TPA Beri Dasar Agama Bagi Anak-anak di Desa

Editor: Koko Triarko

192
LAMPUNG – Meletakkan dasar ilmu agama, tidak harus dilakukan di sekolah formal. Namun, juga bisa dilakukan melalui Taman Pendidikan Alquran (TPA) dan bisa dilakukan sejak dini. Hal tersebut dikatakan, Markum (39) guru mengaji di Dusun Sumbersari, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan.
Markum mengajar sekitar 50 anak dari sejumlah dusun di desanya, di Taman Pendidikan Alquran (TPA) Al Istiqomah. TPA tersebut sudah berdiri sejak belasan tahun silam, berangkat dari kepeduliannya akan pendidikan dasar keagamaan Islam bagi anak-anak.
Ia menyebut, awalnya anak-anak usia PAUD, TK hingga SD menghabiskan waktu saat sore hari dengan bermain atau menggembalakan ternak. Bersama pengurus masjid Al Istiqomah, Markum yang lulusan sebuah pesantren di salah satu kota di Pulau Jawa, lalu meminta izin untuk membentuk TPA.
Awalnya, siswa TPA hanya belasan anak, merupakan anak-anak yang tinggal di dekat masjid. Memasuki dua tahun, jumlah siswa TPA yang berdiri pada 2008 mencapai lebih dari 40 anak, dan kini sudah 50 anak.
Kesadaran para orang tua mendorong anak untuk belajar di TPA Al Istiqomah, diakui Markum membuat jumlah siswanya bertambah. Sejumlah anak dari dusun lain yang terpaksa berangkat dengan jalan kaki, naik sepeda serta diantar orang tua dengan motor, membuat TPA Al Istiqomah semakin memiliki banyak murid.
Sejumlah guru pengajar, bahkan dengan sukarela mulai terlibat, termasuk sang istri, Nur Hidayati (36), dan tiga guru mengaji lainnya dengan jadwal mengajar bergilir.
Markum, mengajar di TPA Al Istiqomah bagi anak-anak di sejumlah dusun di Desa Pasuruan [Foto: Henk Widi]
“Saat siswa masih sedikit, saya bisa mengajar sendiri. Namun, siswa semakin banyak sehingga perlu dibagi dalam tiga kelas, dan tambahan pengajar dimulai dari istri saya, selanjutnya ada pengajar lain,” terang Markum, belum lama ini.
Markum menyebut, secara formal ia bukanlah seorang guru, namun sebutan guru mengaji sudah melekat padanya. Sebagai pengajar di TPA, Markum mengajarkan sejumlah ilmu dasar berupa ilmu tajwid, doa-doa, dasar-dasar agama Islam meliputi rukun iman, rukun Islam, tauhid, adab, tatacara salat.
Selain itu sesuai dengan tingkatan pendidikan siswa, dikenalkan juga hadits, pelajaran bahasa Arab dasar serta lagu-lagu motivasi, agar anak rajin beribadah.
Kegiatan belajar-mengajar di TPA, kata Markum, dilakukan setiap hari. Kecuali Kamis mulai pukul 16.00 hingga pukul 17.30. Meski menggunakan teras masjid Al Iatiqomah akibat belum adanya fasilitas bangunan khusus untuk TPA, antusiasme anak-anak untuk belajar di TPA sangat tinggi.
Markum juga menyebut sebagai guru TPA, ia tidak mendapatkan honor, melainkan hanya mendapatkan iuran dari siswa yang belajar sebesar Rp2.000 setiap pertemuan.
Ia menjelaskan, tingkatan siswa yang belajar di TPA Al Istiqomah merupakan siswa dari usia TK hingga SD kelas VI. Sistem belajar dibagi dalam tiga lokasi, di sebelah kanan teras masjid, bagian depan serta sebelah kiri masjid lengkap dengan papan tulis, meja belajar, dan buku-buku pelajaran.
Siswa yang belajar dengan keterbatasan sarana TPA, menurut Markum, akan diuji setiap satu semester tentang materi yang sudah diajarkan. Jika sudah dinyatakan lulus, akan naik ke jenjang berikutnya dengan guru yang berbeda untuk mengetahui daya serap ilmu yang diajarkan.
Selain mengajar sebagai pengajar TPA, Markum masih melakukan sejumlah rutinitas harian dengan bertani. Kegiatan yang sudah rutin dilakukan membuat Markum sudah terbiasa mengatur jadwal, agar aktivitas mengajar di TPA tetap berjalan.
Rumah yang berada cukup dekat dengan TPA, juga membuatnya bisa mengatur waktu dengan mudah. Bersama sang istri, Markum mendedikasikan dirinya untuk membekali anak-anak di desa tersebut, dengan dasar pendidikan agama Islam, agar memiliki akhlak yang baik.
Pika (12), salah satu murid TPA yang duduk di bangku sekolah kelas VI dan bergabung di kelas B TPA Al Istiqomah, mengaku mengikuti setiap pelajaran yang dilakukan oleh guru lain bernama Nur Hidayati. Meski di sekolah ia telah mendapat pelajaran agama Islam, namun pelajaran di TPA yang diikuti setiap sore hari tersebut sekaligus menambah ilmunya.
Sejumlah materi yang tidak diperoleh di sekolah, Pika masih bisa dilengkapi dengan bertanya pada guru ngaji di TPA Al Istiqomah.
Selain di TPA Al Istiqomah, kiprah pengajar bagi anak-nak usia dini juga dilakukan oleh Sariah (50) dan sang suami, Sahril (63). Sariah tinggal di Dusun Gusung Berak, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan.
Sebagai pengajar di TPA Gusung Berak yang berada di pulau Rimau Balak atau dikenal dengan pulau Harimau, ia mengajar sekitar 30 anak usia PAUD hingga SD.
Sariah menyebut, keterbatasan tempat pendidikan di pulau Rimau Balak, membuat wanita yang berasal dari Pulau Sumatra tersebut mengajar anak-anak di TPA.
“Sepulang sekolah, anak-anak kerap hanya bermain di sekitar pantai atau membantu orang tua, sehingga saya mulai mengajar di TPA,” beber Sariah.
Sariah menyebut, TPA Gusung Berak sejatinya merupakan sebuah musola terbuat dari papan. Setelah warga mendapat bantuan masjid dari PT.ASDP Indonesia Ferry, dengan bangunan masjid Nurul Bahri Mubin, bangunan musola yang tidak terpakai digunakan sebagai tempat belajar anak-anak.
“Anak-anak bisa belajar di TPA hingga malam hari dengan menggunakan penerangan listrik tenaga surya,” beber Sariah.
Sariah menyebut, kepedulian akan pendidikan di pulau Rimau Balak, bermula karena di pulau tersebut hanya memiliki sebuah sekolah dasar di SDN 5 Sumur. Siswa di sekolah tersebut yang berjumlah sekitar 40 orang, sebagian tinggal di kampung Peritaan, Sukamajudan, Gusung Berak. Setiap sore, puluhan anak belajar bersama Sariah, memanfaatkan waktu luang sekaligus menunggu waktu ibadah salat Maghrib.
Atas bantuan dari sejumlah donatur, TPA tersebut akhirnya mulai dibenahi dan ditambah dengan Pojok Baca Pulau Rimau Balak. Buku-buku bacaan bagi anak-anak pun menambah minat baca di TPA yang dikelola oleh Sariah.
Ia berharap, meski anak-anak didiknya tinggal di pulau terpencil, namun dengan bekal ilmu agama melalui TPA, anak-anak bisa memiliki akhlak yang baik dan dasar dasar agama Islam sejak dini.
Baca Juga
Lihat juga...