Usaha Kerajinan Tas, Tumpuan Ekonomi Warga Tanjungharjo

Editor: Satmoko Budi Santoso

170

YOGYAKARTA – Berkembangnya industri kerajinan tas bahan alam di Desa Tanjungharjo Nanggulan Kulon Progo mampu membuka ratusan lapangan pekerjaan baru bagi warga masyarakat setempat.

Hal itu membuat warga pun dapat hidup mandiri tanpa harus mencari pekerjaan hingga ke luar desa atau luar daerah.

Seperti dirasakan Suradal dan Jemingin, warga Dusun Kemukus Tanjungharjo, Nanggulan. Sudah sejak beberapa tahun terakhir, dua lelaki ini menggeluti usaha pemintalan benang untuk bahan dasar pembuatan kerajinan tas. Memanfaatkan alat manual sederhana, mereka setiap hari memproduksi gulungan tambang di halaman rumah.

“Kita buat tali tambang yang merupakan bahan baku pembuatan tas. Ada yang bahannya dari serat alam seperti daun pandan, enceng gondok maupun daun gebang. Tapi ada juga yang dari plastik. Kebetulan ini kita buat yang dari plastik rafia,” katanya saat ditemui Cendana News, belum lama ini.

Suradal mengaku, mengambil bahan berupa tali rafia pipih dari pabrik di Jawa Tengah. Tali rafia itu kemudian mereka pintal dengan mesin manual sederhana menjadi gulungan tambang berdiameter sekitar 1 cm. Dalam sehari keduanya mampu membuat tali tambang hingga 70-80 kilogram.

Jika sudah terkumpul sebanyak 1-2 kuintal, tambang tersebut kemudian mereka setor ke pengepul untuk dibuat menjadi kerajinan tas.

“Untuk satu kilo tali tambang kita mendapat upah Rp3500. Sehingga dalam sehari kita bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp100-200 ribu per hari,” katanya.

Suradal mengaku, pengasilan tersebut jauh lebih cukup untuk dirinya. Terlebih pekerjaan memintal benang itu bisa dilakukan di rumah, dengan risiko yang sangat kecil atau hampir tidak ada sama sekali. Berbeda dengan pekerjaan sebelumnya yang harus bepergian ke luar daerah dengan risiko tinggi.

“Sebelumnya kerja jadi sopir. Selain gaji lebih sedikit, risikonya juga besar. Karena itu saya memilih alih profesi menjadi pemintal benang ini. Kerjanya lebih enak karena bisa dilakukan di rumah dan hasilnya juga lumayan,” ungkapnya.

Sutinah tengah membuat kerajinan tas di sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga – Foto Jatmika H Kusmargana

Sementara itu warga lainnya, Sutinah, mengaku mendapat tambahan penghasilan dengan menjadi perajin tas dari bahan alam. Ia mengaku, biasa membuat kerajinan tas saat memiliki waktu senggang di tengah kesibukan menjadi ibu rumah tangga. Dari hasil pekerjaannya sebagai perajin tas itu, ia bisa membantu suami menghidupi keluarga.

“Saya sudah mulai bikin tas sejak tahun 1995. Jadi kita ambil bahan baku berupa tali tambang hasil pintalan dari pengepul, kemudian kita buat jadi produk tas di rumah. Satu buah tas kita mendapatkan upah Rp4000-5000. Kalau dalam sehari saja bisa membuat 10 tas, berarti kan sudah dapat penghasilan Rp50 ribu,” katanya.

Di Desa Tanjungharjo ini, ada puluhan warga yang menjadi perajin tas seperti Sutinah maupun pemintal benang seperti Suradal dan Jemingin. Itu belum termasuk puluhan bahkan ratusan pemintal dan perajin tas lain dari 5 dusun lain di Kecamatan Nanggulan. Tanpa adanya sentra usaha kerajinan tas ini, mereka pun tak tahu harus bekerja apa.

“Usaha kerajinan tas di sini benar-benar menjadi tulang punggung bagi warga desa. Tanpa adanya kerajinan ini, entah kita mau kerja apa,” imbuh Jumingin.

Baca Juga
Lihat juga...