Waspada Potensi Angin Kencang di Perairan Lampung

Editor: Koko Triarko

1.502
LAMPUNG – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Maritim Kelas IV Lampung, mengimbau kepada pengguna jasa transportasi untuk mewaspadai adanya potensi angin kencang di wilayah perairan Lampung.
Sugiyono, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas IV Maritim Lampung, menyebut, hingga Rabu (5/9), kondisi angin saat ini di beberapa wilayah Lampung tergolong kencang.
Menurutnya, angin kencang tersebut terutama di wilayah perairan Bakauheni Lampung Selatan, Krui Pesisir Barat, Lempasing Pesawaran dan seputaran Bandarlampung.
Sesuai catatan BMKG Maritim Lampung, kata Sugiyono, kecepatan angin berpotensi mencapai 20-30 knot di wilayah tersebut. Padahal, pada kondisi normal kecepatan angin di wilayah tersebut hanya mencapai 5-12 knot.
Sugiyono, Kepala Stasiun Maritim Kelas IV Lampung [Foto: Henk Widi]
Sugiyono mengatakan, kondisi angin kencang di wilayah perairan Lampung disebabkan adanya gangguan sirkulasi daerah tekanan rendah di sebelah barat Sumatra. Selain itu, juga adanya perbedaan tekanan udara antara belahan bumi utara dan belahan bumi selatan, yang ikut berdampak pada kondisi cuaca di sekitar Lampung. Akibat adanya gangguan tersebut, dapat  memunculkan awan konvektif dan awan comulusnimbus.
“Kondisi cuaca seperti itu dapat menyebabkan hujan disertai petir dan angin kencang, terutama saat sore hari dan  malam hari, kondisi ini akan berlangsung dari bulan September hingga awal Oktober,” terang Sugiyono, saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (5/9/2018).
Sugiyono mengaku telah mengimbau kepada seluruh masyarakat, untuk merapikan atau memangkas pohon yang sudah tua dan rapuh, memperbaiki bangunan papan reklame yang sudah rusak atau yang sudah usang, agar tidak berdampak pada musibah.
Khusus bagi pengguna transportasi laut, nelayan  dan pengunjung wisata bahari sekitar perairan Lampung, ia juga mengimbau agar lebih meningkatkan kewaspadaannya.
Imbauan tersebut juga sudah disampaikan kepada sejumlah otoritas bandara dan pelabuhan. Khusus di pelabuhan Bakauheni Lampung, Stasiun Maritim Lampung sudah berkoordinasi dengan pihak PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP), kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Bakauheni, Ship Traffic Control (STC) Bakauheni yang diteruskan ke sejumlah nahkoda kapal roll on roll off (Roro) di lintasan Selat Sunda.
“Imbauan kewaspadaan melalui peringatan dini potensi angin dengan kecepatan 25 knot di wilayah Selat Sunda jalur penyeberangan Merak Bakauheni juga sudah disampaikan,” beber Sugiyono.
Angin kencang dalam beberapa hari terakhir, berpengaruh pada gelombang tinggi, juga diakui Slamet, pemilik jasa penyeberangan dari Pulau Rimau Balak ke Pulau Sumatra.
Menurutnya, angin kencang kerap terjadi mulai pukul 17.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB. Meski demikian, ia menyebut operasional pelayaran perahu untuk menyeberangkan warga antarpulau masih berjalan normal.
Slamet mengatakan, penggunaan perahu kayu untuk penyeberangan dilengkapi alat-alat keselamatan berupa pelampung. Waktu keberangkatan dari dermaga Muara Piluk ke Pulau Rimau Balak dan sebaliknya, juga selalu memperhatikan kecepatan angin dan gelombang.
Dominasi angin kencang di pulau-pulau di Selat Sunda, kata Slamet, cukup menghambat pemilik jasa kapal penyeberangan ke Pulau Rimau Balak dan Kandang Balak.
Angin kencang juga berpengaruh pada penyeberangan di dermaga Canti Pulau Sumatra ke Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku.
Chandra, nahkoda KMP Batang Hari 2 yang melayani pelayaran dermaga Canti ke Pulau Sebesi Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Chandra, nahkoda Kapal Motor (KMP) Batang Hari 2, mengaku sudah berkoordinasi dengan syahbandar dermaga Canti Kecamatan Rajabasa. Bersama sejumlah kapal penumpang lain, ia memastikan fasilitas keselamatan sudah disediakan di kapal.
Kapal penyeberangan antarpulau, kata Chandra, saat hari biasa hanya didominasi warga Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku. Saat pagi waktu keberangkatan dijadwalkan pukul 07.00 WIB, dan saat siang berangkat pukul 13.00 WIB.
Dalam beberapa hari terakhir, ia mengakui angin kencang masih belum mempengaruhi penyeberangan, terutama bagi warga Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku yang akan berbelanja ke daratan Sumatra.
“Saat akhir pekan dan libur panjang, kapal milik saya kerap disewa untuk ke Gunung Anak Krakatau, tapi sekarang sedang sepi, karena ada larangan mendekati kawasan Krakatau,” beber Chandra.
Chandra juga menyebut, cuaca didominasi angin kencang dan gelombang masih belum berpengaruh bagi pemilik jasa pelayaran. Meski demikian, kewaspadaan selalu ditingkatkan dengan menyediakan alat keselamatan. Pencatatan manifest muatan dan penumpang selalu rutin dicatat, sesuai arahan kesyahbandaran dermaga Canti.
Baca Juga
Lihat juga...