Bantuan Bagi Difabel di Sikka Dinilai Belum Optimal

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

146

MAUMERE — Bantuan kepada kaum difabel di kabupaten Sikka, baik oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun pemerintah daerah dinilai belum memberikan hasil yang memuaskan.

Kepala Dinas Sosial kabupaten Sikka, Ir. Eny Laka mengakui, selama ini pendampingan pemerintah masih belum maksimal.

“Ke depannya pemerintah akan mengoptimalkannya,” sebutnya di Sikka ,Selasa (2/10/2018).

Dikatakan Emy, Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 hadir agar kaum difabel mempunyai hak yang sama dengan orang normal. Mereka perlu diperhatikan dan diberikan penguatan kapasitas sesuai dengan potensi yang dimiliki.

“Bila memiliki bakat di otomotif maka diberikan pelatihan otomotif dan lainnya. Intinya agar mereka bisa diberikan keterampilan sesuai dengan bakat dan kemampuan,” tuturnya.

Selama ini, Dinas Sosial bekerja sama dengan LSM sudah mengirimkan kaum difabel untuk mengikuti pelatihan di luar daerah dengan harapan mereka dapat mandiri.

“Kita ingin agar tingkat ketergantungan kepada keluarga berkurang karena biasanya penyandang disabilitas dianggap sebagai anak yang tidak berguna tetapi ternyata mereka mempunyai potensi,” sebutnya.

Emy harapkan ke depannya penyandang disabilitas menjadi perhatian khusus. Program pemerintah juga akan dibuat khusus tentang kaum difabel, agar mereka diperhatikan secara serius dan tuntas.

Kepala dinas Sosial kabupaten Sikka Ir.Emy Laka.Foto : Ebed de Rosary

“Pemerintah akan menyiapkan tempat khusus untuk penyandang disabilitas dan menyalurkan mereka sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka,” ungkapnya.

Jhonson Sumangkat salah seroang difabel yang berdiskusi dengan bupati Sikka Roberto Diogo Idong meminta agar diberikan tunjangan hidup khusus untuk mereka yang tidak bisa bekerja sama sekali.

“Sudah ada bantuan bagi penyandang disabilitas seumur hidup namun pemberiannya masih pilih-pilih orang dan banyak penyandang difabel yang tidak mendapatkannya,” terangnya.

Johnson meminta agar jangan menggunakan kuota, tetapi siapa saja penyandang difabel yang membutuhkan, diberikan saja bantuan. Dirinya meminta agar jangan dianggap sebagai warga kelas dua.

Sementara itu, Bupati Sikka Robertus Diogo Idong yang baru seminggu lebih menjabat menyebutkan, ada program-program kegiatan pelatihan keterampilan serta bantuan modal usaha untuk penyandang disabilitas.

“Memang ada rencana untuk membuat semacam balai latihan kerja bagi penyandang disabilitas di kabupaten Sikka namun tentunya hal ini akan kami bahas lagi bersama DPRD Sikka termasuk soal alokasi anggarannya,” sebutnya.

Baca Juga
Lihat juga...