hut

Ananda Sukarlan, Komponis Peduli Kaum Difabel

Editor: Mahadeva WS

JAKARTA – Ananda Sukarlan, termasuk pianis dan komponis andal yang dimiliki Indonesia. Ia menetap di Jakarta dan Spanyol. Namanya lebih dikenal di kalangan musik klasik.

Dia menjadi satu-satunya orang Indonesia di dalam buku The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century, yang berisikan riwayat hidup 2.000 orang, yang dianggap berdedikasi pada dunia musik. Ananda menggelar konser musik di Festival Bebas Batas, di Galeri Nasional Indonesia. Sebuah konser yang menjadi dedikasinya terhadap kaum disabilitas.

Ananda Sukarlan (Foto Akhmad Sekhu)

Dia membuat karya komposisi musik, untuk anak-anak difabel di Spanyol, bekerjasama dengan Fundacion Musica Abierta, dan di Indonesia melalui yayasan yang didirikannya, Yayasan Musik Sastra Indonesia (YMSI). “Ini konser saya yang berhubungan dengan karya-karya saya untuk pianis dengan keterbatasan fisik, misalnya ada yang tangan kiri saja, atau tangan dengan beberapa jari saja, atau pianis yang kakinya tidak berfungsi,“ kata Ananda Sukarlan kepada Cendana News, Minggu (14/10/2018).

Lelaki kelahiran Jakarta, 10 Juni 1968 itu membeberkan, konser di Festival Bebas Batas digelar atas undangan dari British Council, yang menawarkan kolaborasi dirinya dengan Candoco Dance Company. “Proses kolaborasinya saya mengirim beberapa karya rekaman saya dan mereka mendengarkan semua kerjanya di London, dan kemudian mereka memilih yang paling cocok untuk mereka koreografikan,” jelasnya.

Dalam konser tersebut, Ananda menyebut, karya-karya komposisi yang ditampilkan, seperti di antaranya Rapsodia Nusantara No.14 dari lagu Batak, Rapsodia Nusantara No.15 untuk tangan kiri saja yang merupakan lagu daerah Lampung, dan Rapsodia Nusantara No.8 yaitu lagu O Ina Ni Keke dari Manado.

“Terus ada lagu variasi lagu Kasih Ibu, dan lagu love song, Sunset Modulation, dan Lonely Child tentang anak yang kesepian, yang bisa dimainkan dengan satu jari atau bahkan bisa pakai pensil saja mainnya,” paparnya.

Menurut Ananda, disabilitas bukan dari orangnya, tapi dari masyarakat. “Kalau tidak dikasih fasilitas, makanya ada disabilitas, tapi kalau dikasih fasilitas, maka tidak ada lagi disabilitas di dunia,” tandasnya.

Ananda mencontohkan, orang yang dengan satu tangan bisa main piano, bahkan orang dengan beberapa jari saja bisa main piano. “Karena tidak ada komponis sebelumnya yang menulis untuk orang-orang tersebut, mereka seperti tidak mendapakan kesempatan,” ujarnya.

Pengalaman membuat karya komposisi musik untuk anak-anak difabel, dilakukan Ananda karena pernah bekerja di Yayasan Open Music Foundation di Spanyol, yang bekerja untuk memperdayakan orang-orang difabel, yang punya bakat musik, tapi karena tidak ada musik yang ditulis untuk keterbatasan mereka, jadi mereka tidak main musik. “Yayasan itu meminta kepada komponis-komponis dari seluruh dunia, untuk membikin karya yang diperuntukkan bagi orang-orang yang punya keterbatasan fisik, salah satunya saya komponisnya,” terangnya.

Ananda bekerja dengan orang yang spesifik, misalnya, ada orang yang mau main piano dengan satu tangan saja, dari karya yang paling mudah sampai karya yang paling sulit. “Kerjasama dengan Yayasan itu sejak tahun 2005 sampai sekarang, “ tegasnya.

Ananda sendiri menyebut dirinya didiagnosa autis pada umur 28 tahun, yang sebenarnya diagnosanya bisa dikatakan terlambat. Tetapi dari pengalaman autis tersebut, justru membuat dirinya terinspirasi membuat karya komposisi musik untuk anak-anak difabel. “Ada komposisi lagu yang terinspitasi dari autis, yaitu Lonely Child yang bercerita tentang anak yang kesepian,” pungkasnya.

Lihat juga...