Bank Sampah, Wujud Kepedulian Siswa SMKN 6 Malang Terhadap Lingkungan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

292

MALANG — Hingga saat ini, sampah masih menjadi salah satu masalah utama dalam pengelolaan lingkungan di tengah-tengah masyarakat. Kurangnya edukasi, membuat kebanyakan orang menganggapnya sebagai sesuatu yang menjijikkan.

Merespon permasalahan tersebut, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 6 kota Malang, sejak 2016 me-launching program Bank sampah, dimana nasabahnya berasal dari seluruh siswa, guru, hingga wali murid.

Penggagas bank sampah SMKN 6 Malang, Sulaiman Sulam bersama siswi menunjukkan buku tabungan bank sampah. Foto: Agus Nurchaliq

Penggagas, Sulaiman Sulam menceritakan, pada 2012 sebenarnya sudah ada program bank sampah di SMK 6, hanya saja kemudian stagnan hingga 2014.

“Dulu belum ada sistem yang bagus dan belum ada gudang penyimpanan yang memadai sehingga bank sampah pada waktu tidak dapat berkembang,” jelasnya kepada Cendana News, Rabu (10/10/2018).

Dari situ, pria yang akrab disapa Sule ini, bersama dengan timnya kemudian mencari cara untuk dapat menggerakkan kembali. Salah satu caranya yakni dengan membuat Standar Operational Prosedur (SOP) bank sampah dan mensosialisasikan program kepada seluruh stake holder SMKN 6.

“Kita sosialisasikan kepada seluruh siswa, wali murid, guru, bahwa kami memiliki program bank sampah yang bisa menjadi solusi, dimana hasil dari tabungannya nanti digunakan untuk membayar SPP, membeli buku, kunjungan industri, atau untuk memulai wirausaha,” terangnya.

Berangkat dari semangat tersebut, selanjutnya dilakukan uji coba selama tiga bulan dan ternyata mulai ada perkembangan. Setelah mereka mengenal, satu per satu mulai ada siswa maupun guru yang menabung, sehingga terjadilah proses transaksi secara berkelanjutan hingga hari ini.

“Untuk guru ada sekitar 23 orang nasabah. Sedangkan siswa kita wajibkan, sehingga total keseluruhan berjumlah 1971 nasabah,” sebutnya. Tapi yang aktif menabung sekitar 900 orang nasabah, imbuhnya.

Sementara itu, mengenai mekanisme menabung sampah menurut Sule cukup mudah. Siswa cukup membawa sampah yang sudah dikumpulkan untuk kemudian dipilah sebelum dijual ke Bank Sampah Malang (BSM). Setelah itu baru dilakukan penimbangan dan hasinya dicatat dalam buku catatan tabungan siswa.

“Jadi yang menyimpan uang hasil penjualan sampahnya bukan kami, tapi bank sampah Malang. Tapi ketika ada nasabah atau siswa yang mau melakukan pencairan, kita baru mengajukan ke bank sampah Malang,” ungkapnya.

Untuk jenis sampah yang banyak ditabung oleh siswa adalah yang memiliki nilai jual tinggi seperti koran, kardus, kertas HVS, gelas dan botol air mineral.

Lebih lanjut Sule mengatakan, dengan kahadiran program bank sampah, SMKN 6 ingin mengedukasi siswanya bahwa sampah bukanlah merupakan sesuatu yang menjijikkan.

“Kita bisa mendapatkan uang dari menabung sampah, dan uangnya bisa kita gunakan untuk sesuatu yang bermanfaat,” ucapnya.

Harapannya, lulusan SMKN 6 mampu memahami peran siswa untuk mengatasi permasalahan lingkungan dalam menghadapi perubahan iklim yang disebabkan ulah manusia itu sendiri.

Baca Juga
Lihat juga...