Anton Tabah : Film Sejarah Tidak Boleh Diubah

Editor: Mahadeva WS

249

SOLO – Hari Kesaktian Pancasila, yang rutin diperingati setiap 30 September, menjadi titik balik perlawan terhadap sebagian anak bangsa, yang mencoba merubah ideologi bangsa dengan sebuah paham yang sangat kejam dan terlarang. 

Namun ironisnya, Film Pengkhianatan G30S/PKI, yang seharusnya bisa menjadi sarana edukasi sejarah dan meningkatkan kewaspadaaan terhadap paham komunis, justru sejak reformasi tidak boleh ditayangkan kembali. Yang lebih membuat miris bagi pelaku sejarah atau saksi sejarah, saat ini ada pihak-pihak yang mencoba mengaburkan sejarah kelam, dengan ingin mengubah film tersebut.

“Film sejarah itu tidak boleh diubah, dihilangkan atau dikurangi. Karena proses pembuatan film ini dibuktikan di Pengadilan Negeri (PN) secara terbuka dan dibuktikan dengan barang bukti forensik yang fakta, dan ilmiah,” papar anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat, Brigjen Pol. (Purn) Dr. Anton Tabah Digdoyo, saat menghadiri Sarasehan dan Nobar Film Pengkhianatan GS30/PKI, di Halaman Masjid Nurul Iman Kalitan, Solo, Minggu (30/09/2018) malam.

Melihat dinamika dan perkembangan zaman, pria kelahiran Yogyakarta itu, miris dengan pemerintah, yang seharusnya menjaga dan konsisten mengedukasikan sejarah kepada generasi bangsa, namun justru mengusik film sejarah. Menurutnya, jika ada sosok pemimpin yang justru ingin merubah sejarah, maka bukan termasuk sebagai negawaran yang baik.

Suasana Nobar Film Pengkhianatan G30SPKI di Halaman Masjid Nurul Iman Kalitan, Solo – Foto Harun Alrosid

“Ada orang yang mengusulkan film G30S/PKI ini di daur ulang. Dihilangi adegan kekejamannya. Saya tegaskan film sejarah itu tidak boleh dihilangkan ataupun dikurangi. Saya sebagai polisi penegak hukum, selaku pelaku yang melihat langsung bagaimana proses pembuatan film G30S/PKI, yang korbannya tujuh jendral. Belum jendral yang lain, dan perwira lain TNI-Polri. Peltu KS Suhut, itu juga dibunuh PKI,” ungkap Anton Tabah.

Anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu menambahkan, Film penumpasan pengkhianatan G30S/PKI, dibuat dengan melakukan kajian panjang dan hati-hati. Seluruh tahapan juga telah dibuktikan melalui Pengadilan Negeri dengan bukti-bukti otentik. “Jadi bagaimana cara membunuhnya, apakah digergaji atau ditusuk semua dengan forensik. Jadi tidak ngawur, dan sidangnya terbuka, sidang di Pengadilan. Mungkin waktu itu kita masih kecil. Sidang PN ini sangat terperinci,” tegasnya.

Anton Tabah mengajak masyarakat untuk tidak takut menyaksikan film G30S/PKI. Banyak hal yang dapat dipetik pelajaran dari menyaksikan film bersejarah di Indonesia itu. Salah satunya untuk bisa menjadi renungan bagi generasi penerus, agar kejadian kelam itu tidak terulang lagi.

“Ada yang mengatakan yang nonton film ini dianggap provokator. Justru nonton ini untuk nguri-unguri sejarah. Alquran juga banyak memuat sejarah. Karena film ini mengajarkan, agar kita tidak tersandung masalah seperti sejarah. Jangan takut-takut nonton film ini. Karena telah dibuat berdasarkan bukti-bukti forensik dan pembuatannya sangat jlimet,” pungkas cucu pendiri pasar Goden Yogyakarta, Ki Bagus Tirto Digdoyo tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...