BMKG: Iklim Ekstrim Indonesia Dipengaruhi Kenaikan Suhu Global

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

179

JAKARTA — Beberapa bencana yang terjadi di Indonesia beberapa waktu belakangan ini, seperti kebakaran hutan, kekeringan, banjir berkaitan dengan naiknya suhu global.

Kasubid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Siswanto M.Sc menyampaikan, dalam hasil penelitiannya yang sudah diterbitkan di International Journal of Climatology pada tahun 2015, berdasarkan data 135 tahun, sudah terjadi kenaikan suhu sebesar 1,6 derajat Celcius pada rentang 1866 hingga 2010.

Kasubid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto M.Sc. Foto: Ranny Supusepa

“Secara teori, pemanasan 1 derajat Celcius pada ruang atmosfer bumi dapat menambahkan kapasitas tangkap atmosfer terhadap uap air dan menambahkan tujuh persen energi penggerak siklus air di permukaan dan atmosfer bumi,” kata Siswanto pada Cendana News, Kamis (11/10/2018).

Artinya, iklim akan berkecenderungan menjadi lebih basah pada saat musim hujan dan lebih kering pada musim kemarau. Inilah yang mendorong kejadian alam yang ekstrim terjadi, apakah itu berkaitan dengan hujan ekstrem maupun kurangnya air hujan di beberapa wilayah.

“Bencana banjir, longsor, kekeringan, kelangkaan air dan kebakaran hutan bisa terjadi silih berganti,” tambahnya.

Siswanto juga menyatakan bahwa pada periode 1751 hingga 2010, tren akumulasi karbon dioksida global sudah menyentuh sekitar 2.009 gigaton, dan 1.500 gigaton merupakan sumbangan dari negara-negara Asia.

“Berdasarkan beberapa laporan, Indonesia masuk dalam 10 emiter terbesar dunia dari sisi deforestasi dan perubahan tata guna lahan. Hingga tahun 2005, Indonesia sudah menyumbang sekitar 1,8 gigaton dan diproyeksikan akan meningkat ke angka 2,95 gigaton pada tahun 2020,” ujar Siswanto.

Selain perubahan iklim, fluktuasi iklim juga terkait dipengaruhi oleh anomali iklim seperti El Nino yang berdampak di Indonesia, Siswanto menyampaikan, dapat dilihat dari awal musim hujan yang berbeda di wilayah Indonesia.

Ada yang terjadi lebih awal, sama atau lebih lambat dari waktu normal yang didasarkan pada rata-rata klimatologis selama 30 tahun.

“Menurut prediksi musim hujan BMKG akhir 2018 ini, ada 8,8 persen wilayah di Indonesia yang maju dari waktu normal, 22,8 persen sama dan 68,4 persen mengalami kemunduran awal musim hujan,” kata Siswanto.

Data BMKG menunjukan pada September, ada 2,4 persen wilayah Indonesia yang sudah memasuki musim hujan, seperti Aceh Tengah, Kota Payakumbuh, Solok, Bogor Selatan Bagian Timur, daerah sekitar Gunung Bromo, Sigi, Tolikara bagian Selatan, Yahukimo bagian utara dan Puncak Jaya.

“Pada Oktober ada 23,8 persen yang kita perkirakan sudah masuk awal musim hujan. Yaitu bagian timur Pulau Sumatera, bagian timur hingga selatan Pulau Kalimantan, sebagian kecil wilayah Sulawesi, bagian utara Kepulauan Maluku dan bagian tengah Pulau Jawa,” papar Siswanto.

Pada November, wilayah yang diprakirakan memasuki awal musim hujan akan semakin besar, yaitu 44,8 persen. Meliputi sebagian besar Jawa, beberapa wilayah di Palembang dan Lampung, Bali, Nusa Tenggara, beberapa titik di Sulawesi dan Papua serta beberapa daerah di Kalimantan Timur.

“Salah satunya seperti berita di Langkat yang mengalami curah hujan tinggi. Itu memang sudah diprakirakan. Jika musim hujan terjadi, sebagai akibat perubahan suhu global, maka saat musim hujan akan semakin basah. Langkat memang termasuk daerah yang sudah masuk awal musim hujan di September,” ucap Siswanto saat ditunjukkan berita Cendana News tentang curah hujan tinggi di Langkat.

Puncak musim hujan 2018/2019 menurut Siswanto diprediksi akan terjadi pada Januari hingga Februari 2019.

“Kami dari BMKG mengimbau pada pemerintah pusat dan daerah serta instansi terkait dan masyarakat perlu waspada terhadap risiko dampak yang ditimbulkan terutama untuk daerah-daerah rentan bencana yang ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi, seperti banjir, tanah longsor, genangan, angin kencang hingga puting beliung,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...