Warga Pulau Rimau Balak Berharap Ada OP Gas 3 Kg

Editor: Koko Triarko

1.450
LAMPUNG – Meski Pertamina, Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Lampung, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lamsel, telah menggelar operasi pasar murah gas, namun harga gas bersubsidi di sejumlah pengecer tetap bertahan tinggi di angka Rp30.000, bahkan sebagian mencapai Rp35.000 per tabung.
Suhendra (38) Kepala Dusun Gusung Berak, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, di Pulau Rimau Balak, menyebut, harga gas di pulau dijual Rp28.000 dan sebagian ada yang Rp30.000 per tabung.
Ia menyebut, dalam sepekan terakhir hanya mendengar pihak terkait menggelar operasi pasar gas subsidi 3 Kg di sejumlah kecamatan. Sebanyak 29 titik OP gas murah sudah digelar di 11 kecamatan, meski belum menyentuh warga pulau Rimau Balak.
Qori Nilwan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
“Kami warga sangat berharap operasi pasar gas juga digelar untuk warga di pulau Rimau Balak, karena kami harus membeli ke daratan Pulau Sumatra untuk mendapatkan gas melon,” terang Suhendra, selaku Kepala Dusun Gusung Berak, saat ditemui Cendana News, Senin (3/9/2018).
Suhendra menyebut, untuk memenuhi kebutuhan gas sebagai bahan bakar memasak, ia pernah membawa gas kosong ke Bakauheni. Sistem titip oleh warga kerap dilakukan untuk membeli gas elpiji, namun di sejumlah pengecer, pangkalan penyedia gas, kosong.
Ia pun harus membawa gas dalam kondisi kosong, sehingga sang istri terpaksa memasak dengan menggunakan kayu bakar memanfaatkan tungku.
Suhendra menyebut, sebanyak 75 Kepala Keluarga di Dusun Gusung Berak, berharap OP gas murah bisa menyasar warga. Ia pun mengaku sudah menyampaikan keluhan tersebut ke pihak Desa Sumur, namun akibat alokasi OP disebar di sejumlah titik di darat (sebutan untuk Pulau Sumatra) yang berada di Desa Sumur, warga Pulau Rimau Balak tidak mendapatkan jatah.
“Dampaknya, sejumlah warga terpaksa membiarkan tabung gas kosong, memakai kayu bakar dan sebagian mencari di darat,” katanya.
Suhendra juga menyebut, pihaknya akan melakukan prosedur agar warganya mendapatkan jatah OP gas subsidi. Pasalnya, dari sejumlah OP yang digelar, semisal di Menara Siger Bakauheni, warga harus membawa Kartu Keluarga dan diutamakan yang berdomisili di titik kegiatan OP.
Seperti beberapa tahun sebelumnya, OP gas subsidi untuk pulau Rimau Balak digelar di dermaga Muara Piluk Bakauheni, dengan kuota pembelian satu keluarga maksimal dua tabung.
“Kemarin sempat ada operasi pasar gas murah di Ketapang dan Bakauheni, tapi warga Pulau Rimau tidak terdaftar, jadi tetap membeli dengan harga mahal,” beber Suhendra.
Rohimah (37), salah satu warga Pulau Rimau Balak, mengaku masih membeli gas elpiji 3 Kg dengan harga Rp30.000 dari warung di pulau. Sebelumnya, harga gas Rp25.000 yang diakuinya cukup wajar saat harga di daratan Sumatra dijual dengan harga Rp23.000, menyesuaikan ongkos angkut kapal Rp1.000 per tabung. Akibat mahalnya harga gas yang belum berubah dalam tiga bulan terakhir, ia harus melakukan penghematan.
Upaya penghematan, dilakukan dengan memakai gas saat pagi hari untuk kebutuhan sarapan. Saat siang dan sore, ia dominan memakai kayu bakar untuk memasak, agar pemakaian gas bisa bertahan hingga tiga pekan.
Rohimah menuturkan, warung yang ada di pulau Rimau Balak sudah mengalami kekosongan stok sejak satu bulan terakhir, sehingga ia harus membeli di daratan.
“Kami ibu rumah tangga di pulau Rimau Balak masih bisa memasak menggunakan kayu bakar, tapi tetap berharap harga gas turun dan bisa ada operasi pasar bagi penduduk pulau,” terang Rohimah.
Teguh (24) dan Sumini (50) yang membeli tabung gas elpiji ukuran 3 Kg, mengaku mendapatkan gas tersebut melalui pangkalan yang ada di Bakauheni, seharga Rp27.000, yang sebelumnya hanya Rp25.000 per tabung.
Ia rela menyeberang ke daratan Sumatra untuk membeli gas, karena warung di pulau mulai kehabisan gas bersubsidi. Gas elpiji ukuran 3 Kg dimanfaatkan untuk memasak, dan bisa digunakan selama tiga pekan dengan diselingi penggunaan kayu bakar untuk memasak.
Sementara itu, Qori Nilwan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lampung Selatan, menyebut, OP telah digelar di delapan Kecamatan. Terakhir, tambahan sebanyak 22.400 tabung disebar di 11 kecamatan pada Minggu (2/9), menyasar warga di Katibung, Candipuro, Sidomulyo, Way  Panji, Ketapang, Way Sulan, Kalianda, Rajabasa, Ketapang, Bakauheni, Palas dan Sragi.
Selain melakukan operasi pasar, Qori Nilwan mengaku telah melakukan langkah pendataan jumlah pangkalan dan pengecer di Lamsel penjual gas. Ia menyebut, telah dilakukan sosialisasi terkait penggunaan gas tepat sasaran, di mana gas elpiji hanya untuk masyarakat miskin.
Namun, katanya, di sejumlah tempat masih ada gas elpiji digunakan untuk rumah makan besar dan sebagian untuk bahan bakar mesin sedot air saat kemarau. Ia menjamin, pasokan gas elpiji dari Pertamina terpenuhi dan mengimbau pedagang menjual dengan harga wajar.
Baca Juga
Lihat juga...