Banjir Sumbar Telan Korban Jiwa Tujuh Orang

Editor: Mahadeva WS

229

PADANG – Bencana banjir dan longsor yang melanda 11 kabupaten dan kota di Sumatera Barat, beberapa hari terakhir, tercatat menelan korban jiwa tujuh orang. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) korban jiwa ada di dua daerah.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumatera Barat Rumainur/Foto: M. Noli Hendra

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumatera Barat, Rumainur, tujuh orang korban itu terdiri dari tiga orang anak. Mereka merupakan korban tanah longsor di Kabupaten Padang Pariaman. Sementara untuk empat orang lainnya, merupakan bencana banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar.

“Untuk di sembilan kabupaten dan kota lainnya, yang turut dilanda bencana banjir dan longsor, sejauh ini untuk korban jiwa nihil. Artinya ada dua daerah yang terdampak bencana di Sumatera Barat yang memakan korban, yaitu Tanah Datar dan Padang Pariaman,” jelas Rumainur, Sabtu (13/10/2018).

Khusus di Kabupaten Tanah Datar, saat ini masih ada satu korban yang belum ditemukan, akibat terseret banjir bandang. Korban terseret dari bersama empat korban lain yang telah ditemukan, di nagari atau desa tetangga. “Untuk satu orang yang kita cari itu, pencarian dilakukan dengan menyisir sepanjang aliran sungai. Soal kendala, saat ini yang dihadapi tim di lapangan, lokasi sungai yang ditelusuri cukup panjang, sampai lima kilometer dari titik kejadian,” jelasnya.

11 daerah yang dilanda bencana banjir dan longsor itu adalah, Kabupaten Pasaman Barat, Pasaman, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Limapuluh Kota dan Kabupaten Tanah Datar. Kemudian Kota Sawahlunto, Kabupaten Agam, Sijunjung, Mentawai dan Kabupaten Solok. “Dari sejumlah daerah itu, ada 305 mengalami kerusakan dampak dari bencana tersebut. Selain itu juga ada tiga sekolah yang terendah banjir, tiga masjid, dan tiga jembatan putus tersebar di 11 daerah itu,” paparnya.

Sementara untuk cuaca, Rumainur menyebutkan sejak Jumat (12/10/2018) sore hingga Sabtu (13/10/2018) siang, cuaca di lokasi pencarian yakni di Kabupaten Tanah Datar cerah. Ia berharap hujan tidak lagi turun, sehingga akan memudahkan dalam pencairan korban.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Minangkabau, Yudha Nugraha menjelaskan, berdasarkan data, Oktober ini merupakan bulan dengan jumlah curah hujan yang tinggi, bila dibandingkan dengan bulan lainnya. Sehingga kemungkinan terjadinya potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, lebih intens terjadi sejak Oktober ini hingga pertengahan Desember mendatang.

Artinya, dalam dua hingga empat hari ke depan, masih terdapat potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, di wilayah Kepulauan Mentawai, Pesisir Barat dan tengah Sumatera Barat. Penyebab hujan yang turun berkepanjangan di Sumatera Barat, adalah adanya pola gangguan cuaca, seperti tekanan rendah di Samudera Hindia dekat Mentawai, dan daerah pertemuan udara basah di atas Sumatera Barat.

Kondisi tersebut terjadi cukup kuat, untuk mengumpulkan uap air sebagai pembentuk awan hujan. “Jadi pada bulan Oktober ini akan semakin sering terjadi pola-pola gangguan cuaca tersebut,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...