Tumijo, Perintis Sentra Kerajinan di Kecamatan Nanggulan

Editor: Mahadeva WS

199

YOGYAKARTA – Sepintas, Tumijo (64) tampak seperti warga desa lainnya di kawasan perbukitan Kulonprogo pada umumnya. Kesederhanaan dan kebersahajaanya, nampak terlihat dari pakaian yang dikenakan sehari-hari.

Kaus oblong dan celana kolor, selalu melekat di tubuhnya. Tak jarang ketika bepergian untuk jarak dekat di sekitar rumahnya, Dia berjalan dengan bertelanjang kaki. Namun dibalik kesederhanaannya, Tumijo boleh dibilang menjadi salah satu aset terbaik yang ada di desanya.

Bapak tiga anak dan kakek tiga cucu tersebut, sosok yang berkontribusi besar menjadikan Desa Tanjungharjo, bahkan Kecamatan Nanggulan, dikenal banyak orang hingga seperti sekarang. Tumijo merupakan salah satu perintis usaha kerajinan tas bahan alam di kawasan daerahnya. Dia-lah salah satu warga desa yang mengawali pembuatan tas berbahan serat enceng gondok, daun pandan atau daun gebang di desanya, yang kini begitu dikenal hingga ke mancanegara.

“Saya mulai buat kerajinan sekitar 1989. Awalnya hanya coba-coba, karena kepepet keadaan. Saya yang sebelumnya membuat mebel dari bahan kayu dan bambu, iseng-iseng pengen coba buat dari daun pandan. Ternyata bisa, hingga terus saya kembangkan pakai bahan lain seperti enceng gondok, daun gebang dan bahan lainnya,” ungkapnya, Selasa (25/9/2018).

Tumijo masih ingat betul, sebelum berkembang seperti sekarang, dulu hanya ada tiga perajin di dusunnya dan Ia merupakan salah satu diantaranya. Setelah berjalan beberapa tahun, banyak warga desa yang semula hanya memantau, akhirnya membuka usaha kerajinan secara mandiri.

“Dari situ akhirnya kerajinan tas bahan alam ini berkembang. Saya tidak bisa hitung berapa perajin yang ada sekarang. Karena tidak hanya sekedar tumbuh di desa ini saja, namun juga ke desa-desa tetangga. Total sekarang ada 33 penyuplai di lima kelurahan yang ada di Kecamatan Nanggulan ini yang memiliki usaha kerajinan seperti ini,” katanya.

Meski hanya tamatan SD, Tumijo tidak pernah berhenti belajar untuk melakukan berbagai inovasi. Mulai dari mencari bahan-bahan yang bisa digunakan untuk membuat kerajinan, mencari model dan bentuk baru jenis kerajinan. Hingga menciptakan alat bantu seperti alat pemintal yang mempermudah kerja para perajin tas bahan alam di desanya.

Berkat berbagai upaya yang dilakukan, Tumijo kerap diundang berbagai pihak, untuk melatih warga desa di bidang produksi kerajinan. Tak terhitung berapa daerah di Indonesia yang pernah ia datangi. Mulai dari Aceh, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Lombok, hingga Papua, semua pernah mengundangnya.

“Banyak yang bilang, saya perintis kerajinan disini. Tapi menurut saya itu salah. Bagi saya, semua sama saja. Saya hanya menularkan ilmu kepada orang lain saja. Saya senang jika dia bisa mandiri bahkan usahanya lebih besar dari punya saya. Yang terpenting saya bisa bermanfaat untuk warga desa,” katanya.

Tumbuh suburnya usaha kerajinan tas berbahan alam, di Nanggulan secara nyata memberikan dampak luar biasa bagi masyarakatnya. Ratusan warga yang sebelumnya hanya mengandalkan usaha di bidang pertanian dan peternakan, kini telah memiliki usaha sambilan dengan membuat kerajinan. Hal itu membuat perekonomian di salah satu desa terpencil Kulonprogo tersebut, terus tumbuh dan berkembang hingga sekarang.

Baca Juga
Lihat juga...