Belajar Toleransi dari Masyarakat Kalbar di TMII

Editor: Koko Triarko

194
JAKARTA -Istana Kadriah yang diabadikan dalam bentuk replika bangunan utama Anjungan Kalimantan Barat Taman Mini Indonesia (TMII), terlihat begitu mewah menggambarkan keutuhan persatuan.
Pemandu Anjungan Kalimantan Barat TMII, Nur Hakimah, menjelaskan, replika Istana Kadriah milik kesultanan Pontianak diresmikan oleh Gubernur KDH Tingkat Kalimantan Barat, Kadarusno, pada 17 April 1975.
Istana Sultan Kadriah didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrakhman Alkadri pada 1771 Masehi. Berfungsi sebagai tempat tinggal Sultan dan keluarga, sekaligus pusat pemerintahan kesultanan Pontianak, kala itu.
“Replika Kadriah ditampilkan di TMII, untuk pelestarian budaya sejarah. Karena berdirinya Istana Kadriah adalah cikal bakal didirikannya kota Pontianak,” ujar Nur, kepada Cendana News, belum lama ini.
Provinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Barat, beribukota Pontianak yang terletak tepat di garis Khatilistiwa. Penduduk aslinya adalah berbagai suku dayak. Yaitu, Dayak Embaloh, Iban, Taman, Punan, Kayan, dan Kendayan. Sedang kaum pendatang, antara lain, suku Bugis, Melayu dan Cina, yang umumnya menetap di pesisir. Maka, khasanah budaya daerah ini memiliki corak yang sangat beragam dan menarik.
Pemandu Anjungan Kalimantan Barat TMII, Nur Hakimah. -Foto: Sri Sugiarti.
Ia menjelaskan, Istana Kadriah terdiri dari lima  ruangan pokok, yaitu anjungan, balairung, kantor, kamar kerja sultan berikut singgasana, kamar tidur sultan dan keluarganya.
Letak istana itu berada di persimpangan sungai Kapuas kecil dengan sungai Landak, tepatnya di wilayah kelurahan Kampung Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.
Daerah Seribu Sungai,  demikianlah julukan Kalimantan Barat yang resmi menjadi sebuah provinsi di Republik Indonesia pada 1 Januari 1957, berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 1956 dengan Kota Pontianak sebagai Ibukota Provinsi. Di kalimantan Barat mengalir dua sungai besar, yaitu Sungai Kapuas dan Melawi.
Sungai Kapuas adalah sungai terpanjang di pulau Kalimantan  dan di Indonesia. Urat nadi kehidupan masyarakat Kota Pontianak sangat bergantung kepada sungai Kapuas. Suku Dayak dan Melayu sebagai dua suku terbesar yang menempati wilayah provinsi Kalimantan Barat, menggunakan sungai Kapuas sebagai sandaran kehidupan,  baik untuk transportasi dan kebutuhan sehari-hari sejak zaman dahulu hingga sekarang.
Mengacu pada Kitab Negarakertagama, Kalimantan Barat atau Kalimantan Kuno, merupakan daerah taklukan Kerajaan Singasari sampai dengan era Kerajaan Majapahit yang bernama Tanjungpura. Wilayah kekuasaan Tanjungpura saat itu terbagi tiga, yaitu Mandala Borneo (Brunei), Sukadana Tanjungpura, dan Banjarmasin.
Pemerintah Hindia-Belanda atau VOC  pada 1604, masuk ke Kalimantan Barat untuk berdagang dengan Sukadna Tanjungpura. Pada 1778, Hindia-Belanda merestui Pangeran Kerajaan Banjar Syarif Abdurrahman Nur Alam yang kemudian dikenal sebagai Syarif Abdurahman Alkadrie menjadi Sultan.
Sedangkan masuknya etnis Cina di Kalimantan Barat berawal ketika Raja Panembahan Mempawah mendatangkan ribuan buruh pertambangan asal negeri Cina. Mereka mengerjakan penambangan emas di wilayahnya pada 1740.
Kemudian dilanjutkan oleh Kesultanan Sambas melalui Sultan Abubakar Kamaluddin pada 1750. Ini menambah besar komunitas etnis Cina bekerja di pertambangan emas di wilayah Kalimantan Barat.
Ragam kerajinan khas Kalimantan Barat di Anjungan Kalimantan Barat TMII, Jakarta. -Foto: Sri Sugiarti.
Pada 1775, datang seorang ahli pertambangan emas bernama Lo Fang Pak dari negeri Cina ke wilayah kesultanan Sambas. Kemudian  mendirikan sebuah kongsi atau perusahaan kerja sama bernama Kongsi Lo Fang.
Kemudian Kongsi Lo Fang bergabung dengan kesultanan Pontianak, untuk melaksanakan amanat VOC menaklukkan Negeri Mempawah sampai Sanggau.
Mengacu pada catatan sejarah tersebut, maka sejak saat itu Kalimantan Barat dihuni oleh tiga etnis besar, yaitu suku Dayak Bidayuh dari rumpun Kalimantan sebagai penduduk asli yang menempati daerah-daerah daratan sekaligus pedalaman.
Kedua, yaitu suku Melayu yang menempati daerah-daerah pesisir. Ketiga adalah etnis Cina yang menempati wilayah-wilayah pertambangan emas.
Terkait kesuksesan pemerintah kesultanan Pontianak adalah berkat tangan mumpuni para sultan. Di antaranya, Sultan Syarief  Abdurachman Alkadrie bin Sayid Habib Husein Alkadrie (1771-1808), Sultan Syarief Kasim Alkadrie bin Syarief Abdurrachman Alkadrie (1808-1819), Sultan Syarief Usman Alkadrie bin Syarief Abdurrachman Alkadrie (1819-1855).
Juga Sultan Syarief Hamid Alkadrie bin Syarief Usman Alkadrie (1855-1872),  Sultan Syarief Yusuf Alkadrie bin Syarief Hamid Alkadrie (1872-1895), Sultan Syarief Muhammad Alkadrie bin Syarief Yusuf Alkadrie (1895-1944), Sultan Syarief Thaha Alkadrie bin Syarief Usman Alkadrie (1945), dan Sultan Syarief Hamid II Alkadrie bin Syarief Muhammad Alkadrie (1945-1950).
Sumbangsih Kesultanan Pontianak bagi bangsa Indonesia diberikan oleh Sultan Hamid II atau Syarif Abdul Hamid Alkadrie, yang merancang lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda Pancasila.
“Hasil karya beliau dapat disaksikan pengunjung anjungan Kalimantan Barat TMII, dalam bentuk artikel dan dokumentasi yang tersaji dalam ruangan replika Istana Kadriah,” tandasnya.
Di sisi kanan ruangan dalam replika Istana Kadriah, juga tersaji ragam pakaian adat dan pengantin Kalimantan Barat. Yakni, dari kabupaten Ketapang, Sintang, dan kota Pontianak.
Kesemua pakaian adat dan busana pengantin berbahan kain  songket tenun tradisional melayu di daerah Sambas Kalimantan Barat. Selain itu, tersaji juga selendang Melayu.
Menurutnya, kepandaian menenun masyarakat Melayu merupakan warisan dari perjalanan melintasi pantai timur Sumatra, Riau, sampai Sulawesi Selatan. Desain tenun tradisional Melayu dipengaruhi unsur-unsur Islam yang dipadukan unsur daerah setempat.
Kain tenun Sambas Kalimantan Barat memiliki kemiripan dengan kain songket Palembang atau Riau, karena menggunakan benang emas atau perak. Sedangkan kain tenun Pontianak memiliki kemiripan dengan desain kain sarung plekat dari suku Bugis Sulawesi Selatan.
“Hiasan pada kain tenun tradisional Melayu umumnya berbentuk flora, meander, geometris, sulur daun, dan bunga dengan warna-warna yang mencolok,” ujarnya.
Dalam ruang Istana Kadriah juga terdapat alat tenun songket, lengkap dengan kain songket yang sedang dalam proses penenunan. Selain itu, dipamerkan pula replika berbagai hasil bumi Kalimantan Barat, mulai rempah-rempah, karet, hasil tambang berupa emas, bauxite, batu bara dan batu alam.
Kreasi ketrampilan tradisional juga dipamerkan, yakni berupa vas bunga, pot bunga, kendi, anyaman topi, hiasan dinding, peralatan musik dayak dan Melayu.
Di sebelah kiri bangunan replika Istana Kadriah, terdapat Tugu Khatulistiwa,  yang aslinya terdapat di Desa Batulayang, Kotamadya Pontianak. Kota Pontianak merupakan daerah dengan posisi tepat di tengah garis khatulistiwa.
Koordinatnya mengacu pada hasil pengukuran revisi Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bulan Maret 2005. Yaitu berada pada 0 derajat, 0 menit, 3.809 detik lintang utara, dan 109 derajat, 9 menit serta 19.9 detik bujur timur.
Ada pun peristiwa menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa, jelas dia, adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika matahari berada tepat di garis khatulistiwa.
Saat itu,  posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda di permukaan bumi. Hingga terjadinya peristiwa kulminasi, bayangan tugu akan menghilang beberapa detik ketika diterpa sinar matahari.
Pada saat yang bersamaan pula, bayangan benda-benda lain di sekitar tugu pun akan menghilang. Peristiwa titik kulminasi matahari tersebut terjadi dua kali dalam setahun, antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September.
Ada pun di sebelah kiri replika Istana Kardiah, berdiri rumah khas suku Melayu, yaitu Rumah Limas yang difungsikan sebagai kantor pengelola Anjungan Kalimantan Barat.
Di area anjungan ini, tepatnya pas pintu masuk terdapat sebuah bangunan menjulang tinggi bernama Rumah Adat Baluk. Rumah adat ini diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Cornelis, MH., beserta Bupati Bengkayang Drs. Jacobus Luna, M.Si., yang disaksikan oleh Direktur Utama TMII, Sugiono pada Sabtu, 8 November 2008.
Bentuk rumah adat suku Dayak Bidayuh ini sangat berbeda dari rumah adat suku-suku Dayak lain di Kalimantan Barat. Juga pada umumya suku-suku Dayak yang berada di pulau Kalimantan.
 “Rumah Adat Baluk yang aslinya berada di Kecamatan Siding, Desa Hli Buei Dusun Sebujit,” tandasnya.
Lebih lanjut dijelaskan, rumah Adat Balik digunakan untuk acara ritual tahunan setiap tanggal 15 Juni, di penghujung musim menuai padi, dan untuk menyambut musim penggarapan ladang tahun berikutnya.
Rumah adat Baluk berbentuk bundar dengan diameter kurang lebih 10 meter, ketinggian kurang lebih 12 meter. Bangunannya  ditopang sekitar 20 tiang kayu ulin,  di samping sebatang tiang yang digunakan sebagai tangga menyerupai titian.
“Tingginya Rumah Adat Baluk menggambarkan kedudukan seseorang yang harus dihormati,” jelasnya.
Dalam tradisinya, sekitar rumah adat ini sering diadakan Upacara Nyobeng. Yaitu, salah satu kegiatan ritual suku Dayak Bidayuh Sebujit Desa Hlibeui, Kecamatan Siding, yang dilakukan turun-temurun sebagai upacara adat permohonan berkat, kesejahteraan, kedamaian, ketentraman dan lainnya.
Namun upacara adat ini, sebutnya, hanya diperuntukkan bagi kaum pria, sedangkan bagi kaum wanita adalah adat budaya serupa bernama Nambok.
Tepat di samping rumah adat Baluk, tersaji replika Rumah Adat Betang atau Rumah Panjang, yang merupakan rumah adat suku Dayak pada umumnya.
“Rumah Panjang merepresentasikan filosofi suku Dayak, bahwa hidup berdasarkan kebersamaan dan toleransi untuk membentuk sebuah keutuhan,” ungkapnya.
Rumah panggung setinggi 3-5 meter, berbahan kayu ulin ini merupakan tempat berkumpulnya keluarga besar suku Dayak. Dalam rumah panjang ini, mereka melakukan kegiatan keseharian hingga kegiatan musyawarah berdasarkan kekerabatan.
Tidak mengherankan, jika ada 50 kepala keluarga suku Dayak, maka ada 50 bilik pula di dalam rumah panjang. Ini tradisi suku Dayak yang hidup berkelompok membentuk koloni-koloni berdasarkan kekerabatan sesuai sub sukunya masing-masing.
“Rumah Panjang asli suku Dayak ini masih ada di Kapuas Hulu dan Desa Saham, Kecamatan Sengah Temula, Kabupaten Landak,” kata Nur.
Rumah panjang di Desa Saham, dihuni suku Dayak secara turun-temurun dibangun pada 1875. Rumah panjang tersebut tidak kehilangan nilai eksotisnya.
Replika rumah panjang di Anjungan Kalimantan Barat menyimpan ragam busana adat masyarakat Dayak, ukiran kayu dan lukisan khas suku Dayak, alat penumbuk padi berupa lesung dan kelengkapannya.
Terdapat juga replika perahu suku Dyak yang digunakan untuk melayari sungai-sungai di daerah tempat tinggalnya. Senjata andalan masyarakat Dayak, yaitu sumpit dan pedang atau mandau tersaji di ruangan ini.
Dalam pengembangan budaya, tercermin ragam pemeluk agama di Kalimatan Barat. Yaitu, agama Kristen, Katholik dan Protestan, yang dipeluk oleh suku-suku Dayak, sebagian suku Melayu, dan pendatang etnis Cina, Batak, dan sebagian pendatang dari Jawa.
Agama Islam dipeluk oleh suku Melayu sebagai suku kedua terbesar di Kalimantan Barat. Juga dipeluk oleh pendatang Minangkabau, Jawa, Madura, Banjar, dan sebagian Batak serta suku Dayak. Sedangkan agama Buddha dipeluk oleh etnis Tionghoa, dan Hindu hanya dipeluk oleh para pendatang dari Bali.
Pembauran ini memperkuat filosofi rumah panjang dari penduduk asli Kalimantan, yaitu  suku Dayak. Mereka memaknai  hidup berdasarkan kebersamaan dan toleransi.
Begitu juga dalam seni tari khas Kalimantan Barat. Meskipun didominasi oleh tarian suku Dayak sebagai suku asli. Namun menurutnya, semua masyarakat Pontianak bisa menempatkannya sebagai sebuah warisan berharga peradaban yang harus dilestarikan  sebagai satu kesatuan suku bangsa.
Di antara seni tari warisan tersebut, adalah tari Monang atau Manang. Ini merupakan tari penyembuhan yang terdapat pada seluruh masyarakat Dayak. Tarian ini berfungsi sebagai penolak, penyembuh, dan penangkal penyakit, agar Si penderita dapat sembuh kembali.
Penari berlaku seperti dukun dengan jampi-jampi. Tarian ini juga merupakan bagian dari upacara adat Bemanang atau Balian.
Tari Pingan, merupakan tarian tunggal pada masyarakat Dayak Mualang Kabupaten Sekadau. Pada masa lalu, tarian ini sebagai bagian dari upacara, namun sekarang dijadikan sebagai tari hiburan masyarakat atas rezeki yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tarian kebudayaan leluhur yang berkaitan erat dengan ritualisme legitimasi kelulusan bela diri tradisional Dayak Mualang. Ada juga tari pedang atau Ajat Pedang, yakni tarian tunggal Dayak  Mualang, menceritakan persiapan membela diri bagi seorang pemuda.
Selanjutnya, tari Uut Danum, dengan gerakan yang memperlihatkan kelincahan dan kewaspadaan dalam menghadapi musuh. Sedangkan tari Zapin khas masyarakat Melayu, Kalimantan Barat, yang diadopsi dari Timur Tengah.
Dalam pelestarian ragam tarian  tersebut, dituangkan oleh Sanggar Borneo Khatulistiwa Diklat Seni Anjungan Kalimantan Barat TMII.
Untuk menarik pengunjung lebih banyak lagi, Nur berharap ada inovasi gelaran seni budaya di anjungan ini, dengan dukungan semua elemen, khususnya pemerintah daerah (Pemda) Kalimantan Barat. Selain itu, juga para komunitas masyarakat Kalimantan Barat yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya.
Kegiatan bisa dengan gelaran seni budaya dan pameran produk lokal khas Kalimantan Barat, agar lebih dikenal masyarakat luas.
Menurutnya, TMII sebagai perekat kebudayaan dan kebhinekaan bangsa Indonesia, adalah wahana ideal bagi masyarakat Indonesia yang ingin mengetahui, seperti apa perjalanan panjang Kalimantan Barat dalam pelestarian budaya.
Baca Juga
Lihat juga...