BKSDA Bogor Buru Tiga Ekor Buaya

Editor: Satmoko Budi Santoso

292

BEKASI – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah I Bogor, melakukan pengupayaan penangkapan buaya Sungai Cileungsi, di Desa Bojongkulur Kecamatan Gunungputri Kabupaten Bogor. Kemunculan tiga ekor buaya itu meresahkan warga di bantaran sungai, Jumat (5/10/2018).

Hingga pukul petang, tim BKSDA dibantu, tim Tagana, Kampung Siaga Bencana (KSB) dan relawan KP2C, terus memburu buaya yang tiga hari terakhir kerap muncul tepatnya, kampung Villa Nusa Indah 2, RW 23, Desa Bojongkulur, dan di bawah jembatan perbatasan Bekasi-Bogor.

“BKSDA sudah mendapat laporan sebulan lalu. Tetapi baru ini, ada waktu. Dan karena keterbatasan tim, maka BKSDA melibatkan Tagana, Relawan KSB dan DLH Kota Bekasi,” ungkap Polisi Hutan BBKSDA Wilayah I Bogor, Sudrajat.

Kepala BKSDA Bogor Sudrajat – Foto Muhammad Amin

Dikatakan, pemburuan untuk segera menangkap tiga buaya dalam rangka mendukung rencana pembersihan serentak Sungai Cileungsi sampai Bekasi pada 26 Oktober 2018 mendatang.

“Jadi saat pelaksanaan pembersihan Sungai Cileungsi-Bekasi, kondisi sudah steril dari hewan liar seperti buaya. Karena pembersihan serentak itu informasinya akan melibatkan TNI-Polri dan semua komponen lainnya,”papar Sudrajat, yang mengaku akan melakukan pemburuan sampai buaya tertangkap.

Menurutnya, tiga buaya yang sudah terlihat di Sungai Cileungsi itu jenis buaya porosua atau buaya air tawar. Jenis itu, jelas Sudrajat tidak membahayakan, tetapi namanya juga hewan buas tentu dikhawatirkan.

Di sela-sela perburuan BKSDA juga mendapatkan seekor monyet milik warga yang sudah mulai membahayakan warga sekitar. Oleh pemiliknya, monyet tersebut diserahkan ke BKSDA untuk di karantina.

“Selama 2018, sudah sejumlah monyet yang diserahkan ke BKSDA. Kalau buaya, baru empat ekor, semua jenis buaya air tawar. Terakhir di Desa Babakan Madang, belakang Sentul Bogor, beratnya sampai 200 kilogran panjang 3 meter lebih,” kata Sudrajat.

Untuk binatang lain, lanjutnya, ada juga seperti Kukang, butung elang, dan lainnya. Semua hewan yang telah dikembalikan ke BKSDA dititipkan di konservasi penyelematan satwa di Nyelindung Sukabumi. Untuk dilakukan rehabilitasi.

“Setelah sifat liarnya timbul lagi, baru dilepas di habitatnya. Seperti di kawasan Ujung Kulon atau ditempat lain yang layak, biasanya di kawasan suaka alam,” pungkas dia.

Hingga berita ini dibuat, pemburuan masih berlangsung. Berbagai upaya dilakukan untuk menangkap hewan air tawar itu. Terlihat tim Tagana sudah menurunkan perahu karet, serta perlengkapan lain untuk memburu buaya.

Baca Juga
Lihat juga...