Balikpapan Harapkan Produksi Singkong Dipertahankan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

125

BALIKPAPAN — Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (DPPP) Kota Balikpapan mencatat produksi singkong setiap tahunnya mencapai 45 hingga 46,5 ton per hektare dengan luas lahan yang dimiliki 121 hektare.

Tingginya potensi produksi singkong di kota bertajuk Madinatul Iman, Pemerintah Kota Balikpapan, mengharapkan ketersediaannya dapat terus dipertahankan. Mengingat Asosiasi Cinta Singkong (ACIKO) untuk kota sudah terbentuk sehingga olahan makanan pun akan banyak tersedia.

“Saya pesan seluruh pihak yang terlibat agar tetap konsisten mengembangkan produk olahan singkong dengan terus berinovasi membuat produk baru. Tak hanya itu, menjaga ketersediaan pasokan sangat penting, agar saat diolah tidak kesulitan,” ucapnya di Balikpapan, Senin (8/10/2018).

Menurut Dyah, singkong sangat baik diberikan untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus yang tidak boleh tersentuh gloten. Singkong juga dapat dijadikan sebagai makanan alternatif bagi penderita kolesterol tinggi.

“Sangat bagus untuk olahan makanan sebagai bahan dasar, sehingga dapat menjadi alternatif. Kita ajak masyarakat untuk menyukai singkong,” katanya di Kantor DPPP Balikpapan.

Di tempat yang sama, Sekretaris Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Balikpapan, Muhammad Yusuf menjelaskan, singkong sangat cocok dibudidayakan di daerah minyak ini karena proses penanaman dan perawatannya mudah dibandingkan dengan tanaman pangan lain.

“Apalagi kebutuhannya airnya tidak harus berlebihan, sehingga sangat cocok untuk terus ditanam di Balikpapan yang sering kering,” tandasnya.

Dengan dikembangkannya singkong sebagai bahan pangan lokal, lanjut Yusuf, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkannya sebagai alternatif pengganti beras dan terigu.

“Apalagi 90 persen kebutuhan beras di Balikpapan berasal dari luar, sehingga diharapkan ini dapat mengurangi ketergantungan. Karena ada bahan pokok lainnya yang dapat dijadikan alternatif untuk pilihan masyarakat,” tuturnya.

Yusuf melanjutkan dengan tingginya produksi singkong di Balikpapan dan kurangnya minat masyarakat dalam memanfaatkannya sebagai alternatif bahan pangan mengakibatkan harga jualnya menjadi rendah.

“Karena banyak yang kurang berminat, maka harga jualnya pun sangat murah yaitu cuma 500 perak per kilo. Itu sangat miris sekali, bahkan petani membiarkan singkongnya menjadi kayu,” tutup Yusuf.

Baca Juga
Lihat juga...