1.076 Pekerja Kayu Lapis di Pangkalan Bun di PHK

305
Ilustrasi - Dokumentasi CDN

PANGKALAN BUN – PT Korindo Ariabima Sari, sebuah perusahaan kayu lapis atau plywood di di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringim Barat, Kalimantan Tengah, melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). 1.076 pekerja diberhentikan karena perusahaan berhenti operasi.

“Langkah restrukturisasi diambil, agar kedepannya perusahaan dapat beroperasi kembali, dengan manajeman yang lebih ramping dan efisien,” kata HRD PT Korindo Ariabima Sari Pangkalan Bun, Muhammad Reza, didampingi Jang Ho Wook, selaku General Manager PT Korindo Sari.

Disebut-sebut, PT Korindo Ariabima Sari Pangkalan Bun, mengalami neraca keuangan yang tidak sehat dalam 10 tahun terakhir. Kondisi itu memaksa perusahaan mengambil langkah restrukturisasi terhadap semua kegiatan operasional perusahaan. Dampak dari kebijakan tersebut, 1.076 karyawan dan karyawati karyawan tetap harus di PHK.

Reza menjelaskan, pemasaran kayu lapis atau plywood sedang dalam kondisi tidak menentu, akibat penurunan permintaan. Selain itu, bahan baku kayu yang tidak stabil dalam beberapa tahun belakangan, juga makin memperburuk aktivitas perusahaan.

Perusahaan mem-PHK semua karyawan, setelah melakukan beberapa kali pertemuan bipartit dengan unit Serikat Pekerja (SP), yang ada di internal perusahaan. Perundingan dilaksanakan pada 4 Oktober 2018, 6 Oktober 2018 serta terakhir pada 8 Oktober 2018. Selanjutnya pada 9 Oktober 2018, dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama, dengan isi kesepakatan sesuai dengan Undang-undang No.13/2003 , pasal 64 ayat 1, 2 dan 3.

General Manager PT Korindo Ariabima Sari Pangkalan Bun, Jang Ho Wook menyebut, perusahaan sudah menyiapkan dana untuk membayar gaji dan pesangon karyawan. “Rp68 miliar untuk membayar pesangon dan Rp8 miliar untuk membayar upah gajinya, serta ada tambahan uang penghargaan masa kerja, plus uang ganti rugi rumah dan kesehatan yang semuanya akan kami berikan akhir bulan ini, mengingat per tanggal 20 Oktober 2018 ini kami sudah tidak beroperasi,” jelas Jang Ho Wook.

Jang menyebut, belum dapat memastikan kapan PT Korindo Ariabima Sari Pangkalan Bun, akan kembali beroperasi. Saat ini mereka fokus untuk menyelesaikan tanggung jawab kepada para karyawan. “Kami masih mencari solusi ke depan seperti apa, mengingat di dalam ada alat dan mesin-mesin yang jika terbengkalai terlalu lama akan rusak, tapi semua tergantung kondisi pasar dan orderan konsumen kedepan,” tambahnya.

Keputusan tersebut diklaimnya, sudah dipikirkan sejak beberapa tahun silam. Kondisi neraca keuangan sudah tidak stabil dalam 10 tahun terakhir. Setiap bulan perusahaan harus mengeluarkan biaya kurang lebih Rp8 miliar untuk membayar gaji karyawan tetap, dan Rp2 miliar untuk membayar buruh harian lepas.

Sementara pemasukan sangat minim karena orderan sepi, ditambah bahan baku juga sulit didapat. “Belum lagi persaingan di luar sana, Jepang dan Brazil juga memproduksi kayu lapis,” tambahnya.

Ketua Serikat buruh PT Korindo Ariabima Sari Pangkalan Bun, Suhartono, mengaku senang dengan etika yang ditunjukkan manajeman PT Korindo Ariabima Sari. Meski keputusan itu membuat mereka harus kehilangan pekerjaan.

“Rekan-rekan menerima semua keputusan ini, mengingat kondisi perusahaan juga tidak memungkinkan untuk terus bertahan dengan sistem yang ada sekarang. Kami juga berterima kasih kepada manajeman karena sudah sepakat untuk memenuhi tuntutan kami terkait pesangon. Jika menurut undang-undang kami hanya mendapatkan satu kali pesangon, namun pihak manajeman memenuhi permintaan kami untuk diberikan pesangon sebanyak dua kali seperti yang selama ini mereka terapkan kepada karyawan karyawan tetap yang telah pensiun,” pungkasnya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...