Tradisi Syukuran Kelahiran Anak, Lestari di Lampung

Editor: Satmoko Budi Santoso

148

LAMPUNG – Perayaan hari ulang tahun masih menjadi momen kebahagiaan yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang. Ungkapan syukur saat ulang tahun seseorang kerap diisi dengan sejumlah kebiasaan, salah satunya dengan tradisi makan bersama, sedekah oleh anggota keluarga yang berulangtahun.

Ngegabokh (ngegabur) atau saweran menjadi satu rangkaian pengisi kegiatan ulang tahun anak-anak yang masih lestari di Lampung Selatan.

Sukriadi, selaku salah satu warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan mengaku, tradisi tersebut menjadi kearifan masyarakat pedesaan di Lampung. Meski berasal dari Pulau Jawa dan menetap di Lampung, kebiasaan warga Lampung yang unik dan penuh filosofi tersebut juga dijalankan olehnya.

Anak-anak berebut uang koin yang ditaburkan [Foto: Henk Widi]
Sukriadi bahkan menyebut, ngegabokh menjadi salah satu kegiatan yang ditunggu oleh anak-anak saat ada anak atau orang dewasa merayakan ulang tahun.

Tradisi ngegabokh atau saweran, disebut Sukriadi, memiliki makna yang kaya bukan sekedar sebuah perayaan syukur ulang tahun. Tradisi ngegabokh memiliki makna menabur, menebar atau sawer, menyimbolkan agar keluarga, orangtua, anak yang berulang tahun saat kelak sukses, bahagia, berkecukupan bisa menebar, menaburkan kebaikan, rejeki dan bersedekah kepada sesama.

“Makna ngegabokh ini biasanya diucapkan sebelum acara dimulai semacam ujub dan doa dari orangtua. Kerap diwakili sang kakek atau sang ayah dengan meminta doa untuk keselamatan, kesehatan, serta umur panjang bagi yang sedang merayakan ulang tahun lalu ngegabokh dilakukan,” beber Sukriadi sang kakek dari cucu yang tengah merayakan hari kelahiran atau ulang tahun, saat ditemui Cendana News, baru-baru ini.

Bingkisan berupa kue ulang tahun dan berbagai jenis kue diberikan kepada anak anak yang hadir di acara ngegabokh [Foto: Henk Widi]
Istilah ngegabokh atau ngegabur disebut Sukriadi kerap dikenal dengan saweran yang lebih umum dikenal. Meski berbeda istilah dalam penyebutannya, hal tersebut diakui Sukriadi tidak mengurangi makna dan tujuan dari pemilik hajat atau keinginan untuk mengungkapkan syukur.

Sukriadi menyebut, kegiatan ngegabokh dilakukan untuk sang cucu yang merayakan hari ulang tahun kelahiran pertama bernama Nazwa Saraswati Hariyono.

Tradisi ngegabokh pada awalnya kerap dilakukan saat bayi berusia 7 hari hingga 9 hari. Seiring perjalanan waktu, ungkapan syukur tersebut dilakukan hingga Balita saat anak-anak mulai belajar berjalan, berbicara.

Ngegabokh pada usia bayi 7 hingga 8 hari disebutnya dilakukan dengan rangkaian bayi pertama kali dibawa keluar dari rumah dan mandi. Dahulu anak bayi kerap dimandikan di sungai yang berada di dekat rumah, namun kini bisa menggunakan bak mandi di depan rumah.

Setelah acara ngegabokh anak-anak mendapatkan bingkisan makanan atau among-among [Foto: Henk Widi]
Selama pelaksanaan ngegabokh sang bayi digendong oleh dukun bayi sementara sang ibu membawa obor dari minyak kelapa. Selanjutnya, setelah dimandikan dan diberi pakaian dengan dibedong, beberapa sesaji berupa nasi putih, nasi merah, telur dan beberapa lauk disiapkan dalam takir atau wadah. Daun pisang juga disiapkan.

Proses selanjutnya kerap ditunggu anak-anak tetangga sang bayi dengan ngegabokh.

“Baskom diisi dengan uang logam atau koin, permen, beras kuning dengan kunyit, sirih, kemiri yang utuh. Masih memiliki tempurung dan kini kerap ditambah dengan uang kertas,” beber Sukriadi.

Seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut masih tetap dilestarikan bahkan tidak hanya saat bayi usia 7 hingga 9 hari. Ungkapan syukur sejak bayi hingga mencapai balita menjadi momen istimewa atau masa-masa emas sehingga ngegabokh masih tetap dilakukan.

Anak-anak mengucapkan selamat ulang tahun kepada anak yang berulang tahun [Foto: Henk Widi]
Setelah isi baskom disiapkan, sang anak yang sedang ulang tahun akan digendong oleh kakek, nenek atau orangtua. Anak-anak yang sudah menunggu selanjutnya menunggu proses menabur uang koin tersebut.

Meski harus berebutan untuk mendapatkan uang koin saat ngegabokh, keceriaaan dan riuh rendah anak-anak terlihat. Selain anak-anak, kerapkali sang ibu yang menemani sang anak dan sejumlah orang dewasa bahkan ikut berebut uang yang disebar.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya, koin bernilai Rp25, Rp50 hingga maksimal Rp500. Kini nilai uang yang ditaburkan pada kegiatan Ngegabokh kerap disi dengan uang pecahan minimal Rp1000 hingga Rp2000 yang ditaburkan oleh sang ibu atau ayah anak yang berulang tahun.

Setelah acara ngegabokh dilakukan, anak-anak tersebut akan mengucapkan selamat ulang tahun kepada si anak. Sebelum pulang, selain mendapat bingkisan kue ulang tahun diawali dengan acara potong kue ulang tahun, anak-anak masih mendapat bingkisan makanan.

Makanan yang diberikan merupakan among-among berupa nasi putih, mie goreng, tempe goreng, telur rebus, kuluban, kerupuk. Selain bisa dibawa pulang anak-anak tersebut kerap memakan nasi among-among di lokasi acara ulang tahun.

Cavinis, salah satu anak yang mengikuti tradisi ngegabokh menyebut, tradisi tersebut sangat ditunggu. Pasalnya, melalui kegiatan tersebut bisa memperlihatkan kebersamaan dan keseruan dalam memaknai ulang tahun.

Keseruan yang diperoleh terjadi ketika dirinya bersama puluhan anak lain berebut koin yang ditaburkan untuk diambil secara berebutan. Meski mendapat uang koin dengan jumlah berbeda rata-rata anak-anak bisa memperoleh uang lebih dari Rp10.000 dan kerap digunakan sebagai uang jajan.

Lihat juga...

Isi komentar yuk