Warga Bantul Manfaatkan Tabur Puja, Kembangkan Usaha

Editor: Koko Triarko

162
YOGYAKARTA – Usaha rumahan busana tradisional adat Jawa milik Sri Subaidah, kini nampak semakin ramai dan berkembang. Tempat produksi yang berada di rumahnya, Dusun Cabeyan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, dipenuhi berbagai macam baju pesanan pelanggan, seperti blankon, surjan hingga kebaya. 
Bersama sejumlah karyawannya, Sri dan suaminya, bahkan harus turun tangan langsung untuk menyelesaikan pekerjaan pembuatan busana tersebut. Mulai dari membuat pola, memotong dan menjahit kain, hingga menjadi busana, sampai melakukan finishing berupa pemberian kancing baju, dan sebagainya.
“Alhamdulillah, saat ini semakin berkembang. Dulu, karyawan saya hanya dua orang, sekarang sudah ada lima orang. Selain membantu mengerjakan di sini, ada juga beberapa yang mengerjakan dengan dibawa ke rumah masing-masing,” ujarnya, saat ditemui Cendana News, belum lama ini.
Usaha busana tradisional Sri Subaidah di Bantul. -Foto: Jatmika H Kusmargana
Meneruskan usaha turun-temurun orang tuanya sejak puluhan tahun silam, Sri dan suaminya, merupakan salah satu penerima manfaat sekaligus anggota Koperasi Unit Tabur Puja Kelompok Posdaya Angrek di Dusun Cabeyan. Keberadaan Koperasi Tabur Puja, yang merupakan program dari Yayasan Damandiri, diakuinya turut mengembangkan usahanya hingga seperti sekarang.
“Unit Tabur Puja ini sangat bermanfaat dan membantu masyarakat. Khususnya para pelaku usaha kecil seperti saya. Bisa jadi solusi untuk mendapatkan tambahan modal usaha,” katanya.
Sebelum bergabung dengan Unit Tabur Puja, Sri mengaku harus meminjam modal usaha dari bank. Meski besaran pinjaman yang didapat cukup besar, namun syarat-syarat pencairan modal di bank cukup rumit dan menyulitkan. Berbeda dengan pinjaman modal dari Tabur Puja yang tergolong mudah dengan bunga yang ringan.
“Kalau di bank kan syaratnya ribet. Harus ada jaminan, dan sebagainya. Tapi, kalau Tabur Puja, tidak. Hanya mengumpulkan KTP suami-istri saja. Bunganya juga tidak selisih banyak. Misalkan pinjam Rp1 juta, sebulan hanya bayar cicilan Rp100 ribu saja. Bayarnya juga hanya di ketua kelompok. Jadi, tidak perlu pergi ke bank,” bebernya.
Meminjam modal usaha selama beberapa tahun terakhir, Sri mengaku memanfaatkannya untuk membeli kebutuhan bahan pembuat busana, seperti kain, benang jahit, kancing baju, dan lainnya. Begitu selesai dan lunas, pada tahun berikutnya ia menggunakan modal pinjaman Tabur Puja untuk membeli alat perlengkapan, seperti mesin jahit.
“Selain untuk membeli bahan baku, pinjaman modal juga saya manfaatkan untuk membeli mesin jahit. Total mesin jahit saya saat ini ada tiga unit, sehingga bisa mempercepat proses produksi,” katanya.
Dalam satu hari, Sri mengaku mampu memproduksi puluhan busana tradisional Jawa, seperti surjan, blangkon atau kebaya. Sejumlah produk busana itu dijual dengan harga bervariasi, mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Biasaya, produk yang ia hasilkan merupakan pesanan pelanggan.
“Ada juga yang kita setorkan ke sejumlah toko maupun penjual di pasar,” ungkapnya.
Baca Juga
Lihat juga...