Warga Klegen, Hasilkan Produk Berbahan Sabut Sejak Zaman Belanda

Editor: Makmun Hidayat

393

YOGYAKARTA — Terletak di kecamatan Pengasih, Kulon Progo, Dusun Klegen, Sendangsari, sudah sejak lama dikenal sebagai sentra penghasil kerajinan sabut kelapa. Hampir sebagian besar warganya, memiliki keterampilan mengolah sabut kelapa menjadi berbagai produk kerajinan mulai dari sapu, keset, hingga tali tambang.

Kemampuan warga Klegan yang lahir secara turun-temurun itu ternyata sudah mulai ada sejak masa pendudukan kolonial Belanda. Meski telah berlangsung lebih dari satu abad, hingga saat ini keterampilan membuat kerajinan sabut kelapa itu masih menjadi tumpuan warga untuk menghidupi keluarga.

Menurut salah seorang pengrajin sapu sabut kelapa, Mustarom, pada zaman Belanda, dulu di Dusun Klegan ini terdapat sebuah pabrik pembuatan tali tambang. Pabrik milik perusahaan Belanda tersebut kemudian meminta warga sekitar untuk menghasilkan bahan dasar tali tambang, dengan bahan sabut kelapa.

Banyaknya pohon kelapa yang tumbuh di kawasan ini memang menjadi salah satu pertimbangan. Sehingga ketersediaan bahan baku pembuatan tali tambang, berupa sabut kelapa, dapat tercukupi setiap harinya.

“Jadi sejak dulu warga di dusun ini sudah bisa mengolah sabut kelapa menjadi bahan perlengkapan rumah tangga seperti tali tambang, keset atau sapu. Hampir setiap rumah warga disini juga memiliki kolam-kolam besar untuk merendam sabut kelapa,” katanya.

Salah seorang perajin sabut kelapa, Mustarom tengah membuat sapu dari sabut kelapa – Foto: Jatmika H. Kusmargana

Ya, sebelum dijalin menjadi tali tambang, keset atau sapu, sabut kelapa mentah harus diproses terlebih dahulu hingga siap digunakan. Warga di Dusun Klegen ini biasa menggunakan cara tradisional, yakni dengan merendamnya dalam air kolam. Itu dilakukan agar tekstur sabut kelapa lebih halus, lebih kuat, dan berwarna cerah coklat keputihan.

“Setelah pabrik tali tambang itu tutup, banyak warga yang kemudian sempat berhenti mengolah sabut kelapa. Namun karena kolam-kolam itu hanya terbengkalai, warga akhirnya mulai memanfaatkannya kembali untuk mengolah sabut kelapa. Namun tidak untuk dibuat tali tambang, melainkan produk lain seperti sapu,” katanya.

Proses pengolahan sabut kelapa menjadi produk alat rumah tangga seperti sapu atau keset sendiri, ternyata tidak sesederhana seperti yang dibayangkan. Setidaknya butuh waktu hingga tiga bulan lamanya agar sabut kelapa bisa menjadi sapu.

“Awalnya kulit kelapa harus kita hancurkan terlebih dahulu, agar kulit luarnya hilang. Setelah itu sabut harus kita rendam dalam air kolam selama 3 bulan. Setelah 3 bulan, sabut baru bisa kita ambil, kemudian kita pukul-pukul lagi. Setelah onggok (serpihan) hilang, sabut kita cuci, lalu tinggal dijemur dan siap digunakan,” katanya.

Sejumlah kolam milik warga yang digunakan untuk merendam sabut kelapa – Foto: Jatmika H. Kusmargana

Dalam sehari Mustarom mengaku mampu membuat sekitar 30-40 biji sapu. Satu sapu biasa ia jual dengan harga bervariasi mulai dari Rp5000-7000 per bijinya. Sejumlah bahan lain seperti gagang sapu dan plastik perangkai sabut, ia datangkan dari luar daerah diantaranya Surabaya dan Wonosobo.

“Tidak semua warga disini membuat keset atau sapu siap jual. Ada juga warga yang sekedar memproses sabut kelapa menjadi bahan siap pakai. Mereka biasanya jual sabut siap pakai ini Rp13ribu per kilo. Tapi ada juga warga yang sekedar jadi tenaga pengolah. Tugasnya hanya membersihkan sabut dengan cara dipukul. Mereka dibayar Rp 5ribu per kilo,” ungkapnya.

Selain menjual sapu sabut kepala lewat pengepul ke berbagai daerah di Yogyakarta, para perajin ini juga masih mendapatkan tambahan hasil dari menjual limbah sabut berupa onggok atau rontokan sabut kelapa. Satu karung onggok biasa dihargai Rp10ribu. Onggok ini akan dimabil pedagang tanaman untuk dibuat menjadi campuran pupuk organik ataupun media tanam tanaman.

Baca Juga
Lihat juga...