Foto : Sri Sugiarti.

Kota Gorontalo merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Makassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo juga menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur, selain Ternate dan Bone.

“Masyarakat Gorontalo 98 persen adalah Muslim. Kehidupan sehari-hari masyarakat sangat kental dengan nuansa adat budaya dan agama,” kata Rochyat kepada Cendana News, Senin (24/9/2018).

Hadirnya provinsi ini di TMII, menurutnya, bertujuan untuk mempromosikan potensi seni budaya daerah Gorontalo kepada seluruh masyarakat Indonesia dan mancanegara.

Saat berkunjung ke Anjungan Gorontalo, pengunjung disambut dengan diorama patung sepasang penari saronde. Tarian ini dipentaskan sepasang penari dewasa pada upacara adat, seperti acara perkawinan suku Gorontalo.

Bentuk bangunan utama anjungan ini menampilkan rumah adat masyarakat Gorontalo yang disebut Malihe atau Mahligai, dikombinasikan dengan rumah adat Dulohupa.

Rumah adat Malihe adalah rumah rakyat, sedangkan rumah adat Dulohupa yaitu tempat permusyawaratan keluarga kerajan untuk penentuan hukum adat bagi yang melakukan pelanggaran.

Ciri khas rumah adat Dulohupa adalah memiliki tangga kembar, bernama Tolitihu yang terletak di pintu masuk sisi kiri dan kanan.

Menurutnya, penggabungan bentuk dua rumah adat yang ditampilkan di anjungan ini memiliki nilai artistik. Yakni, Potiwoluya atau rumah panggung bujur berbentuk bujur sangkar yang berdiri di atas tiang-tiang penyangga setinggi empat meter.

Atapnya atau watopo berbentuk persegi panjang, berbahan atap daun rumbia, dengan dinding rumah berbahan bambu yang dibelah dan dianyam.

Sedangkan bagian-bagian rumah mirip dengan tatanan estetika rumah melayu, memiliki jendela di setiap kamar, serambi, ruang tamu, dan dapur. Pada bagian atas pintu terdepan dihiasi dengan ukiran-ukiran khas yang bermakna religi dan seni budaya tradisi Gorontalo.

Dalam sejarahnya, masyarakat Gorontalo mengenal tiga alur sidang permusyawaratan bagi para pelanggar adat, maupun pengkhianat negara, yakni melalui sidang Buwatulo Bala atau alur sidang menggunakan hukum pertahanan dan keamanan negara, Buwatolu Syara atau alur sidang menggunakan hukum agama Islam atau syariat Islam, dan Buwatolu Adati atau alur sidang menggunakan hukum adat.

Rumah Adat Gorontalo di TMII, jelas dia, dipergunakan untuk ruang pameran dan peragaan aspek budaya. Seperti terlihat di halaman masuk rumah adat sudah ditampilkan diorama patung sepasang penari Saronde.

Di bagian ruang tamu terdapat Puade atau pelaminan yang biasa digunakan untuk pengantin sunat maupun upacara Buhutalo. “Upacara Buhutalo adalah upacara menyambut haid pertama anak gadis di kalangan bangsawan,” jelas Rochyat.

Replika Puade atau pelaminan pengantin adat Gorontalo yang ditampilkan di Anjungan Gorontalo TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Selain itu, sebut dia, di sisi kiri dan kanan pelaminan ditempatkan pula diorama busana adat pengantin wolimomo yang dikenakan untuk pernikahan wolimomo. Dan busana pengantin biliu yang dipakai saat bersanding di pelaminan.

Di depan pelaminan, tepatnya di sebelah kanan pintu masuk rumah adat ini tersaji dalam etalase kaca aneka ragam kerajinan tangan khas masyarakat Gorontalo.

Memasuki ruang tengah rumah adat ini, ditampilkan kamar tidur lengkap dengan ranjang pengantin. Di ruang ini juga terdapat berbagai benda budaya yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Gorontalo.

Terkait upacara adat Gorontalo lainnya yang menarik adalah, jelas dia, upacara adat momou oayuma atau membuka ladang, kesuburan tanah atau mopoaguta, dan meminta hujan atau mohiledidi.

Busana adat pengantin Wolimomo yang ditampilkan di Anjungan Gorontalo TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti.

Sedangkan aspek-aspek budaya seperti makanan khas Gorontalo, kesenian dan kerajinan tangan, yaitu kain sulam Kerawang maupun anyaman kopiah keranjang atau upiya karanji yang terbuat dari rotan. Dua ragam kerajinan tangan ini bernilai tinggi karena sangat digemari masyarakat.

Menurutnya, sebagai provinsi yang diapit Selat Sulawesi dan Teluk Tomini, Gorontalo memiliki potensi wisata bahari yang mengagumkan. Di antaranya, Taman laut Olele di desa Olele, Bone Balango, yang menjanjikan sensasi menyelam bersama ikan lumba-lumba dan ikan paus.

Saat menyelam, pemandangan bunga karang raksasa dan terumbu karang menjadi nuansa indah yang mengagumkan para penyelam terhadap kekayaan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Pulau Saronde, yang sangat dikenal di era 1980-an juga menjadi area wisata yang masih dikagumi. Sekali pamor wisatanya sempat tenggelam, tapi pada tahun 2007 kembali dibenahi dengan inovasi fasilitas penunjang.

Dengan keindahan pantai pasir putihnya, Pulau Saronde di Gorontalo Utara siap menyambut wisatawan domestik maupun mancanegara.

Berlanjut ke Pantai Bolihutuo dengan pasir putih dan air laut yang tenang dapat dinikmati dengan berperahu menyusuri pesisir pantai. Sambil menyisir pantai, pemandangan pepohonan kelapa dan hutan pinus menjadi suguhan yamg menggetarkan jiwa.

Rindangnya hutan pinus, pantai Bolihutuo hampir mirip dengan pantai Libuo. Namun jelas dia, di pantai Libuo, pengunjung akan takjub dengan gugusan hutan pinus raksasa yang menjadi ciri khas pantai tersebut.

Untuk wisata ke pedesaan, ada Perkampungan Nelayan Suku Bajo di Desa Bajo dan Desa Toroslaje. Kedua desa tersebut berada di Kabupaten Boalemo, merupakan tujuan wisata yang bisa diandalkan pemerintahan Gorontalo.

“Suku Bajo terkenal karena keunikan masyarakatnya yang tinggal di rumah-rumah panggung di atas air,” tandasnya.

Selain Desa Bajo, lanjutnya, Desa Lombongo Kecamatan Suwawa, Gorontalo menawarkan wisata pemandian mata air kembar. Yakni, mata air panas dan mata air dingin.

Wisata sejarah Dermaga Iluta di Danau Limboto, sekitar sepuluh kilometer dari pusat Kota Gorontalo, layak untuk dikunjungi. Karena jelas Rochyat, Dermaga Iluta merupakan saksi bisu mendaratnya pesawat amphibi Katelina yang ditumpangi Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Danau Limboto juga menyimpan kekayaan alam berbagai macam habitat ikan air tawar yang tidak terdapat di daerah lain.

Benteng Otanaha di puncak bukit Dembe Kota Gorontalo yang dibangun tahun 1522, menjadi tujuan wisata sejarah yang sangat dikagumi. Mengingat Benteng Otanaha ini dibangun dengan total jumlah anak tangga sebanyak 348 buah. Kekaguman pengunjung, jumlah anak tangga di setiap persinggahan benteng tidaklah sama.

Sebagai surga tersembunyi yang berlimpah kekayaan alam bernilai sejarah sebagai surga tersembuyi, Gorontalo berupaya terus mempromosikan seni budaya daerahnya kepada masyarakat Indonesia di TMII.

Dalam setahun, menurut Rochyat, anjungan Gorontalo selalu menggelar acara seni budaya. Setiap bulan, Gorontalo aktif menggelar seni budaya di halaman anjungan untuk promosi. Sedangkan acara besar yaitu paket budaya diadakan dua kali dalam setahun.

Gelaran seni, selain dilakukan di halaman anjungan, juga di Candi Bentar TMII. Atau di panggung Walls yang sekarang sudah berubah nama menjadi panggung Putro Pandowo, di pelataran parkir selatan TMII.

Namun, sepanjang tahun 2018 ini, menurutnya, anjungan Gorontalo sepi acara mengingat adanya peralihan pengelolaan dari semula di bawah Badan Penghubung Daerah sekarang beralih ke Dinas Pariwisata.

“Ada efisiensi dana yang akhirnya promosi seni budaya Gorontalo terbengkalai, dan tahun 2018 ini praktis tak ada gelar seni. Parade seni yang digelar TMII pun kita tidak ikut tampil,” ujarnya.

Rochyat berharap, pemerintah daerah (pemda) Gorontalo lebih memperhatikan lagi agar ke depan promosi seni budaya Gorontalo digalakkan sehingga masyarakat luas mengenal.

“TMII kan jendela pelestarian budaya bangsa. Jadi hadirnya anjungan selayaknya mempromosikan seni budaya daerah agar lebih dikenal masyarakat Indonesia dan dunia. Saya berharap ke depan pelestarian budaya di anjungan ini lebih digalakkan lagi,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...