Virus Rabies, Tidak Hanya Disebarkan Anjing

Editor: Mahadeva WS

191
Virus Rabies dengan pengambilan mikroskopis warna Foto: Istimewa/Ranny Supusepa

JAKARTA – Kasus rabies yang terjadi baru-baru ini di Sikka,  kembali membuka mata masyarakat, bahwa meski kasus rabies terus turun sejak 2012. Kasusnya di beberapa daerah masih cukup tinggi. 

Ketua IDI Jakarta Pusat, Dr. Kemas Abdurrohim, MARS, M. Kes, Sp.AK menjelaskan, rabies merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Penyakitnya bukan hanya bisa ditularkan oleh anjing. “Rabies adalah infeksi virus, yang menyerang otak dan sistem syaraf. Dan bukan hanya anjing yang bisa menularkannya lewat gigitan, cakaran atau air liur. Tapi juga kucing, musang, kelelawar bahkan kelinci,” ungkapnya, Rabu (5/9/2018).

Saat virus rabies menyerang manusia, gejala yang ditimbulkan, layaknya penyakit yang disebabkan oleh virus. Gejalanya demam, sakit kepala dan lemas. Biasanya gejala akan muncul pada dua minggu hingga satu bulan setelah proses paparan. Pasien yang terkena, akan mengeluarkan banyak air liur, dan otot-ototnya mengalami kaku. Pertolongan pertama yang bisa dilakukan,  jika ada orang yang terkena paparan virus rabies adalah, mencuci luka yang ada dengan sabun detergen.

Ketua IDI Jakarta Pusat, Dr. Kemas Abdurrohim, MARS, M.Kes, SpAK – Foto Ranny Supusepa

Mengobati obat luka, dan sesegera mungkin dibawa ke petugas medis terdekat. “Petugas medis akan menyuntikkan vaksin anti tetanus dan rubicin untuk rabiesnya. Jika setelah observasi selama dua minggu hingga satu bulan, tidak muncul gejala, artinya aman. Namun kalau virusnya sudah menyerang otak, biasanya susah ditolong. Karena belum ada obatnya,” urai Dr. Kemas.

Walaupun tidak semua daerah di Indonesia mempunyai kasus serangan rabies, tapi Dr. Kemas menekankan pentingnya pencegahan dini.  Pencegahan dilakukan dengan vaksinasi rutin pada hewan peliharaan. Dan menghindari gigitan hewan, khususnya anjing, kucing atau kera. Masyarakat harus mewaspadai daerah yang banyak memelihara anjing, apalagi anjing liar. “Kalau ada tanda-tanda hewan yang mengidap rabies, sebaiknya dikurung atau dimusnahkan,” tandasnya.

Terkait pengakuan petugas daerah yang menyatakan kurangnya vaksin rabies berbanding jumlah hewan yang harus divaksin, Dr. Kemas menyatakan, sebenarnya hal itu bergantung pada perencanaan Kementerian Kesehatan. “Saya rasa kecukupan vaksin tergantung bagaimana perencanaan Kemenkes dalam perhitungan dan anggarannya. Seharusnya ada stok cadangan yang ditempatkan di pusat.  Agar kecukupan vaksin dan distribusi terpenuhi,” jelasnya.

Lihat juga...