Waspadai Gula Tersembunyi, Hindari Penumpukan di Badan

Editor: Satmoko Budi Santoso

214

JAKARTA – Meminum teh manis dingin saat makan atau meminum minuman bersoda saat menghabiskan waktu di kafe, merupakan hal yang biasa di Indonesia.

Padahal, kebiasaan ini ternyata mampu memicu tingginya kadar gula di dalam darah, yang akhirnya menimbulkan penyakit pada orang yang mengkonsumsi.

Spesialis Gizi Klinik, dr. Diana F Suganda, M. Kes, SpGK menyatakan, memang sangat sulit untuk menghindari kandungan gula yang tersembunyi dalam makanan dan minuman.

“Gula tersembunyi ini sangat susah untuk dihindari. Karena mayoritas makanan dan minuman itu memiliki kandungan gula. Dan ini tidak disadari oleh yang mengkonsumsi. Mereka merasa tidak mengkonsumsi gula terlalu banyak, padahal jika dikalkulasikan, total asupan gula yang masuk dalam hitungan hari sudah melebihi batasan yang diperbolehkan,” kata dr. Diana saat ditemui Cendana News di kawasan Menteng Jakarta, Rabu (12/9/2018).

Tabel kandungan gula dalam makanan sehari hari – Foto Ranny Supusepa

Sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan World Health Organization (WHO) batasan gula yang dikonsumsi adalah 50 gram per hari untuk orang dewasa dan 30 gram untuk anak-anak.

“Kalau 50 gram itu sekitar 4 sendok makan. Dan 30 gram itu sekitar 6 sendok teh. Kelihatannya sedikit, tapi rata-rata masyarakat Indonesia hanya menghitung sendok gula yang nyata saja. Tidak memperhitungkan gula yang terkandung dalam makanan atau minuman yang,” ujar dr. Diana.

Lebih lanjut, dr. Diana memaparkan bahwa banyak produk yang dianggap sebagai produk sehat tapi sebenarnya mengandung gula.

“Contohnya, sereal. Kandungan gula dalam semangkok sereal itu sekitar 20 gram per mangkok tukar. Kalau ditambah susu sudah jadi 21 gram. Belum kalau ditambah madu. Bisa 23-24 gram. Ini baru pagi saja. Belum makan siang, cemilan atau minuman manis lain. Sehingga tanpa sadar orang tua membuat kandungan gula di badan anak menjadi tinggi sejak kecil,” paparnya.

Cara mengolah dan memasak suatu makanan pun, menjadi pintu masuk dari gula tersembunyi ini.

“Contohnya beras. Saat dimasak menjadi nasi putih, kandungan gulanya 0,1 gram per 100 gram nasi. Tapi saat menjadi tepung beras, kandungannya menjadi 2 gram per 100 gram. Saat dimasak menjadi nasi uduk, artinya kan menambah bumbu. Misalnya santan atau bawang. Ini akan menambah kandungan gulanya. Bawang putih itu per siung mengandung 0,03 gram gula sementara 1 buah bawang merah mengandung 2-3 gram gula. Ya tinggal dikalkulasikan saja totalnya berapa,” kata dr. Diana lebih lanjut.

dr . Diana menekankan bahwa tidak ada hubungan antara aktivitas tinggi dengan kebutuhan gula.

“Orang itu yang dibutuhkan adalah total kalori. Artinya, ada karbohidrat, lemak dan protein. Kalau batasan gula ya tetap. Kebanyakan masyarakat kita salah kabar. Berpikirnya energi itu dari gula. Padahal bukan,” tegasnya.

Menyikapi pemahaman masyarakat yang ada saat ini, dr. Diana mengharapkan adanya edukasi terkait kandungan gula. Tidak ada lagi pemahaman yang salah tentang batasan gula.

“Konsumsi gula berlebih berkaitan dengan rendahnya kesadaran masyarakat akan adanya gula tersembunyi dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi. Penting untuk menyebarluaskan pengetahuan ini. Dan penting untuk masyarakat, agar selalu membaca nutrition facts yang tercantum pada setiap kemasan makanan dan minuman. Karena di sana akan tertera kandungan gula yang ada dari setiap produk,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...