Wisata Islami Harus Utamakan Kenyamanan

Editor: Makmun Hidayat

212
Ketua YLKI, Tulis Abadi - Foto: Dok. CDN

JAKARTA — Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi menyebutkan, indikator utama wilayah itu dinyatakan wisata halal atau wisata Islami, adalah soal kenyamanan dari pengunjung atau konsumen. Karena bagaimana pun pengunjung wisata Islami mayoritas orang Islam.

Bukan soal infrastruktur yang umum, namun juga tersedia masjid di area wisata halal tersebut atau di tempat makanan halal.

“Wisata halal atau Islami itu harus memberikan fasilitas kenyamanan pengunjungnya, sehingga mereka senang berlama-lama di mal dan kembali lagi,” ujarnya Tulus pada FDG bertajuk “Menjadikan Pusat Belanja Destinasi Wisata Islami” di kantor MUI Pusat, Jakarta, Jumat (21/9/2018).

Tulus mencontohkan, di negara-negara lain seperti Tokyo, Jepang. Meskipun menurutnya, Jepang bukan negara Muslim tapi mereka sangat perduli memberikan fasilitas terbaik bagi umat Muslim dengan menyediakan masjid keliling.

Hal ini dilakukan mengingat di Jepang itu banyak wisatawan Timur Tengah yang merupakan umat Muslim. “Jadi, saya kira itu menjadi positif dari sisi ekonomi,” tandasnya.

Yang kedua adalah konsisten. Menurutnya, kalau sudah ditegakkan atau dicanangkan sebagai wisata halal harus konsisten indikator-indikator halal dijalankan. Jangan sampai menyatakan wisata halal tapi ternyata tidak sesuai kenyataan.

Memang tegas dia, kalau tidak digarap dengan baik bisa berimplikasi sebaliknya. Misalnya, Aceh itu pantai-pantainya sangat luar biasa indah, tapi mungkin tidak digarap dengan baik.

“Ini harus dibedakan antara halal dan syariah. Karena yang menjadi ketakutan adalah syariah. Jadi terminologi halal atau Islami itu lebih membumi daripada syariah,” tukasnya.

Terkait pusat belanja dijadikan sebagai destinasi wisata islami, Tulus mendukung. Karena menurutnya, secara regulasi dalam kontak hukum positif sangat sejalan dan relevan dengan apa yang diatur dalam Undang-Undang (UU) Konsumen pasal 4. Yaitu hak mendasar bagi konsumen baik pengguna produk barang atau jasa. Dan mal dalam hal ini masuk jasa dalam kategori ini atas keamanan, kenyamanan dan keselamatan bagi pengunjung.

Jadi menurutnya, kalau kebanyakan pemilik mal itu non-Muslim, tidak masalah karena yang terpenting adalah dia mempertimbangkan dan mengutamakan kenyamanan pengunjung yang mayoritas Muslim.

Disampaikan dia, bahwa Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) juga telah merespon ide pusat belanja sebagai destinasi wisata halal sangat positif.

Dalam tampilan restoran di mal juga harus dipertegas ada rujukan tempat makanan halal. Namun demikian bagi restoran non-halal, misalnya menjual masakan B2 atau babi, ini juga tidak masalah tapi pihak restoran harus memberitahukan dengan informasi yang jelas bahwa resto itu menjual B2.

“Jangan sampai restoran menjual B2, tetapi orang menyangka itu halal. Ini yang saya kira kejelasan dari data informasi bagi konsumen,” ujarnya seraya menegaskan jangan sampai tidak adanya informasi merugikan pengunjung Muslim.

Sehingga konsumen bisa menentukan pilihan-pilihan makanan. Dan kalau memang ada yang non-halal diminta dengan jelas disebutkan.

Fasilitas lainnya, membangun masjid atau mushola yang bagus di area tersebut. Karena menurutnya, selama ini banyak keluhan masyarakat ke YLKI mengadungkan fasilitas masjid di mal berada di basemant dan kumuh. Padahal masjid yang bersih itu daya tarik bagi mal untuk menarik pengunjung berkunjung berlama-lama.

“Mereka betul-betul menjadikan wisatawan sebagai raja. Kalau dia perlu yang halal tersedia lengkap, kalau perlu dibangun masjid. Nah, ini belum terlihat di Indonesia. Jadi agak ironis ketika pemerintah menargetkan 20 juta wisatawan tapi ternyata belum mendorong ke sana,” tukasnya.

Kalau saja pemerintah menggarap wisata halal ini dengan serius, mengingat potensi market pasar Indonesia terbesar dunia, Tulus menyakini wisata halal Indonesia, ratingnya akan lebih baik dibandingkan negara Malaysia dan Thailand.

Sekjen APPBI, Alphonzus Widjaya pada FGD di MUI Pusat, Jakarta, Jumat (21/9/2018) – Foto: Sri Sugiarti

Sekjen APPBI, Alphonzus Widjaya mengatakan, kalau bicara wisata Islami tentunya mal-mal ini sudah menyadari kalau umat Muslim adalah mayoritas terbesar atau market pasar paling besar sehingga mereka harus mendapat fasilitas.

Dan ini menurutnya, sudah menjadi komitmen semua mal bahwa market besar harus diberi fasilitas kenyamanan supaya mereka datang terus ke mal. “Banyak mal yang sudah berikan fasilitas mushola yang resentatif bagi kenyamanan pengunjung Muslim,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...