BAZNAS Petakan Potensi Kerugian Ekonomi Akibat Bencana

Editor: Koko Triarko

137
JAKARTA – Untuk membantu pemulihan pascagempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng), Pusat Kajian Strategi Baznas Amil Nasional (Pusksas BAZNAS), melakukan pemetaan potensi kerugian yang berdampak pada perekonomian.
Direktur Puskas BAZNAS, Irfan Syauqi Beik, menjelaskan, perhitungan kerugian infrastruktur dan pemetaan potensi kerugian terbesar pada sektor ekonomi di wilayah terdampak yang dialami oleh Palu dan Donggala.
“Untuk kota Palu, estimasi kerugian infrastruktur senilai Rp23,9 triliun,” kata Irfan, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (11/10/2018) sore.
Ada pun dari sisi perekonomian, potensi terbesar pada sektor yang terdampak yaitu industri sebesar 48 persen di Kecamatan Mantikulore, peternakan 39 persen di Kecamatan Palu Utara, dan Hortikultura sebesar 40 persen di Kecamatan Tawaeli.
Potensi infrastruktur kesehatan terdampak paling besar di Kecamatan Mantikulore sebesar 23 persen, dan infrastruktur pendidikan di Kecamatan Palu Timur 19 persen.
Sedangkan untuk Kabupaten Donggala, estimasi kerugian infrastruktur senilai Rp773,2 miliar. Dengan rincian dari  sisi perekonomian potensi terbesar pada sektor yang terdampak, yaitu perkebunan 38 persen di Kecamatan Sindue Tambusabora, peternakan 23 persen di Kecamatan Dampelas, hortikultura buah-buahan sebesar 32 persen di Kecamatan Sindue Tobata, dan Hortikultura sayur-sayuran sebanyak 30 persen di Kecamatan Tanantovea.
Potensi infrastruktur kesehatan dan infrastruktur pendidikan terbesar di Kecamatan Banawa Selatan, yakni 12 persen.
“Pemetaan perhitungan kerugian pascagempa dan tsunami di Palu dan Donggala ini, kami lakukan satu hari setelah bencana alam menghantam. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan quick assessment,” ungkapnya.
Menurutnya, adanya analisis dampak ekonomi bencana ini, diharapkan akan memberikan panduan bagi BAZNAS untuk mendesain program intervensi, dalam rangka pemulihan perekonomian lokal, baik di Palu-Donggala maupun di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Ketua BAZNAS, Bambang Sudibyo, menambahkan, peran BAZNAS diawali dengan fase rescue atau upaya penyelamatan secara cepat dan tepat, bantuan kebutuhan dasar untuk mengembalikan kemandirian korban, pengembalian keadaan sebelum terjadi bencana atau recovery dan pembangunan kembali sarana prasarana yang rusak akibat bencana atau reconstruction.
“Pada saat terjadi bencana, masyarakat yang terdampak akan kehilangan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Aset-aset pribadi maupun umum yang rusak akibat bencana, akan menghalangi produktivitas mereka dalam melakukan berbagai hal, misalnya dari segi ekonomi”, katanya.
Sebab itu, menurutnya, mereka juga dapat dikategorikan sebagai ashnaf fakir dan berhak untuk mendapatkan zakat. “Selain diberikan uang zakat, masyarakat terdampak bencana juga bisa diberikan bantuan dari uang infaq dan sedekah yang ada di BAZNAS,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...