Uji Materi PKPU di MA Belum Berproses

Editor: Mahadeva WS

111
Juru Bicara Mahkamah Agung, Suhadi - Foto M Hajoran Pulungan

JAKARTA – Mahkamah Agung (MA) belum memproses uji materi (judicial review) Peraturan KPU (PKPU) No.20/2018,  yang mengatur larangan mantan narapidana korupsi dan terorisme, mendaftar sebagai calon legislatif (caleg) untuk Pemilu 2019.

“Judicial review PKPU No. 20/2018, sementara belum kita proses pemeriksaan di MA, karena ada judicial review UU-nya terhadap UUD di MK. Sehingga berdasarkan UU, MA tidak bisa memproses uji materi PKPU tersebut,” kata Juru Bicara Mahkamah Agung, Suhadi, Senin (3/9/2018).

Uji materiil yang dimaksud adalah, uji materi UU No.7/2017 di Mahkamah Konstitusi (MK), tentang Pemilihan Umum (Pemilu). Ada dua uji materi yang telah berproses di MK, mengenai ambang batas pencalonan presiden dan periode masa jabatan presiden-wakil presiden. “Artinya, kita tetap harus menunggu proses uji materi di MK selesai meskipun materi perkaranya tidak berkaitan dengan uji yang tengah berlangsung di MA. Sebab, PKPU yang tengah digugat di MA merupakan turunan dari UU Pemilu. Dan aturannya memang seperti itu,” jelasnya.

Suhadi menyebut, uji materi PKPU 20/2018 di MA sebenarnya sudah sempat berjalan. Berkas perkaranya sudah diperiksa oleh majelis hakim. Namun, di tengah proses tersebut, MA mendapat pemberitahuan dari MK bahwa di lembaga tersebut, sedang berlangsung uji materi UU Pemilu.

MA akan tetap menunggu sampai proses uji materi di MK selesai. MA tidak akan berpatokan dengan proses pendaftaran caleg 2019 yang saat ini tengah berjalan. Karena aturan hukum tidak boleh dilanggar, meskipun pendaftaran sudah selesai. “PKPU tidak bisa dipaksakan untuk di putus, khawatir bertentangan, antara putusan MK dan MA. Sedangkan di MK yang digugat lebih tinggi, yakni UU terhadap UUD. Sementara di sini peraturan terhadap UU, ini lebih rendah objeknya,” jelasnya.

PKPU No.20/2018, digugat oleh enam pemohon yang semuanya adalah eks napi korupsi. Mereka yakni M Taufik, Waode Nurhayati, Djekmon Ambisi, Jumanto, Mansyur Abu Nawas, dan Abdul Ghani.

Lihat juga...

Isi komentar yuk