Anies Ganti Nama OK Otrip Jadi Jak Lingko

Editor: Mahadeva WS

164

JAKARTA – Pemprov DKI Jakarta, mengganti nama sistem integrasi transportasi OK Otrip (One Karcis One Trip) menjadi Jak Lingko. Penggantian nama menjadi lingko untuk mencerminkan jejaring rute integrasi transportasi antarmoda di Jakarta.

“Kita ingin gunakan kata lingko ini menjadi sistem transportasi terintegrasi. Bayangannya seperti jaring laba-laba. Jaring laba-laba itu bisa nyambung, dari rute mana pun bisa, dari titik mana pun ke titik mana pun dalam jaringan ini,” kata Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (8/10/2018).

Dengan nama lingko, Pemprov DKI berencana, mengintegrasikan semua jenis moda transportasi, baik angkot, transjakarta, hingga transportasi berbasis rel seperti Light Tail Transit (LRT) dan Mass rapid Transit (MRT). “Tersambungkan, transportasi moda angkutan umum massal yang mikrobus, medium, yang besar, LRT, MRT, tersambung semua. Sehingga kita merasakan kota yang jalur transportasinya seperti jejaring dan jejaring lainnya,” jelasnya.

Untuk saat ini, Jak Lingko baru mengintegrasikan angkot dengan transjakarta. Dengan adanya Jak Lingko, nama OK Otrip tidak digunakan lagi. “Percobaan kemarin dengan OK Otrip berjalan dengan baik, sistem terintegrasi, it works. Fase kedua sekarang kita laksanakan sama-sama, dengan sebuah nama yang baru yang mencerminkan integrasi,” ucapnya.

Jak merupakan singkatan dari Jakarta. Sementara lingko diambil dari bahasa Nusa Tenggara Timur, lingko adalah sistem terintegrasi, seperti jejaring yang digunakan untuk distribusi air di sawah. “Karena itu istilahnya lingko, sawah yang terintegrasi. Kita ingin gunakan kata lingko ini menjadi sistem transportasi terintegrasi. Bayangannya seperti jaring laba-laba. Jaring laba-laba itu bisa nyambung, dari rute mana pun bisa, dari titik mana pun ke titik mana pun dalam jaringan ini,” jelasnya.

Lingko diambil dari kosakata Bahasa Indonesia yang baru dimasukkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pada Oktober 2018 akhir nanti. Oleh karena itu, Dia menilai, nama tersebut lebih mencerminkan identitas bangsa Indonesia. “Mengapa menggunakan istilah Jak Lingko? Saya ingin garis bawahi, kita ingin agar memiliki nama yang begitu mendengar namanya, langsung tercermin maknanya,” tutur Anies.

Anies menilai, sistem integrasi merupakan rumus kenyamanan masyarakat agar menggunakan transportasi umum. Dengan integrasi itu, masyarakat dapat menggunakan transportasi umum, di mana saja dan dengan tujuan ke mana saja. “Bila mendapatkan insentif, insentifnya, kemananan, kenyamanan, dan keleluasan, juga keterjangkauan,” tutur Anies.

Dengan sistem tersebut, orang nomor satu di DKI ini berharap, Jak Lingko bisa mempermudahkan masyarakat Jakarta dalam menggunakan transportasi. “Nah kita berharap nanti-nya benar-benar warga Jakarta berangkat dari mana saja, menuju tujuan mana saja di DKI Jakarta dengan menggunakan sistem transportasi umum Jak Lingko ini,” kata Dia.

Pemprov DKI telah sepakat dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meluncurkan nama Lingko bersama ratusan kosa kata lain. “Kita ingin nama sistem transportasi massal terintegrasi mencerminkan maknanya,” ujar Anies.

Sementara untuk logo resmi Jak Lingko, Anies Baswedan akan menggelar sayembara. Pemenangnya akan diumumkan pada akhir Oktober 2018. Peresmian nama tersebut dihadiri 11 operator angkutan umum dan PT Trans-Jakarta yakni, Budi Luhur, Koperasi Wahana Kalpika, Lestari Sukma Gema Persada, Puskopau Halim Perdana Kusuma, Kompamilet Jaya, Komilet Jaya, Komika Jaya, Kolamas Jaya, Purimas Jaya, Kojang Jaya dan PT Kencana Sakti Transport.

Sebelumnya, Anies berujar, akan mengubah nama atau rebranding, OK OTrip. Ia menginginkan nama baru yang mencerminkan pelayanan transportasi terintegrasi di ibu kota. Program transportasi OK Otrip atau One Karcis One Trip, digagas oleh tim Sandiaga Uno ketika putra Mien Uno itu menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Baca Juga
Lihat juga...