YHPI: Pemerintah Perlu Akselerasi Akses Obat Hipertensi Paru

Editor: Mahadeva WS

209
Direktur Pelayanan Kefarmasian Kemenkes Dra. R. Dettie Yuliati, Apt, M.Si.

JAKARTA – Semakin banyak penderita Hipertensi Paru yang tidak mendapat mengakses pengobatan dan perawatan yang terbaik. Hal itu mendorong para ahli Hipertensi Paru dan Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YHPI), mendesak pemerintah mengakselerasi layanan dan pengobatan bagi pasien Hipertensi Paru.

Layanan kesehatan ini meliputi, fasilitas pemeriksaan, perawatan, hingga pemenuhan kebutuhan obat-obatan yang luas, berkualitas dan terjangkau. Berdasarkan data yang dihimpun YHPI selama beberapa tahun terakhir, prevalensi Hipertensi Paru di dunia adalah 1 pasien per 10.000 penduduk. Artinya, diperkirakan terdapat 25 ribu pasien Hipertensi Paru di Indonesia.

Sebanyak 80% pasien Hipertensi Paru, tinggal di negara-negara berkembang, dimana Hipertensi Paru sering dikaitkan dengan penyakit jantung bawaan, penyakit paru lainnya (seperti penyakit paru obstruktif kronis, PPOK), autoimun, pembekuan darah (emboli), dan sejumlah penyakit lainnya.

Menurut catatan YHPI, Hipertensi Paru lebih sering diderita anak-anak hingga usia dewasa pertengahan. Juga lebih sering dialami perempuan dengan perbandingan 9:1, dengan mean survival sampai timbulnya gejala penyakit sekira dua hingga tiga tahun. “Sayangnya, penanganan Hipertensi Paru di Indonesia terkendala oleh berbagai faktor, termasuk belum luasnya kesadaran terhadap bahaya penyakit Hipertensi Paru,” kata Ketua YHPI, Indriani, dalam Dialog Media tentang Hipertensi Paru di Raffles Jakarta, Senin (24/9/2018).

Di dunia, saat ini terdapat 14 jenis molekul obat Hipertensi Paru. Dan baru tersedia empat jenis di Indonesia. “Sisanya, masih harus difasilitasi oleh pasien sendiri. Itupun harganya perlu lebih terjangkau oleh mayoritas pasien. Kami berharap akses atas obat-obatan penyakit hipertensi paru termasuk obat-obatan golongan sildenafil dengan dosis tertentu dapat dipercepat implementasinya,” katanya.

Pemerintah diharapkan dapat membantu pasien Hipertensi Paru untuk segera memperoleh pengobatan terhadap penyakit tersebut. Peningkatan pemahaman dan kewaspadaan akan Hipertensi Paru di kalangan masyarakat awam, juga sangat diperlukan, agar penyakit tersebut dapat ditangani sedini mungkin.

Direktur Pelayanan Kefarmasian Kementerian Kesehatan Dra. R. Dettie Yuliati, Apt, Msi menyatakan, bahwa kementerian Kesehatan, sangat konsen, terutama dalam hal penyediaan obat. “Obat untuk hipertensi paru kita bagi dalam tiga golongan. Yang pertama adalah golongan prostanoids, yang obatnya sudah masuk dalam fornas sejak 2011, yaitu Beraprost. Saat ini jenis obat kedua yang sedang kita ajukan adalah dari golongan Phospodiesterase inhibitors yaitu Sildenafil 20 mg. Yang sudah mendapatkan nomor izin edar dari BPOM dan sedang dalam proses untuk masuk dalam e-katalog,” tutur Dettie.

Dettie menyebut, pemerintah juga sedang mendorong industri farmasi, agar juga dapat menyediakan obat khusus untuk anak-anak. Yaitu sildenafil 10 mg berbentuk sirup. “Untuk golongan Endothelin receptor antagonists, dari jenis ketiga obatnya belum ada yang masuk ke Indonesia. Saat ini pemerintah sedang meneliti terkait penggunaannya dan bagaimana efek kegunaannya pada tubuh,” ucap Dettie.

Baca Juga
Lihat juga...