Warga Peroleh Beragam Manfaat dari Pelestarian Mangrove di Sungai Muara Bakau

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

161

LAMPUNG — Kemarau yang melanda wilayah Lampung Selatan tidak berdampak bagi sungai Muara Bakau yang berada di wilayah Bakauheni Lampung Selatan. Sungai yang bermuara di kawasan mangrove tersebut bahkan masih mengalirkan air yang cukup lancar.

Sebagian dimanfaatkan warga untuk pengairan lahan sawah dan sebagian mengalir ke kawasan vegetasi mangrove sebagai lokasi habitat berbagai satwa.

Joko (30) salah satu warga Muara Bakau menyebutkan, sungai yang terhubung ke laut Selat Sunda tersebut saat musim hujan kerap meluap ke area persawahan. Warga bahkan bisa menambatkan perahu hingga satu kilometer dari muara.

Dikatakan, di wilayah tersebut tumbuh beberapa vegetasi yang bisa hidup dengan kadar air laut rendah bahkan tawar. Jenis mangrove yang tumbuh di air tawar tersebut diakui Joko merupakan jenis Pedada (Sonneratia caseolaris) sementara yang tumbuh di dekat laut merupakan vegetasi pohon Bakau (Rhizophora mucronata Lam).

“Kawasan ini sesuai sejarahnya memang sangat luas membentang hingga puluhan kilometer. Akibat pembangunan yang terjadi setiap tahun banyak ditebang menjadi lahan perumahan, sawah dan tambak. Saat ini tersisa hanya puluhan hektare,” terang Joko saat ditemui Cendana News, Rabu (4/9/2018).

Aliran sungai Muara Bakau yang debitnya mengecil masih bisa dimanfaatkan warga untuk pengairan lahan pertanian [Foto: Henk Widi]
Meski demikian masih ada sejumlah warga yang tetap melestarikan kawasan sebagai benteng alami bagi perkampungan. Sabuk hijau (green belt) tersebut terbukti ampuh saat musim cuaca buruk dengan kondisi angin kencang.

Joko yang mencari ikan dengan jaring di kawasan tersebut mengaku terjaganya ekosistem mangrove air tawar membuat sejumlah ikan bisa hidup. Kawasan yang berada di wilayah Bandar Bakau Jaya sebuah pelabuhan penyeberangan tersebut bahkan kerap menjadi lokasi pemancingan warga.

Selain bisa mencari ikan air tawar, berjarak tak jauh dari kawasan mangrove air tawar, di dekat muara sungai Muara Bakau, hamparan pohon juga terlihat menghijau. Joko kerap menggunakan jaring untuk menangkap ikan jenis bandeng, belanak, baung laut serta berbagai jenis kepiting.

“Kawasan mangrove di wilayah ini sebagian sudah dikuasai oleh perusahaan besar namun harapan kami tidak ditebang agar lestari dan masyarakat masih bisa mengambil manfaatnya,” beber Joko.

Usulan untuk melakukan normalisasi muara sehingga kawasan tersebut bisa digunakan untuk pelestarian belum mendapatkan realisasi. Sebagian tanaman sengaja dipertahankan warga umumnya karena masih memiliki manfaat yang beragam.

Mangrove yang bisa digunakan sebagai lokasi tambat perahu umumnya sekaligus menjadi penahan abrasi angin dan gelombang. Fungsi yang cukup beragam membuat warga nelayan tidak pernah melakukan penebangan mangrove di kawasan tersebut.

Lihat juga...

Isi komentar yuk