BPET MUI, Tangkal Radikalisme

Editor: Satmoko Budi Santsoo

266

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) membentuk Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET MUI) dengan tujuan untuk menanggulangi terorisme dan radikalisme.

Menurut Wakil Ketua Umum MUI, Zainud Tauhid Sa’adi, badan itu merupakan bentuk kelanjutan dari tim penanggulangan terorisme MUI yang telah dibentuk 2003 lalu dan bersifat adhoc.

“BPET MUI berperan menyusun kerangka konstruksi pemikiran mencegah dan menanggulangi terorisme dan radikalisme,” kata Zainut pada seminar nasional bertajuk “Penanggulangan Bahaya Radikalisme dan Ekstremisme di Indonesia” di Hotel Lawansa, Jakarta, Rabu (3/10/2018).

BPET MUI sebutnya, memiliki peran lebih jauh guna melakukan upaya pelurusan pemahaman keagamaan terhadap ajaran dan makna jihad.

Umat Islam perlu disadarkan kembali tentang ajaran dan makna jihad yang benar sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW dan dijelaskan oleh para ulama sepanjang zaman.

Dalam peran BPET, MUI menetapkan paradigma khidmat guna terwujudnya Islam wasathiyah di Indonesia dengan pemahaman moderat.

MUI telah melakukan berbagai langkah dalam rangka penanggulangan perilaku intoleran, ekstrem dan radikal. Munculnya perilaku intoleran, ekstrem dan radikal di masyarakat dilandasi oleh ketidaktahuan dan pemahaman yang keliru tentang ajaran keagamaan Islam.

“Kehadiran MUI dilandasi oleh keterpanggilan dan tanggungjawab keagamaan,” ujar Zainud.

MUI pada tahun 2003 melalui Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tahun 2003 menetapkan fatwa tentang terorisme. Terorisme telah ditetapkan sebagai tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat.

“Terorisme merupakan salah satu bentuk kejahatan terorganisir bersifat transnasional dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa yang tidak membeda-bedakan sasaran,” tegasnya.

MUI, lanjut dia, sangat menyadari, bahwa tantangan masa depan bangsa akan semakin kompleks, khususnya dalam menangani dan menanggulangi perilaku intoleran, ekstrem dan radikal yang berkembang di masyarakat.

MUI melakukan penguatan pada aspek substansial dan organisasional dengan mendirikan BPET ini. Dimana badan ini menurutnya, berupaya akan melaksanakan perannya melalui kegiatan diskusi, seminar, dan sosialisasi yang menyentuh hulu, memberikan pemahaman tentang Islam.

“Pengenalan apa itu radikalisme, ekstremisme, dan perilaku intoleran. Saat ini, ketiga sikap tersebut merebak seiring perkembangan zaman dan teknologi,” jelasnya.

Upaya lewat hulu ini akan melibatkan anggota MUI, akademisi, perguruan tinggi, dan sekolah-sekolah, baik tingkat menengah atas (SMA), menengah pertama (SMP), dan sekolah dasar (SD).

BPET MUI juga akan menyosialisasikan bahaya penyerapan akses informasi hoaks yang menyebar di masyarakat luas melalui media sosial (medsos). Sebab menurutnya, informasi atau berita hoaks juga dapat menimbulkan paham radikal, ekstrem, dan perilaku intoleran.

Saat ini, menurutnya, generasi milenial erat dengan teknologi canggih, semisal smartphone dan internet. Era milenial, juga muncul perilaku seperti agresi, mudah tersulut emosi, atau bahkan menyerang orang lain.

Yang dikhawatirkan, sebut dia, apakah generasi milenial ini bisa menyaring informasi dengan baik. Sehingga hal ini menjadi tantangan untuk semua elemen bangsa.

“Terpengaruh berita hoaks ditambah pemahaman keyakinan dapat mendorong seseorang berperilaku intoleran yang membangkitkan paham radikal dan ekstrem,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...