Apindo Diminta Tingkatkan Kualitas dan Daya Saing SDM

293
Logo Apindo - Dok. Apindo Kepri

JAKARTA — Kementerian Ketenegakerjaan meminta keberadaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dapat berperan positif dan berkontribusi semakin optimal dalam peningkatan kualitas, kompetensi maupun daya saing SDM di Indonesia.

“Kemnaker sangat berharap Apindo peduli dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas SDM dan upaya pengurangan pengangguran. Pengalaman menunjukkan tanpa kepedulian pengusaha, daerah tidak akan maju. Yang rugi kita semua, ” kata Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemnaker, Bambang Satrio Lelono melalui siaran pers di Jakarta, Jumat (5/10/2018).

Bambang menguraikan terjadinya transformasi sumber daya ekonomi tertinggi yang semula berbasis SDA dan jumlah tenaga kerja banyak dan murah telah beralih menjadi ekonomi berdasarkan pengetahuan. Artinya ekonomi berdasarkan SDM yang terampil, kompeten dan memiliki daya saing tinggi. Hal ini dibuktikan dengan negara-negara yang tidak memiliki SDA atau memiliki SDA dengan jumlah terbatas, namun bisa menjadi negara maju.

“Seperti Singapura, Korea, Jepang, Jerman dan Belanda. Mereka maju bukan karena SDA, bukan karena mampu membayar tenaga kerja murah, tetapi karena memiliki SDM yang sangat terampil, ” kata Bambang Satrio.

Dia berpendapat program pemerintah ke depan yaang fokus dalam peningkatan kualitas SDM adalah program yang sangat tepat, karena sangat disadari negara Indonesia hampir memiliki semuanya, kecuali jumlah tenaga kerja trampil yang memadai.

Data statistik tenaga kerja menyangkut jumlah angkatan kerja Indonesia sebanyak 133 juta, dengan tingkat pendidikan SMP ke bawah sebanyak 40 persen. Padahal ke depan, dunia akan diwarnai dengan otomatisasi dan digitalisasi, yang tidak bisa didukung atau dilaksanakan oleh tenaga kerja yang hanya berpendidikan SMP, berpendidikan menengah 28 persen (SMA/SMK) dan 12 persen berpendidikan tinggi.

Bambang menyatakan tingkat pengangguran terbuka tertinggi justru berasal dari lulusan SMK disusul lulusan Politeknik. Hal tersebut menjadi problematika bahwa pendidikan vokasi dan pendidikan formal belum sepenuhnya mampu mengantarkan lulusannya masuk ke dunia kerja.

“Inilah PR kita semua, angkatan kerja kita harus ditingkatkan kualitasnya dan daya saingnya, sehingga kita mampu benar-benar bersaing dengan negara lain,” katanya.

Bambang menjelaskan pengalaman dari keberhasilan negara-negara maju, disebabkan besarnya peranan dunia industri/usaha dalam memberikan kontribusi peningkatan kualitas SDM. Contohnya Jerman, dalam kelola sistem peningkatan kualitas SDM-nya, didukung peranan industrinya sebanyak 85 persen dan hanya 15 persen difasilitasi pemerintah.

Artinya industri menentukan standar pendidikan dan ketrampilan dan industri menyusun grand design rencana induk peningkatan kualitas SDM. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...