Warga Lembata Keluhkan Kelangkaan BBM

Editor: Koko Triarko

121
LEWOLEBA – Ratusan kendaraan bermotor, baik roda dua atau lebih, sejak pukul 02.00 WITA, mengantre di AMPS, satu-satunya Stasiun Pengisian BBM di kota Lewoleba, kebupaten Lembata, selain sebuah pengisian BBM lainnya di dekat pelabuhan Lewoleba.
“Sejak sebulan terakhir, warga harus mengantre di SPBU sejak dinihari, agar bisa mendapatkan BBM jenis premium dan solar. Pengisian juga dibatasi dan saya setiap hari harus antre hingga enam jam untuk mendapatkan bensin,” sebut Martin Making, warga Lewoleba, Selasa (25/9/2018).
Martin menambahkan, kelangkaan BBM sejak sebulan terakhir ini, diduga karena ulah mafia. Apalagi, Lembata sedang menyelenggarakan festival tiga gunung sejak 22 sampai 29 September, sehingga kebutuhan BBM pasti meningkat.
Antrian BBM di SPBU Lewoleba, kabupaten Lembata. -Foto: Ebed de Rosry
“Pasokan BBM untuk Lembata diperoleh dari Pertamina Larantuka, dan kami sebagai warga sangat kecewa dengan sikap pemerintah yang seolah-olah masa bodoh  terhadap situasi  yang terus terjadi ini,” ungkapnya.
Yohanes Kia Nunang, warga Lewoleba lainnya, meminta Pemda Lembata harus lebih fokus soal kelangkaan BBM, yang saban hari menyebabkan antrean kendaraan sejauh satu hingga dua kilometer.
“Soal festival tiga gunung yang menelan biaya, yang katanya hampir Rp17 miliar, lebih baik dana sebesar itu diprioritaskan bangun satu buah SPBU milik Pemda Lembata, agar masyarakat tidak kesulitan BBM, dan roda ekonomi pun bisa berputar,” ungkapnya.
Kia Nunang menyesalkan sikap pemerintah dan DPRD Lembata yang merupakan representasi masyarakat, namun tidak ada seorang pun yang berbicara soal kelangkaan BBM ini yang selalu saja terjadi, dan mungkin sudah dianggap wajar oleh pemerintah dan DPRD.
“Lembata yang sudah berusia 20 tahun otonomi, tetapi pembangunan berjalan di tempat, bahkan berjalan mundur. Kita kalah dari kabupaten lain yang sudah semakin maju. Lebih baik kita kembali saja bergabung dengan kabupaten Flores Timur,” tegasnya.
Kia Nunang berharap, Pemkab Lembata lebih peduli terhadap kebutuhan masyarakat, sebab yang mengantre BBM bukan saja warga di kota Lewoleba, tetapi kendaraan dari setiap kecamatan, termasuk kendaraan umum pengangkut penumpang.
Ratusan kendaraan, baik truk maupun bus serta sepeda motor, berbaris rapi di samping trotoar di sepanjang jalan raya utama di kota Leweoleba, depan SPBU. Sejak pukul 01.00 WITA, kendaraan tersebut sudah mulai mengantre.
Sementara itu di sepanjang jalan di dalam kota Lewoleba, ibukota kabupaten Lembata, penjual bensin eceran menjamur. Satu liter bensin atau premium dijual seharga Rp15.000, dan pertalite dijual seharga Rp20.000/liter.
Baca Juga
Lihat juga...