Tujuh Kerbau Jadi Pembuka Kirab Pusaka Malam 1 Suro

199

SOLO — Ribuan orang dari berbagai daerah memadati di sepanjang tepi jalan untuk menyaksikan upacara tradisi kirab pusaka Malam 1 Suro (kalender Jawa) Keraton Kasunanan Surakarta, pada Selasa hingga Rabu dini hari (12/9/2018).

Pada kirab pusaka Malam 1 Suro yang digelar berawal dari di dalam Keraton Kasunanan dimulai pukul 23.00 WIB dan kemudian sekitar pukul 23.30 WIB, pintu keraton dibuka, dan peserta kirab keluar dari Kori kamandungan Keraton menuju rute yang akan dilewati.

Rutenya, yakni Keraton ke utara Supit Urang Barat-Alun-alun Utara-Jalan Pakubuwono Gladak-Perempatan Telkom Jalan Mayor Kusmanto- Jalan Kapten Mulyadi- Perempatan Baturono-Gading Jalan Veteran- Perempatan Gemblegan ke utara -perempatan Nonongan (Jalan Slamet Riyadi) ke timur- Gladak- ke selatan kembali ke Keraton Kasunanan.

Pada Acara kirab pusaka malam 1 Suro tersebut diawali barisan tujuh ekor kerbau keturunan Kyai Slamet. Kerbau-kerbau itu, diarak sebagai cucuk lampah bagi peserta kirab yang membawa belasan pusaka jenis kering dan tombak yang terbungkus kain sutra.

Kemudian diikuti para abdi dalem dengan membawa obor serta identik dengan pakaian warna hitam mengenakan samir berwarna merah kuning sebagai ciri khasnya Keraton Kasunanan.

Bahkan, pada kirab pusaka Keraton Kasunanan Surakarta malam 1 Suro tersebut terlihat Kapolda, Irjen Pol Condro Kirono dan Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Wuryanto, dengan mengenakan pakaian adat Jawa (Beskap) mengikuti upacara berjalan kaki bersama peserta sesuai rute yang ditetapkan.

Menurut Pengageng Perintah Keraton Kasunanan Surakarta Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Dipokusumo kirab pusaka Malam 1 Suro tersebut menjadi peringatan Tahun Baru dalam Kalender Jawa. Dimana penanggalan Jawa ini sendiri merupakan gabungan antara perhitungan penanggalan Islam dan perhitungan Saka. Dalam tradisi ini sangat identik dengan kirab kerbau.

Menurut Dipokusumo kerbau memang sangat identik dengan tradisi keraton. Hal ini karena kerbau salah satu bagian yang tidak lepas dari tata cara masyarakat pada saat itu untuk alat transportasi, sekaligus menjadi simbolis tokoh keraton.

Karto (60) salah satu warga asal Sukoharjo mengatakan dirinya bersama keluarganya menghadiri prosesi kirab Malam 1 Suro Keraton Kasunanan, karena banyak yang dianggap sakral sehingga bisa menjadi berkah bagi keluarganya.

“Saya setiap tahun mengikuti upacara ini, untuk mencari berkah dan kebaikan bagi keluarga,” katanya.

Bahkan, Sulasmi (40) warga Madiun Jawa Timur sengaja datang ke Solo untuk mengikuti prosesi upacara kirab pusaka Keraton Kasunanan yang banyak membawa berkah bagi masyarakat.

“Saya datang dari Madiun ke Solo untuk mengikuti kirab Malam 1 Suro. Pada pergantian tahun ini, dijadikan momentum untuk melihat selama satu tahun ke belakang. Saya berharap banyak berkah dan kebaikan untuk kehidupannya ke depan,” kata Sulasmi. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...