TMII, Ujung Tombak Pengembangan Pencak Silat

Editor: Mahadeva WS

514

JAKARTA – Perguruan pencak silat, Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT), hadir di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sejak 1979. TMII, menjadi ujung tombak pengembangan pencak silat sebagai budaya asli Indonesia.

Pelatih PSHT Cabang TMII, Sipit Trisusilo Haryono menyebut, PSHT tampil di Istana Negara atas undangan Presiden ke 2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto pada 1979. Usai tampil di Istana Negara, atas arahan Presiden Soeharto, PSHT difasilitasi untuk berlatih di TMII. “Alhamdulillah Pak Harto memberikan fasilitasi latihan di Sasono Adiguno TMII. Kami diminta untuk melatih karyawan-karyawan TMII. Khususnya satpam TMII itu wajib berlatih,” kata Sipit kepada Cendana News, Senin (3/9/2018).

Namun, karena Sasono Adiguno selalu dipakai untuk acara, latihan kemudian di pindah ke Anjungan Jawa Tengah. Seiring waktu, latihan di pindah lagi ke Museum Migas, di dekat Taman Burung. Anggota PSHT yang merupakan karyawan TMII, terus bertambah, bahkan putra dan putri mereka juga ikut berlatih. “Alhamdulillah ada 80 orang yang saat ini berlatih. Mereka putra putri dari karyawan TMII. Latihan rutin setiap Rabu malam dan Minggu malam di Museum Migas,” tambah Sipit.

Dari perkembangan yang ada, dulu yang merupakan peserta latihan, kini sudah ada yang menjadi pelatih, salah satunya adalah, Koordinator Unit-Unit Usaha TMII, Diono. “Pak Diono, sekarang jadi pelatihnya Dara,” ujar Sipit.

Sipit menyebut, Ibu Negara Tien Soeharto, juga mendukung  PSHT berlatih di TMII. Hal itu dikarenakan, pencak silat, dari penilaian Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto, adalah salah satu budaya tradisi yang harus dilestarikan. “Terlepas dari pengaruh apapun, para atlet pencak silat PSHT meraih prestasi tidak lepas dari peran Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto. Semoga dosa-dosa almarhum Pak Harto dan almarhumah Ibu Tien Soeharto diampuni oleh Allah SWT,” ujar Sipit.

Salah satu atlet pencak silat PSHT adalah Puspa Arumsari atau biasa disapa Dara. Dia adalah atlet yang sukses meraih medali emas pada Asian Games 2018. Dara turun di nomor tunggal putri. Medali emas diraih setelah mengumpulkan 467 poin, mengungguli pesilat Singapura, Nurzuhaira Mohammad Yazid, yang mendapatkan 445 poin. Dan, Cherry May Regalado, asal Thailand yang menyabet medali perunggu dengan 444 poin.

Dara, tercatat sudah sejak SD berlatih pencak silat di PSHT TMII. Dia termasuk atlet yang rajin berlatih, sehingga mampu meraih prestasi di berbagai kejuaraan, baik nasional maupun dunia. Selain Dara, PSHT TMII tercatat telah banyak melahirkan atlet pencak silat berprestasi. “Jadi tidak hanya Dara saja. Banyak atlet TMII yang berprestasi lainnya. Hanya saja untuk tingkat Asian Games, baru Dara. Asian Games ini susah seleksinya. Alhamdulilah dari PSHT cabang TMII ada yang lolos, Dara lolos seleksi,” ujarnya.

Untuk meraih prestasi, yang terpenting adalah disiplin dan komitmen untuk berlatih. Untuk tingkat nasional, minimal berlatih dua jam sekali latihan. Namun kalau sudah tingkat international seperti Dara, berlatih empat jam secara rutin dalam sekali berlatih tanpa istirahat.

Selain berlatih tentu, harus diimbangi dengan asupan gizi yang baik, empat sehat lima sempurna. “Atlet international seperti Dara, itu minimal latihan empat jam secara rutin setiap hari dan diimbangi asupan gizi yang penuh. Karena kalau tidak tercukupi dia akan sakit,” jelasnya.

Perguruan PSHT didirikan oleh, Ki Hajar Hardjo Utomo, warga asli Madiun. Ki Hajar Hardjo Utomo, adalah pejuang yang mendapatkan penghargaan Bintang Perintis Kemerdekaan dari Presiden Soeharto.  Ki Hajar Hardjo Utomo, berkomitmen melestarikan pencak silat yang merupakan budaya asli Indonesia. PSHT, cabangnya sudah tersebar di seluruh Indonesia.

Selain melatih PSHT Cabang TMII, Sipit juga menjabat sebagai pelatih utama PB IPSI di Padepokan Pencak Silat TMII. Pencak silat di padepokan TMII, diikuti oleh pesilat dari berbagai aliran, sehingga pelatih utamanya ada tujuh orang termasuk dirinya.

Ketua Umum PSHT Cabang TMII, Muhammad Taufik bersyukur mendapatkan tempat untuk berlatih di TMII. Menurutnya, TMII telah memberikan fasilitas yang luar bisa dalam pengembangan pencak silat, sehingga bisa melahirkan Dara. “Terima kasih TMII yang telah memberikan kesempatan kepada PSHT untuk mengembangkan pencak silat di sini. Insha Allah, selain Dara akan lahir atlet tanding prestasi lainnya,” ujar Taufik.

TMII disebutnya, serius mengembangkan pencak silat. Ini dibuktikan dengan mengelar festival pencak silat sebagai upaya pelestarian budaya bangsa, setiap tahun. Selain itu, fasilitas untuk pembinaan atlet di TMII juga sangat mendapat perhatian.

Taufik berharap, prestasi Dara di Asian Games 2018, dapat menjadi sumbangsih untuk pembinaan fasilitas lebih baik lagi di markas PSHT di Museum Migas. Sehingga, atlet pencak silat yang digembleng di TMII bisa terus berprestasi.

Baca Juga
Lihat juga...