Usaha Tungku Tanah Liat di Lamsel Terus Berkembang

Editor: Koko Triarko

173
LAMPUNG – Lebih dari enam produsen tungku tanah liat di Dusun Blora, Desa Sukamulya, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, terus melakukan ekspansi penjualan ke luar daerah.
Budiono (50) dan Tuti (49), pasangan suami istri perajin tungku tanah liat, menyebut, produksi tungku tanah liat merupakan sekor usaha kecil yang ditekuni oleh keluarganya sejak belasan tahun silam. Tungku tanah liat dibuat dengan bahan baku tanah liat serta abu sekam, menggunakan alat cetak manual.
Budiono menyebut, proses pembuatan tungku semula dikerjakannya bersama  istri. Lalu, mulai membutuhkan sejumlah pekerja, dan dari sejumlah pekerja tersebut mulai memiliki modal serta bisa memulai usaha baru sebagai pembuat tungku tanah liat.
Kini, ada lebih dari belasan produsen tungku tanah liat dengan jumlah produksi mencapai ratusan tungku mentah atau belum dibakar. Penambahan jumlah produsen tungku ikut membantu pasokan permintaaan dalam wilayah provinsi Lampung hingga luar daerah seperti provinsi Banten.
Budiono, perajin tungku tanah liat pertama di Dusun Blora, masih bertahan dengan produksi tungku tanah liat mencapai ratusan buah per bulan, memenuhi permintaan pasar lokal provinsi Lampung hingga Banten [Foto: Henk Widi]
“Awalnya, hanya saya yang memproduksi tungku tanah liat dengan menyewa lahan. Lalu, beberapa warga yang sudah bisa membuat dan memiliki modal membuka usaha serupa, sehingga dusun Blora kini dikenal sebagai sentra produsen tungku,” terang Budiono, Selasa (25/9/2018).
Budiono dan sejumlah perajin tungku tanah liat lainnya, mengaku hanya memiliki modal awal kurang dari Rp5 juta. Modal tersebut digunakan untuk pembelian bahan baku berupa tanah liat, abu sekam penggilingan padi, abu kayu sempu serta bahan sekam utuh untuk proses pembakaran tungku.
Menurutnya, usaha kecil pembuatan tungku tanah liat juga memberi sumber lapangan pekerjaan bagi belasan warga sekitar, dengan upah harian mencapai Rp80.000 hingga Rp100.000.
Sebagai alat memasak alternatif, katanya, produksi tungku tanah liat tidak pernah surut, meski pada zaman modern alat memasak kompor gas, kompor listrik mulai digunakan. Kelangkaan gas di wilayah Lampung Selatan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, bahkan ikut berimbas pada peningkatan permintaan tungku tanah liat.
Budiono mengatakan, permintaan tungku cukup tinggi. Dalam satu bulan, ia bisa mengirim  700 hingga 1.000 tungku ke wilayah provinsi Banten. “Sistem penjualan yang kita gunakan dengan penjualan ke konsumen langsung, ke pengecer yang dititipkan warung serta ke distributor besar untuk dijual kembali,” beber Budiono.
Konsumen langsung merupakan warga sekitar dari sejumlah kecamatan yang datang ke lokasi pembuatan. Pengecer kerap membeli dari produsen dan dijual menggunakan kendaraan roda dua dan empat, untuk ditawarkan langsung ke konsumen atau dititipkan ke sejumlah warung.
Penjualan ke distributor, kata Budiono, kerap dilakukan untuk pasar luar daerah dengan pengambilan tungku skala besar, dan dijual kembali ke sejumlah toko. Budiono memberi harga khusus kepada konsumen yang langsung datang ke tempat pembuatan, pengecer dan distributor untuk menarik pelanggan.
Budiono menyebut, harga tungku tanah liat cukup bervariasi. Dari ukuran kecil seharga Rp20.000, ukuran sedang seharga Rp40.000 dan ukuran besar seharga Rp60.000.
Harga tersebut merupakan harga ke konsumen langsung. Namun untuk pengecer dan distributor, ia memberi harga lebih murah sehingga saat dijual masih mendapatkan keuntungan.
Ia menyebut, tungku tanah liat yang dibuat dengan cara manual tersebut masih marak digunakan di wilayah pedesaan, dengan bahan bakar kayu masih melimpah.
“Saat musim hajatan, banyak warga membutuhkan alat memasak yang banyak, sehingga produksi harus ditingkatkan dengan menambah pekerja,” beber Budiono.
Permintaan dalam wilayah Lampung dan luar wilayah Lampung yang tinggi, membuat prospek usaha tersebut dilirik warga lain di wilayah Blora.
Tukinah, perajin tungku tanah liat yang mengikuti jejak pembuatan tungku memanfaatkan limbah sekam padi [Foto: Henk Widi]
Tukinah (30) dan Agus (34), pembuat tungku tanah liat, mengaku jika semula merupakan tenaga buruh harian di tempat produksi tungku tanah liat milik Budiono. Modal yang cukup dan ilmu pembuatan tungku yang dikuasai membuatnya berani membuka usaha sejenis.
“Dukungan justru dari Pak Budiono sebagai produsen tungku pertama, karena adanya permintaan tinggi dari sejumlah kabupaten di Lampung dan luar wilayah Lampung,” beber Tukinah.
Kini, Tukinah sudah mulai mandiri memproduksi tungku sebanyak 300 hingga 500 unit per bulan. Dibantu suami, anak dan sejumlah pekerja. Produksi tungku miliknya sudah dipesan ke luar wilayah, sekaligus memenuhi kuota yang kerap harus dikirim.
Kuota sebanyak 1.000 tungku per bulan yang biasanya dipenuhi oleh Budiono, bahkan sebagian merupakan hasil produksi yang dibuat oleh Tukinah. Sistem tersebut disebutnya memberi keuntungan bagi produsen, sekaligus menambah penghasilan bagi pekerja.
Tukinah menyebut, keberadaan usaha pembuatan tungku saat musim kemarau memberi penghasilan bagi sejumlah pekerja, yang dominan ibu rumah tangga yang biasanya merupakan buruh tani. Saat kemarau, banyak lahan tidak ditanami membuat pekerjaan membuat tungku menjadi pilihan.
Meski semula memenuhi pasar lokal, Tukinah dan sejumlah pembuat tungku sudah bisa memenuhi permintaan pasar di wilayah Banten. Selain memberi penghasilan dan lapangan kerja, pembuatan tungku sekaligus memanfaatkan limbah sekam padi di wilayah tersebut.
Baca Juga
Lihat juga...