hut

Berkat Motivasi Pak Harto, KAREB Sukses Mengambil Alih BUMN

Oleh Mahpudi, MT

Catatan redaksi:

Dalam catatan Incognito Pak Harto seri ke-29 yang kami turunkan ini, bertepatan dengan peringatan Haul Wafatnya Pak Harto pada 18 Muharram tahun Hijriah. Dalam momentum yang cukup muram ini, redaksi cendananews.com selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto di 2012. Ekspedisi yang dilakukan oleh sebuah tim dari YHK yang terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan). Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan Diam-Diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak. Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada 1970 ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Tim Ekspedisi Napak Tilas Incognito Pak Harto memasuki kota Bojonegoro, Jawa Timur,  pada 8 Juni 2012. Foto-foto dari album Incognito Pak Harto, mengarahkan kami ke sebuah pabrik pengeringan tembakau yang sangat terkenal di kota ini. Ketika kami bertanya kepada penduduk setempat, dan tim akhirnya diarahkan ke Jalan Basuki Rahmat, di mana sebuah komplek bangunan pabrik pengeringan tembakau berada. Penduduk setempat lebih mengenalnya sebagai Pabrik KAREB.

KAREB merupakan singkatan dari Karyawan Redryng Bojonegoro. Itu nama Koperasi. Pak Sasmito yang menyambut tim dan mengantar kami berkeliling pabrik, banyak berkisah tentang koperasi KAREB, serta hubungannya dengan Pak Harto. Menurut Sasmito, Koperasi KAREB didirikan pada tahun 1976 oleh para karyawan dari perusahaan pengeringan tembakau di wilayah Bojonegoro, Jawa Timur.

Pak Harto saat meninjau pabrik pengeringan tembakau di Bojonegoro – Foto Istimewa

Pendirian KAREB tak lepas dari dorongan Pak Harto yang mengunjungi secara Incognito ke Bojonogero pada 24 Juli 1970. Kala itu, di kota Bojonegoro, terdapat sebuah pabrik pengeringan tembakau (redryng) yang menghasilkan tembakau kering berkualitas dunia.

Pada kesempatan Incognito tersebut, Pak Harto berbincang-bincang dengan para pekerja di pabrik redryng. Sang Jenderal besar menyaksikan langsung, betapa potensi industri tembakau Bojonegoro, ternyata mampu memberikan penghidupan lebih baik, bagi warga setempat. Berangkat dari kenyataan tersebut, pemerintah kemudian mempersiapkan langkah strategis bagi industri ini, dalam wadah badan usaha milik negara, berbentuk Perusahaan Umum. Maka, di 1971, Perusahaan pemerintah berdiri dengan nama Perum Pengeringan Tembakau Bojonegoro (PPTB).

Setelah perusahaan tersebut berdiri, Pak Harto menyarankan agar karyawan setempat mengorganisasi diri dalam wadah koperasi. Menurut Pak Harto, para karyawan yang mampu mengorganisasi diri dalam koperasi, kelak dapat memenuhi kebutuhan ekonominya secara bergotong royong, bahkan suatu ketika bisa mengambil alih PPTB. Saat itu, koperasi memang belum tumbuh berkembang. Namun, Pak Harto percaya, koperasi dapat diandalkan sebagai sokoguru perekonomian bangsa Indonesia, sebagaimana digariskan oleh para pendiri bangsa. Saran ini ditindaklanjuti oleh 76 karyawan PPTB, yang pada 1976 berhasil mengumpulkan modal sebesar Rp1 juta, guna membentuk koperasi yang diberi nama KAREB.

Pak Harto saat berkunjung ke PPTB – Foto Istimewa

Dalam perjalanannya, Koperasi KAREB berkembang pesat, dan mendapat pengesahan sebagai badan hukum pada 1979. Jumlah anggotanya pun meningkat, seiring dengan semakin banyaknya karyawan PPTB, mengingat bisnis tembakau mereka luar biasa pesat. Usaha koperasi pun tak hanya simpan pinjam, melainkan berkembang ke berbagai usaha lain. Bahkan, dalam perkembangan terakhir, KAREB juga memiliki jasa pengangkutan dan sejumlah minimarket.

Suatu waktu, memasuki 1990-an, PPTB pernah mengalami kesulitan ekonomi. Sementara itu, pada saat bersamaan, Departemen Keuangan menerbitkan kebijakan untuk melepas BUMN yang dianggap kurang menguntungkan, termasuk PPTB. Untuk menghindari terjadinya PHK atas 300 karyawan PPTB yang notabene adalah anggota koperasi, maka, KAREB mengambil inisiatif untuk membeli PPTB dengan pola pembayaran diangsur selama lima tahun. Inisiatif tersebut tentu saja mendapat dukungan dari Pemerintah. Di tangan KAREB, ternyata, usaha pengeringan tembakau kembali bangkit dan menangguk sukses.  PPTB yang semula di ambang kebangkrutan, justru di tangan KAREB, bisa kembali bangkit dan menjadi mesin ekonomi kebanggaan warga Bojonegoro.

Kisah keberhasilan KAREB ini, sekaligus membuktikan, bahwa koperasi, jika ditangani dengan baik, seperti yang selalu disampaikan oleh Pak Harto dalam berbagai kesempatan, mampu menjadi pilar ekonomi suatu bangsa, bahkan bisa mengambil alih BUMN sekalipun.***

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

»
escort99.com