Babak Baru FFI, Meramu Narasi Indonesia Secara Kuat

Editor: Makmun Hidayat

178
Lukman Sardi, Ketua FFI Periode 2018-2020 - Foto Akhmad Sekhu

JAKARTA — Festival Film Indonesia (FFI) 2018 siap digelar. Mengusung tema ‘Mencari Mahakarya Batasnya Hanya Kualitas’, ajang penghargaan perfilman paling bergengsi di Tanah Air itu digelar dengan formula baru.

“Penyelenggaraan FFI tahun ini ada sesuatu yang baru, dimana kita dari BPI (Badan Perfilman Indonesia), dan Pusbang Film Kemendikbud berusaha mencari formulasi baru dengan pengembangan yang tentu lebih baik dengan puncaknya penghargaan Piala Citra,” kata Lukman Sardi, Ketua FFI Periode 2018-2020 saat acara Peluncuran FFI 2018 di Metropole XXI, Jakarta, Senin (1/10/2018) malam.

Lukman membeberkan FFI dari tahun ke tahun selalu panitianya berubah-ubah tiap tahun, tapi FFI tahun ini panitianya dibentuk dengan masa kerja tiga tahun.

“Buat kami ini tentu sebuah terobosan baru yang sangat baik karena kalau bicara sebuah festival tentu kita bicara kualitas tentu untuk mencapai kualitas programnya harus selalu berkesinambungan,“ bebernya.

Menurut Lukman, FFI tahun ini membuat program yang tidak hanya bicara tentang penghargaan, tapi juga bicara keseluruhan.

“Yang ingin kita capai adalah kualitas film Indonesia yang tentunya melibatkan seluruh stakeholder film Indonesia, juga di luar perfilman, seperti di antaranya sekolah maupun komunitas perfilman,“ paparnya.

Lukman menyampaikan mulai FFI tahun ini terbagi dalam program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. “Yang paling dekat adalah FFI sendiri, dimana kita mencoba meramu semua unsur yang kalau kita bicara kita punya narasi Indonesia yang sangat kuat,“ ungkapnya.

Sebagai ketua FFI, Lukman membutuhkan banyak support, seperti di antaranya BPI (Badan Perfilman Indonesia), Pusbang Film Kemendikbud dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). “Karena kalau kolaborasi dengan berbagai unsur tentu acaranya semakin berjalan lancar,“ ujarnya.

Lukman menyebut kepanitiaan FFI 2018 terbagi dalam beberapa komite yang diketuai oleh ia sendiri. “Komite-komite lainnya, Catherine Keng sebagai sekretaris, Edwin Nazir (keuangan dan pengembangan usaha), Lasja F. Susatyo (program), Nia Dinata (penjurian), serta Coki Singgih (komunikasi),” urainya.

Di samping Piala Citra, Komite FFI juga akan menjalankan berbagai program. “Berbagai program itu seperti di antaranya kanonisasi film Indonesia, pelatihan tingkat pakar, kolaborasi komunitas, literasi, dan apresiasi publik,“ paparnya.

Untuk penjurian, Lukman menjelaskan, sama seperti FFI sebelumnya yakni dengan tiga kriteria yang digunakan sebagai dasar penilaian, di antaranya gagasan dan tema, kualitas estetika, serta profesionalisme.

“Penjurian juga melibatkan partisipan aktif asosiasi profesi dan komunitas melalui proses seleksi internal. Pemilihan pemenang dilakukan oleh perwakilan yang ditunjuk asosiasi profesi dan komunitas ditambah 10 juri mandiri,“ terangnya.

Juri dari asosiasi dan komunitas dianggap mampu memahami secara baik setiap detail dari setiap unsur yang dinilai, serta mengetahui tren perfilman dunia.

“Jadi asosiasi akan merekomendasikan film-film. Sistemnya di FFI bukan mendaftar. Kalau sudah tayang 1 Oktober 2017 sampai 30 September 2018 itu otomatis diseleksi,“ tegasnya.

Setelah asosiasi merekomendasikan, kata Lukman, baru dari situ diolah menjadi nominasi kategori. Hingga muncul pemenang melalui vote. “Kita gunakan konsultan publik independen, Deloitte Consulting, jadi vote kita nggak tahu, panitia juga nggak tahu,” tandasnya

Tahapan FFI 2018, yaitu penjurian berlangsung 2-25 Oktober 2018, kemudian nominasi yang akan diumumkan pada 6 November 2018. Selanjutnya, pemenang Piala Citra FFI 2018 yang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Penghargaan pada Desember 2018 di TIM.

Baca Juga
Lihat juga...