Yang Dimimpikan Bung Karno, Yang Datang Pak Harto

Oleh Mahpudi, MT

4.596

Catatan redaksi:

Dalam catatan Incognito Pak Harto seri ke-28 yang kami turunkan ini, bertepatan dengan peringatan Haul Wafatnya Pak Harto pada 18 Muharram tahun Hijriah. Dalam momentum yang cukup muram ini, redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto tahun 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan Diam-Diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada tahun 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Perjalanan ekspedisi Incognito Pak Harto dilanjutkan ke arah utara, mengarah ke kota-kota seperti Madiun, Ngawi, dan Bojonegoro. Kendaraan kami melintasi hutan jati menuju Bojonegoro, mengikuti rute yang ditempuh Pak Harto saat “blusukan” tahun 1970. Tak bisa dibayangkan, bagaimana kondisi daerah itu pada masa Pak Harto melintas. Keadaan daerahnya tak juga lebih baik dibandingkan jalur selatan yang telah dijelajahi berhari-hari sebelumnya. Bukit-bukit kapur dengan hutan jati, menjadi ciri khas wilayah ini.

Pak Subianto, petugas teknisi kendaraan yang menjadi saksi sejarah perjalanan Incognito Pak Harto, berkisah bahwa jalan-jalan masih banyak berupa bebatuan, dengan debu-debu beterbangan setiap kali dilintasi kendaraan. Jangan heran bila setiap kali kendaraan berhenti, Pak Harto dan tim Incognito 1970 saat itu, sering mendapati tubuhnya dipenuhi debu.

Pak Harto saat berkunjung di penggilingan padi Palahan, Karangsari, Ngawi, 24 Juli 1970 – Foto: Repro

Meski begitu, seperti disaksikan oleh Pak Subianto, sama sekali tak luntur semangat Pak Harto untuk menemui rakyatnya. Pak Harto, dengan senyumnya yang khas, turun dari kendaraan. Saat itu, tanpa ragu, Pak Harto berbincang dengan rakyatnya yang berkerumun di tepi jalan.

Pada beberapa titik wilayah, Pak Harto singgah untuk meninjau keadaan, terutama di tempat-tempat di mana ada aktivitas pertanian. Terlihat dari album foto, Pak Harto singgah di sebuah penggilingan padi yang berada di Desa Falahan, Karangsari, Ngawi. Tempat berikutnya yang dikunjungi Pak Harto, yaitu kantor Dinas Pertanian Rakyat Kecamatan Padangan, Bojonegoro. Selain itu, Pak Harto juga singgah di Kantor Ikatan Karyawan Brawijaya yang berada di Desa Banjarejo.

Pak Harto ketika berkunjung di Dinas Pertanian Rakyat Kecamatan Padangan, Bojonegoro, 24 Juli 1970 – Foto Repro

Kehadiran Pak Harto yang tiba-tiba di kantor Dinas Pertanian Rakyat Padangan saat itu, ternyata masih memberi kesan mendalam bagi keluarga Ruslan yang berhasil ditemui oleh tim ekpedisi napak tilas Incognito Pak Harto. Sebagaimana dituturkan oleh Rusmiati (puteri ke-4 Ruslan) kepada tim ekspedisi yang berhasil menemuinya pada 8 Juni 2012.

Rumah Ruslan tepat di tepi jalan, tak jauh dari kantor dinas pertanian yang masih ada ketika tim ekspedisi singgah. Betapa tidak, sore itu, Ruslan yang bekerja sebagai mantri tani, masih berada di kantor, karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, serombongan orang berjalan kaki memasuki halaman kantornya. Tentu saja, ia segera mengenali, bahwa rombongan ini bukan orang biasa. Dari pakaian yang dikenakan, jelas mereka orang penting dari kota. Ruslan pun semakin kaget, ketika seorang dari mereka menyapa dengan ramah dan mengenalkan diri sebagai Soeharto, Presiden Republik Indonesia.

Bakarudin, salah satu anggota tim Ekspedisi Incognito Pak Harto (8/6/2012) tengah berbincang dengan Kusmiati, puteri ke-4 Ruslan, Mantri Tani dari Padangan, Bojonegoro, yang sempat berbincang dengan Pak Harto pada Incognito tahun 1970 – Foto: Dok. Tim Ekspedisi Incognito

Situasi mendadak itu, membuat Ruslan tak sempat menyiapkan apa pun. Bahkan, segelas air teh dan suguhan ala kadarnya pun, tidak kuasa disiapkan Ruslan. Sang Tamu Agung juga tak terlalu hirau dengan hal itu.

Pak Harto justru lebih banyak bertanya tentang kondisi pertanian di daerah Padangan dan sekitarnya. Ruslan pun menjawab, semampu yang ia ketahui. Namun, hatinya tetap terkaget-kaget. Betapa tidak! Sehari sebelumnya, masih seperti dituturkan oleh Rusmiati, Ruslan bermimpi berjumpa dengan Bung Karno, Presiden RI yang pertama.

Mimpi Ruslan berjumpa dengan Bung Karno, sempat disampaikan kepada isterinya. Saat itu, Ruslan menganggap sebagai bunga tidur belaka. Belakangan, baru ia mengerti, ternyata, mimpinya itu adalah sebuah kabar akan datangnya orang nomor satu di negeri ini ke tempatnya bekerja. Sebuah mimpi yang unik, jumpa Bung Karno di alam mimpi, yang datang ke rumahnya di alam nyata justru Pak Harto. ***

Baca Juga
Lihat juga...