Bernilai Ekonomis, Warga Penengahan Lestarikan Pohon Penahan Erosi

Editor: Mahadeva WS

154

LAMPUNG – Warga sejumlah desa di Kabupaten Lampung Selatan masih mempertahankan keberadaan pohon perindang yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka. Tanaman yang masih dipertahankan diantaranya pohon Randu atau Kapuk (Ceiba pentandra), Mahoni (Swietenia), Kemiri (Aleurites moluccanus) serta sejumlah pohon lain.

Jumini (60), salah satu warga di Desa Banyuurip, Kecamatan Penengahan menyebut, semua pohon tersebut banyak tumbuh dari biji. Setelah benih tumbuh, dilakukan pemindahan ke lokasi tertentu seperti untuk pagar lahan pertanian dan sawah.

Jumini menyebut, jenis pohon randu sangat mudah dikembangkan, karena bisa menggunakan sistem stek batang. Rabdu kerap ditanam di tepi aliran sungai yang rawan longsor dan tepian sawah. Setelah tumbuh besar, pohon kapuk randu dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ternak kambing, saat terjadi kelangkaan pakan.

Pohon randu tua, dijual sebagai bahan papan cor proyek pembangunan. “Tanaman randu kapuk awalnya digunakan untuk tanaman pagar, namun bisa tumbuh hingga besar menghasilkan buah kapuk, kalau sudah tidak menghasilkan ditebang untuk papan cor,” terang Jumini, Rabu (3/10/2018).

Jumini menunjukan kapuk yan dikumpulkannya – Foto Henk Widi

Jumini memiliki puluhan pohon randu kapuk, yang pada awalnya ditanam untuk pembatas lahan pertanian. Setelah besar, pohon tersebut mulai menghasilkan buah dan tumbuh menyebar di lahan yang dimilikinya. Tanaman yang terbawa angin menyebar di tepi jalan, tepi sungai dan tumbuh secara alami. Pohon randu kapuk ditanam dengan jarak lima meter, menyesuaikan jangkauan maksimal tajuk tanaman.

Pohon randu kapuk yang ditanam, menurut Jumini, efektif menahan longsor di lahan miring. Tanaman randu yang semula dijadikan pagar, kini tumbuh berjajar dengan sistem perakaran yang kuat. Sebagian sudah berusia puluhan tahun, dan di lokasi tersebut muncul sumber mata air, yang dipertahankan hingga kini.

Sumber air tersebut bisa memasok kebutuhan air bersih saat musim kemarau. “Sebagai tanaman yang kokoh dengan perakaran kuat, pohon randu kapuk sengaja ditanam karena manfaat mencegah longsor, terutama selama musim hujan,” beber Jumini.

Jumini menyebut, kapuk randu juga digunakan sebagai bahan pengisi kasur dan bantal. Selain sebagai tanaman untuk konservasi lingkungan, Jumini mendapatkan uang tambahan dari menjual randu kapuk. Randu kapuk dibeli oleh perajin kasur dengan harga Rp5.000 perkilogram dalam kondisi masih berbiji dan seharga Rp10.000 dalam kondisi bersih dipisahkan dari kulit dan biji.

Dewi (31), perajin kasur, bantal menyebut, membutuhkan sekitar satu ton kapuk perbulan, untuk membuat kasur dan bantal. Keberadaan pohon randu kapuk di wilayah Penengahan, membuat usaha pembuatan kasur dan bantal yang dilakukannya masih bisa memasok kebutuhan. Sebagian kapuk didatangkan dari wilayah Talangpadang, Kabupaten Tanggamus dan sejumlah daerah lain.

Dewi mengaku bermitra dengan sejumlah petani untuk mendapatkan pasokan kapuk. Perkuintal kapuk bisa menghasilkan Rp500 ribu atau Rp5 juta untuk persatu ton kapuk kotor yang belum dibersihkan. Pohon randu masih bisa menghasilkan terutama saat puncak masa panen di September hingga Oktober.

Yono memperlihatkan pohon Mahoni yang ditanam sebagai tanaman konservasi dengan hasil buah bisa dijual sebagai bahan obat [Foto: Henk Widi]
Tanaman lain yang ditanam warga untuk kebutuhan konservasi diantaranya Mahoni dan Kemiri. Yono (34), salah satu warga Desa Pasuruan menyebut, mempertahankan pohon Mahoni dan Kemiri di pekarangan dan kebun miliknya. Mahoni menghasilkan buah yang bisa dimanfaatkan sebagai obat herbal, sementara kayunya bisa diolah menjadi bahan bangunan.

Buah Mahoni dengan ciri khas rasa pahit, meranggas pada bulan September dan bersemi pada bulan Oktober. Penanaman Mahoni dilakukan sebagai penahan longsor dan peneduh di sejumlah akses jalan desa. Buah Mahoni saat ini perkilogram dihargai Rp75.000. Pohon Kemiri cocok tumbuh di dekat aliran air sungai. “Pohon kemiri yang ditanam di dekat aliran sungai sebagai penahan longsor saat banjir saat berbuah juga bisa dimanfaatkan buahnya sebagai bumbu,” beber Yono.

Buah kemiri dalam kondisi utuh, bisa dijual Rp25.000 perkilogram, sementara yang sudah dikupas laku Rp30.000 perkilogram. Bulan Oktober disebut Yono menjadi masa berbunga pohon kemiri, sehingga diprediksi bisa dipanen saat awal tahun mendatang. Pohon kemiri dengan ciri khas pohon berakar kokoh, menjadi tanaman konservasi penahan longsor, membantu peresapan air.

Baca Juga
Lihat juga...