Anton Tabah : Film Sejarah Tidak Boleh Diubah

Editor: Mahadeva WS

SOLO – Hari Kesaktian Pancasila, yang rutin diperingati setiap 30 September, menjadi titik balik perlawan terhadap sebagian anak bangsa, yang mencoba merubah ideologi bangsa dengan sebuah paham yang sangat kejam dan terlarang. 

Namun ironisnya, Film Pengkhianatan G30S/PKI, yang seharusnya bisa menjadi sarana edukasi sejarah dan meningkatkan kewaspadaaan terhadap paham komunis, justru sejak reformasi tidak boleh ditayangkan kembali. Yang lebih membuat miris bagi pelaku sejarah atau saksi sejarah, saat ini ada pihak-pihak yang mencoba mengaburkan sejarah kelam, dengan ingin mengubah film tersebut.

“Film sejarah itu tidak boleh diubah, dihilangkan atau dikurangi. Karena proses pembuatan film ini dibuktikan di Pengadilan Negeri (PN) secara terbuka dan dibuktikan dengan barang bukti forensik yang fakta, dan ilmiah,” papar anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat, Brigjen Pol. (Purn) Dr. Anton Tabah Digdoyo, saat menghadiri Sarasehan dan Nobar Film Pengkhianatan GS30/PKI, di Halaman Masjid Nurul Iman Kalitan, Solo, Minggu (30/09/2018) malam.

Melihat dinamika dan perkembangan zaman, pria kelahiran Yogyakarta itu, miris dengan pemerintah, yang seharusnya menjaga dan konsisten mengedukasikan sejarah kepada generasi bangsa, namun justru mengusik film sejarah. Menurutnya, jika ada sosok pemimpin yang justru ingin merubah sejarah, maka bukan termasuk sebagai negawaran yang baik.

Suasana Nobar Film Pengkhianatan G30SPKI di Halaman Masjid Nurul Iman Kalitan, Solo – Foto Harun Alrosid
Lihat juga...