APBTN Bhuana: Perajin Batik Harus Ada Regenerasi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

243

BEKASI — Ketua umum dan pendiri Asosiasi Profesi Batik dan Tenun Nusantara (APBTN) Bhuana, Dedeh Kurniasari kembali mengingatkan akan pentingnya regenerasi perajin batik. Hal tersebut agar dapat menjaga warisan budaya tidak hilang ditelan zaman.

“Seperti saya, sudah tua harus ada yang melanjutkan. Agar warisan budaya tidak hilang ditelan zaman,” ungkap Dedeh, pendiri lembaga sertifikasi batik, Selasa (2/10/2018).

Menurut Dedeh yang saat ini mengaku fokus melangkah di jalur pendidikan dengan memberi pelatihan, kelestarian batik hanya bisa dilakukan jika pendidikan membatik terus digalakkan.

“Selama ini, kebanyakan hanya memcari faktor keuntungan saja dari batik, mereka lupa pelestarian. Dan ini tugas saya sekarang untuk mewariskan budaya warisan leluhur,” jelas Dedeh.

Selain itu, APBTN Bhuana ini, didirikan bertujuan untuk memberikan legalitas, kemampuan membatik bagi masyarakat Indonesia. Sehingga ke depan mereka juga memiliki legal formal.

“Tidak hanya mengaku bisa membatik tetapi dibuktikan dengan legalitas yang sah,” jelas Dedeh mengaku Asosiasi itu berdiri untuk menjaga kekayaan nusantara yang sudah diakui Unisco.

Pemilik Batik Chandrabaga Khas Bekasi

Nama Dedeh Kurniasari, tidak asing lagi, melalui karyanya sejak 2009 lalu, Kota Bekasi setidaknya telah memiliki ciri khas batik tersendiri yakni, Batik Chandrabaga dengan motif khas kota Patriot.

“Batik ini memiliki makna tersendiri, untuk menggambarkan Kota Bekasi. Nama Chandrabaga yang asal katanya dari bahasa sansekrta sudah ada sejak zaman kerajaan Taruma Negara, yang berarti bulan sepasi atau bulan sabit,”jelas Dedeh.

Adapun kelebihan dan ciri khas Batik Chandrabaga, motifnya bercerita, dengan pakem corak bambu runcing, sekarang menjadi lambang Kota Patriot. Sehingga siapa yang melihatnya akan tahu jika ini dari Kota Bekasi.

“Motif harus bisa bercerita jangan asal membuat saja. Sebelum membuat batik membaca dulu filosofi Kota bekasi, seperti gambar semut, kalong, akar kelapa yang mencirikan suatu daerah,”ujarnya.

Dedeh Kurniasari Menunjukkan Kemeja Batik bercorakkan akar kelapa. Foto: Muhammad Amin

Batik Chandrabaga memiliki corak andalan yakni, batik Bunga Teratai. Dan corak itu menggambarkan Kampung Rawa Teratai di Kota Bekasi, ada juga Rawa Semut, topeng, buah dan lainnya sebagai identitas daerah.

“Jadi meskipun yang bikin bukan dari saya, tapi saat orang melihat batik dan meniru, maka orang akan bilang itu Batik Chandrabaga,”tukasnya.

Setidaknya di tempat Dedeh saat ini ada 60 corak batik, yang semuanya bercerita tentang identitas Kota Bekasi. Di sini juga ada Batik Tulis, yang dikerjakan sendiri di rumah produksi berlokasi di Komplek Inkoppol, Kranji Bekasi Barat Kota Bekasi.

Di rumahnya, selain ada tempat konveksi, ada lokasi khusus tempat membatik yang disediakan untuk pelatihan. Harga batik yang dijual pun berbeda mulai dari Rp200 ribu hingga Rp750 ribu, harga tertinggi untuk batik tulis, karena tingkat kesulitan pengerjaan berbeda.

Baca Juga
Lihat juga...