Warga Penengahan Akhirnya Miliki Jembatan Permanen Way Asahan

Editor: Mahadeva WS

215

LAMPUNG – Warga di Desa Ruang Tengah dan Desa Kelaten akhirnya memiliki jembatan permanen yang melintang di atas Sungai Way Asahan dan Sungai Banyuurip. Setelah menunggu puluhan tahun, akhirnya prasarana yang dimiliki bisa dilewati kendaraan roda empat.

Sebelumnya, jembatan yang ada hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Keberadaan akses jembatan tersebut sangat dibutuhkan warga untuk mobilitas warga ke dua desa. Dengan adanya jembatan, warga tidak lagi harus berjalan memutar puluhan kilometer hanya untuk membawa hasil pertanian.

Hasan Bakri,salah satu tokoh masyarakat Dusun Banyuurip Desa Kuripan merasakan manfaat dibangunnya jembatan sungai Way Asahan [Foto: Henk Widi]
Hasan Bakri (60), salah satu tokoh masyarakat di Dusun Banyuurip, Desa Kuripan mengungkapkan, usulan pembangunan jembatan sudah dilakukan sejak puluhan tahun silam. “Warga beberapa desa sudah mengusulkan melalui musyawarah rencana pembangunan tingkat kecamatan hingga kabupaten, dan akhirnya jembatan bisa dibangun dan sudah bisa dilintasi kendaraan berbagai jenis,” ujar Hasan Bakri kepada Cendana News, Jumat (7/9/2018).

Kesulitan akses transportasi sebelum adanya jembatan penghubung, berimbas adanya peningkatan biaya produksi. Warga Ruang Tengah, yang panen jagung, padi, kelapa, kakao dan sejumlah hasil pertanian lain, harus menggunakan jasa ojek. Pada saat panen jagung, Hasan Bakri harus mengeluarkan ongkos hampir Rp1juta, untuk biaya ojek perkarung jagung Rp3.000, dari kebun hingga ke rumah. Jembatan yang sudah bisa dilintasi kendaraan roda empat, memudahkan warga mengangkut hasil pertanian ke rumah.

Hasan Bakri menyebut, jembatan dibangun Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Lampung Selatan. Prosesnya melibatkan tenaga kerja dari warga sekitar. Dikerjakan oleh CV. Dhoni Karya, pengerjaan jembatan dilakukan sejak Mei 2018, dan pada September ini, sudah bisa digunakan oleh masyarakat. Pekerjaan selama kurun waktu 120 hari kalender tersebut, tertulis menelan biaya Rp1.491.600.000.

Subandi (40), warga Dusun Pahabung, Desa Ruang Tengah menyebut, jembatan tersebut bisa mendongkrak perekonomian warga. Kemudahan untuk mendistribusikan hasil pertanian, bahan bangunan, membuat warga yang selama ini terisolir bisa menikmati hasil pembangunan.

Akses jalan penghubung di wilayah tersebut sebagian terdampak pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Kondisi itu membuat warga harus melintas melalui upperpas, yang dibangun di sejumlah titik. Meski sebagian warga harus memutar, dengan adanya akses jembatan yang sudah dibangun, mobilitas warga saat musim penghujan tidak terhambat oleh sungai Way Asahan.

Warga pemilik lahan tanah di wilayah tersebut juga mengungkapkan adanya jalan tol, akses jembatan yang mudah membuat harga tanah melambung. Terbangunnya jembatan Way Asahan disebut Subandi, memudahkan para pelajar, menuju ke sekolah. Sebelumnya saat musim hujan, sebagian siswa memilih libur demi faktor keamanan karena banjir. Semenjak ada jembatan, siswa sekolah tetap bisa melintas meski hujan. “Saat musim hujan, Sungai Banyuurip dan Sungai Way Asahan kerap banjir dan warga harus memutar melintas melalui desa lain,” pungkas Subandi.

Baca Juga
Lihat juga...