Angka Filariasis di Mimika Tinggi

211
Ilsutrasi penderita Filariasis - Dokumentasi CDN

TIMIKA – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Provinsi Papua melaporkan, angka kasus filariasis atau kaki gajah di wilayah itu masih tinggi. Saat ini angkanya sudah diatas dua persen.

Dengan kondisi tersebut, seluruh penduduk setempat, dalam lima tahun ke depan diwajibkan meminum obat untuk mencegah penyakit itu. “Mimika termasuk salah satu daerah endemis kasus filariasis, berdasarkan hasil penelitian Kemenkes di 2004. Temuan kasus filariasis terbanyak di Mimika yaitu di Kampung Iwaka SP7 (Mulia Kencana). Angka kasus filariasis di Mimika masih diatas dua persen,” kata Sekretaris Dinkes Mimika, Reynold Ubra, Sabtu (13/10/2018).

Sehubungan dengan itu, pada awal pekan depan, Pemkab Mimika menggelar kampanye minum obat massal, atau Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) penyakit filariasis. Pembagian obat untuk warga Mimika tersebut akan dilaksanakan di Kantor Bupati. “Selama lima tahun berturut-turut, setiap orang di Mimika setahun sekali meminum obat untuk mencegah penyakit filariasis. Apalagi vektornya ada di sini, sehingga minum obat massal ini merupakan solusi untuk mengeliminasi kasus filariasis di Mimika,” jelas Reynold.

Menurut Reynold, minum obat untuk cegah massal kasus filariasis dilakukan terhadap semua orang di Mimika, terkecuali ibu hamil, balita di bawah usia dua tahun dan pasien yang memiliki riwayat penyakit jantung. Kemenkes menargetkan, Indonesia sudah bebas atau tereliminasi dari penyakit filariasis pada 2020. Beberapa daerah di Indonesia sejak 2017, telah dinyatakan bebas dari filariasis, frambusia, kusta, rubela dan campak.

Kepala Seksi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Papua, Yamamoto Sasarari mengatakan, penyebaran mikrofilaria di Mimika sudah lebih dari satu persen. Hal itu masuk kategori sebagai daerah endemis filariasis. Di 2017, ditemukan tiga warga Mimika positif tertular filariasis. Sedangkan di 2007 ditemukan lebih dari 10 kasus filariasis di Mimika.

Penentuan suatu daerah masuk kategori endemis filariasis ditetapkan oleh badan kesehatan dunia atau WHO. “Kalau ada temuan satu kasus filariasis saja, maka konsekuensinya semua penduduk di satu kabupaten itu harus minum obat,” kata Yamamoto.

Dinkes Papua telah mendistribusikan obat ke daerah-daerah, terutama yang masuk kategori endemis, untuk melaksanakan program minum obat secara massal. Filariasis disebabkan oleh cacing mikro, yang ditularkan ke orang lain melalui gigitan nyamuk. Dari 29 kabupaten dan kota di Papua, lima kabupaten yang telah berhasil mengeliminasi filariasis, yaitu Merauke, Mappi, Boven Digul, Supiori dan Mimika. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...