Yenny Wahid: Banyak Faktor Pemicu Radikalisme

Editor: Mahadeva WS

136
Yenny Wahid (Foto Akhmad Sekhu)

JAKARTA – Buku Islam, Minoritues and Indentity in Southeast Asia, disebut sebagai buku pertama yang mengupas secara jelas, aspek dan dinamika kelompok Islam minoritas dan identitas ke-Islaman di Asia Tenggara.

Buku tersebut dinilai oleh Yenny Wahid atau Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, sangat diperlukan untuk menghadapi masalah-masalah di berbagai negara di dunia, terutama mengenai radikalisme. “Radikalisme meski tidak spesifik hanya pada satu agama, tapi saat ini yang menguat seolah-olah ada hubungannya dengan Islam,” ungkap anak kedua dari pasangan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Sinta Nuriyah tersebut dalam acara book launch and discussion ‘Islam, Minoritues and Indentity in Southeast Asia’, Senin (3/9/2018).

Menurut perempuan kelahiran Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 1974, banyak faktor yang menyebabkan memunculkan radikalisme. Beberapa diantaranya, rasa putus asa, termasuk rasa frustasi, karena merasa masa depan yang tidak cerah. “Banyak sekali kekerasan yang terjadi di banyak komunitas Islam, dari Nigeria sampai Marawi,” ujar lulusan Studi Administrasi Publik di Universitas Harvard, Boston tersebut.

Yenny menilai, jika ingin memahami perasaan keputusasaan yang terjadi di sebuah komunitas, pada sebuah daerah, perlu mengetahui konteks lokal yang terjadi di daerah tersebut. Dinamika historis seperti apa yang membuat orang menjadi putus asa, perlakuan seperti apa yang membuat mereka lebih baik melakukan bom bunuh diri daripada berjuang lewat cara-cara demokrasi.

Kasus-kasus seperti Rohingnya, mulai ditemukan setelah ada satu-dua orang yang tertarik berafiliasi dengan kelompok ISIS. “Ini sebuah lampu tanda dari mereka bagi kita semua, apa yang sesungguhnya terjadi,” tuturnya.

Kasus perlakuan kekerasan yang diterima minoritas muslim sangat menyeramkan. Banyak pemerintah negara yang mayoritas bukan muslim tidak mengetahui isu-isu fundamental bagi masyarakat muslim. Sehingga kemudian muncul perlakuan keliru, muncul kebijakan diskriminasi, yang memicu terjadinya konflik. “Hal ini menarik untuk kita teliti bagaimana kekerasan itu terjadi. Konflik, yang sebenarnya bisa didialogkan dengan pemerintah agar tidak terjadi diskriminasi,” paparnya.

Menurut Yenny, buku ini harus dibaca oleh police maker dan opini maker. Denga membaca buku tersebut, akan didapatkan gambaran dinamika, serta nuansa yang ada di dalam komunitas-komunitas muslim di Asia Tenggara. Bahkan dengan membacanya, Yenny menyebut akan didapatkan, benang merah antara kekerasan dengan perubahan besar di Indonesia.

Lihat juga...

Isi komentar yuk