Triwulan II, Produksi Udang Kulon Progo Capai 574,2 Ton

191
Ilustrasi - Dok: CDN

KULON PROGO — Realisasi produksi udang di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencapai 574,2 ton selama triwukan II/2018 yang tersebar di Kecamatan Panjatan, Galur, Temon, dan Wates.

Kabid Perikanan dan Budi Daya Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kulon Progo Leo Handoko mengatakan kecamatan dengan tingkat pertumbuhan produksi udang paling tinggi adalah Panjatan, karena ada pusat pertumbuhan kawasan budi daya udang di Desa Pleret dan Garongan.

“Produksi udang di Kecamatan Panjatan triwulan II mencapai 423,5 ton dari total produksi 574,2 ton, disusul Kecamatan Galur sebanyak 101,4 ton,” katanya di Kulon Progo, Minggu (23/9/2018).

Ia mengatakan serangan virus udang tahun ini dapat dipastikan aman dan terkendali, sehingga produksi udang juga sangat pesat, khususnya di kawasan peruntukan.

Leo mengatakan luasan tambak udang terbesar berada di Kawasan Pasir Mendit seluas 40 hektare, kawasan Pantai Trisik 30 persen.

Total lokasi tambak udang yang sesuai peruntukan atau Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) seluas 70 hektare. Sedangkan luas tambak udang yang berada diluar peruntukan seluas 50 hektare.

“Hingga saat ini, total luasan tambak udang di Kulon Progo seluas 150 hektare, seiring penambahan luas lahan di Galorangan dan Pleret lebih dari 30 hektare,” katanya.

Dia mengatakan produksi udang dari Kulon Progo merupakan komoditas ekspor. Udang diekspor melalui Jakarta dan Surabaya.

“Udang kualitas super diekspor, kemudian kualitas pertama dipasarkan di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya,” katanya.

Sementara itu, Kepala DKP Kulon Progo Sudarna mengatakan pihaknya secara intensif melakukan uji laboratorium residu udang di wilayah itu, setiap tiga bulan sekali.

Ia mengatakan dibalik kelimpahan gizi dan kelezatan udang, terdapat kekhawatiran adanya residu.

Residu adalah bahan sisa yang mengendap di dalam daging akibat penggunaan obat kimia atau tercemar bahan kimia. Residu yang melebihi batas normal, akan berakibat buruk bagi tubuh kita.

“Uji laboratorium residu udang ini guna menjamin rasa aman akan konsumsi udang,” kata Sudarna.

Ia mengatakan triwulan pertama tahun ini, enam sampel diambil dari tambak wilayah Pasir Mendit dan Pasir Kadilangu, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon. Wilayah Pasir Mendit dan Pasir Kadilangu adalah pedukuhan yang mempunyai daerah tambak udang di pesisir yang ramai. Sampel yang diambil berupa udang berumur 40-70 hari. Dari sampel ini, akan dianalisa residu pada sampel berupa kandungan antibiotik, insektisida dan logam berat, seperti timbal, merkuri, dan kadmium.

Hasil pengujian ini dilaksanakan dengan metode Confirmatory bs AAS Graffite Furnace untuk parameter residu Timbal (Pb), Cadmium (Cd) dan Cold Vapour pada analisa residu Mercury (Hg).

“Kandungan residu semua udang sampel berada di bawah ambang batas maksimum dengan nilai kurang dari 250, sehingga udang-udang tersebut aman dikonsumsi,” katanya. [Ant]

Baca Juga
Lihat juga...