Tri Sutrisno: Reformasi Perlu Dikoreksi

Editor: Mahadeva WS

645

JAKARTA – Haul ke-11 atau peringatan wafatnya Presiden ke-2 Indonesia, Jendral Besar H.M. Soeharto, dihadiri elit politik, sahabat, kerabat terdekat almarhum. Salah satu sosok yang hadir adalah mantan Wakil Presiden H. Tri Sutrisno.

Dalam wawancara singkat dengan Cendana News, Tri Sutrisno berdoa, sosok Soeharto semakin baik, semakin mantap, semakin lapang di sisi Allah SWT. Para ahli kubur akan merasa semakin mantap karena amalnya. “Beliau begitu banyak amalnya, yang kedua tentu dari putra-putrinya yang setiap kali sehabis melaksanakan salat selalu mengirimkan Fatihah, dan yang ketiga ilmu beliau yang begitu bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dan jika dilaksanakan keseluruhan sesuai ajaran Islam, tentunya beliau akan semakin mantap,” tuturnya.

Bagi generasi bangsa yang masih hidup, Pak Harto harus dicatat dalam sejarah. Sejarah tidak akan terputus-putus, mulai dari proklamasi, Bung Karno, Pak Harto, dan masa berikutnya. Pak Harto termasuk yang melaksanakan pembangunan secara rapi dan mantap.

Priyo Budi Santoso, Sekjen Partai Berkarya (kanan) bersama Tri Sutrisno, Mantan Wakil Presiden RI, (kiri), Foto. M. Fahrizal

“Waktu itu sudah ada Pemilu, GBHN, pemerintah membuat Repelita dan itu dilaksanakan hampir 30 tahun. Apapun harus kita akui itu, baik didalam maupun diluar negeri, banyak hasil yang sudah diperlihatkan oleh beliau mulai dari Swasembada pangan, di Asean sendiri kita menjadi prakarsa, banyak negara-negara tetangga ingin belajar tentang bagaimana Indonesia bisa begitu stabil, bisa kompak, dan bisa membangun seperti yang dilakukan pak Harto,” tambahnya.

Menurutnya, generasi muda tidak boleh mengkotak-kotakan sejarah, baik Bung Karno sebagai Presiden dan Proklamator, dan Pak Harto, Presiden yang menjabarkan, yang mampu membangun karena adanya pemilu yang dilaksanakan setiap lima tahun.

“Yang harus kita koreksi dari reformasi, karena tidak konsisten dengan Pancasila. Dari sejak reformasi hingga saat ini, kita harus berani melihat diri kita, jangan bangga dengan euforia dengan menepuk dada merasa menang, karena semua bangsa Indonesia harus merasa menang, dan bangkit kembali, bersatu untuk tetap konsisten dan konsekuen untuk kemajuan Indonesia yang berlandaskan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...