AWPI: Rekrutmen Wartawan Harus Diperbaiki

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

227

BEKASI — Ketua Umum Asosiasi Wartawan Proefsional Indonesia (AWPI), Nadiyanto mengakui sistem rekrutmen di Indonesia masih belum memiliki standar baku. Hal tersebut menjadi persoalan mendasar hingga lahirlah ‘label’ wartawan Bodrex, Oskadon dan sebagainya.

Ketua Umum AWPI, Nadiyanto. Foto: Muhammad Amin

“Tanpa profesionalitas rekrutmen, tak heran banyak oknum di lapangan mengaku sebagai wartawan. Mereka hadir dari profesi antah berantah sebelumnya, dan tidak memahami kode etik jurnalistik dan UU Pers,” tegas Nadiyanto, usai melantik Ketua AWPI Bekasi Raya, Selasa (9/10/2018).

Dikatakan, tanpa adanya sistem rekrutmen, tanpa sertifikat kompetensi ataupun diklat khusus, maka banyak oknum di lapangan mengaku wartawan dengan mendatangi pejabat lurah, dan Camat hingga melakukan hal yang jauh dari profesi.

Ia mendorong agar Dewan Pers, dapat mengeluarkan pedoman khusus yang mengatur mekanisme perekrutan. Harus ada batasan bagi mereka yang mengaku wartawan seperti sertifikat kompetensi atau pernah mengikuti Diklat.

“Karena kita mencintai dunia jurnalis maka akan menuju profesional. Nama wartawan selama ini dicemarkan, karena oknum oknum. Lebih celaka motivasinya bukan karena jurnalis tapi untuk kepentingan pribadi,” tegas Nedi.

Semua organisasi pers harus membuat blue print tentang pedoman komitmen wartawan. Saat ini, ia menilai masing-masing jalan sendiri.

“Harapan AWPI kedepan akan menjalin kerjasama dengan seluruh kekuatan organisasi pers yang bernaung di wilayah hukum di NKRI. Duduk bersama membicarakan masa depan pers indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu, pelantikan Ketua AWPI Bekasi Raya, dilangsungkan dengan penyelenggaraan Diklat, selama dua hari. Diklat mengupas undang undang pers dan kode etik wartawan.

Baca Juga
Lihat juga...